Google

Rabu, 06 Januari 2010

Serat Sabda Palon Naya Genggong















( Pupuh Sinom )

1. Pada sira ngelingana
Carita ing nguni-nguni
Kang kocap ing serat babad
Babad nagri Mojopahit
Nalika duking nguni
Sang-a Brawijaya Prabu
Pan Samya pepanggihan
Kaliyan Njeng Sunan Kali
Sabda Palon Naya Genggong rencangira

(Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit, Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.)

2. Sang – a Prabu Brawijaya
Sabdanira arum manis
Nuntun dhateng punakawan
“Sabda palon paran karsi”
Jenengsun sapuniki
Wus ngrasuk agama Rosul
Heh ta kakang manira
Meluwa agama suci
Luwih becik iki agama kang mulya

(Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya: “Sabda palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu. Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik)

3. Sabda Palon matur sugal,
“Yen kawula boten arsi,
Ngrasuka agama Islam
Wit kula puniki yekti
Ratuning Dang Hyang Jawi
Momong marang anak putu,
Sagung kang para Nata,
Kang jumeneng Tanah Jawi,
Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.

(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se-tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah)

4. Kelawan Paduka sang Nata,
Wangsul maring sunya ruri,
Nung kula matur petungna,
Ing mbenjang sakpungkur mami,
Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Budha kula sebar tanah Jawa.

(Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun dari sekarang, saya akan mengganti agama Budha lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.)

5. Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajeken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen during lebur atempur,
Kula damel pratandha,
Pratandha tembayan mami,
Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.

(Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)

6. Ngidul ngilen purugina,
Ngganda banger ingkang warih,
Nggih punika medal kula,
Wus nyebar Agama Budi,
Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata,
Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.

(Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.)

7. Sanget-sangeting sangsara,
Kan tuwuh ing tanah Jawi,
Sinengkalan tahunira,
Lawon Sapta Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali,
Prapta tengah-tengahipun,
Kaline bajir bandhang,
Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

(Kelak waktunya paling sengsara di tanah jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesti Aji (1.878 atau 1.877). Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang ditengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)

8. Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi,
Ginawe kang paring gesang,
Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki,
Wonten ing sakwasanipun,
Sadaya pra Jawata,
Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti anak akng akarya.


(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

9. Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawa,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh serna aneng wana,

(Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.)

10. Bumi ilang berkatira,
Ama kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
Pan sisaknya nglangkungi,
Karana rebut rinebut,
Risak tetaning janma,
Yen dalu grimis keh maling,
Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

(Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang mnyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tetapi bila siang hari banyak begal.)

11. Heru hara sakeh janma,
Rebutan ngupaya bukti,
Tan ngetang angering praja,
Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung,
Lelara ngambra-ambra.
Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.

(Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan Negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.)

12. Kasandung wohing pralaya,
Kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa,
Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami,
Tinempuhing angina angun,
Katah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,
Lamun tinon pan kados samodra bena.

(Bahaya penyakit luar biasa. Disana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir, sehingga bila dilihat persis lautan pasang.)

13. Alun minggah ing daratan,
Karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan,
Kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir,
Samya kentir trusing laut,
Sela geng sami brasta,
Kabalebeg katut keli,
Gumalundhung gumludhug suwaranira.

(Seperti lautan meluap arinya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri, Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan bergemuruh suaranya.)

14. Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggeririsi,
Gumleger suwaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angelelebi,
Nrajang wana lan desagung,
Manugsanya keh brasta,
Kebo sapi samya gusis,
Surna gempang tan wenten mangga puliha.

(Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap kekanan serta kekiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.)

15. Lindu ping pitu sedina,
Karya sisahing sujanmi,
Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh,
Kathah kang nandhang roga,
Warna-warni ingkang sakit,
Awis waras akeh kang praptng pralaya,

(Gempa bumi 7 kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia masuk ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.)

16. Sabda Palon nulya mukswa,
Sakedhap boten kaeksi,
Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati,
Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun,
Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat itu sayekti tan kena owah.

(Demikian kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin dirobah lagi.)

37 komentar:

Anonim mengatakan...

Mohon maaf sebelumnya, saya sekedar ingin sharing sanepa "Lawon Sapto Ngesthi Aji".
Lawon = 2
Sapto = 7
Ngesthi = 9
Aji = 1
Dalam sanepa Jawa itu menandakan tahun Saka Jawa 1972 = 2039 tahun Masehi.

Maturnuwun,
Ki Condromukti

kejawen mengatakan...

Matur sembah nuwun dhumateng ralat panjenengan.

Radiogsr Magetan Jatim mengatakan...

Manteb nembe kepanggih web panjenengan siang meniko, salam tetepangan saking kulo Rahmad Widiyono saking Radiogsr Magetan Jatim

hendro mengatakan...

salam kenal

coba kita belajar sejarah dari awal lagi
catatan mengenai jawa dwipa ada setelah adanya pendatang dari india ke kutai dan jawa tengah dg mendirikan kerj salakanagara
sebelum itu tak ada catatan jawa dwipa. kita tak tau apa agama/keyakinan orang jawa sblm itu, mungkin animisme/dinamisme.
nah stl orang india itu datang baru ada catatan sejarah bahwa mereka membawa suatu ajaran baru yaitu hindu dan dilanjutkan dengan buda. kalau selama ini anda mengatakan agama/ keyakinan nenek moyang kita orang jawa ini dan itu atas dasar apa? dari catatan sejarah yang ada bahwa agama / keyakinan yang ada (hindu, buda islam, kristen) adalah semua agama/keyakinan pendatang, termasuk kejawen yang berkembang sekarang adalah selalu ada pengaruh dari semua keyakinan tersebut diatas. jadi tak bisa ada yang mengklaim ini keyakinan asli nenek moyang kita orang jawa, karena tak ada catatan yang pasti mengenai itu. semua budaya yang berkembang dari dulu sampai sekarang di tanah jawa ya hasil pengaruh oleh keyakinan pendatang semua. saya tanya : agama hindu lahir dimana? agama buda lakhir dimana? juga islam, kristen, lahir dimana? darmo gandul kapan munculnya? tahun berapa? apakah sebelum hindu dll? apa stl Hindu dll? kalau sblm hindu dll tahun berapa lahirnya? darmo gandul kan hanya cerita bahwa si A bertanya pada si B, dan si B juga Katanya dari si C, nah si C dari siapa? apakah si C hasil bertapa? dapat bisikan dari setan, malaikat atau ada yang mengaku tuhan? lalu siapa tuhannya? kalau hyang widi wase itumah tuhannya orang hindu? berarti tuhannya orang pendatang juga? coba agama asli orang jawa apa dong? apa masih ada yang mengklaim ini agama asli nenek moyang kita? emang kita orang india? Matur nuwun

Anonim mengatakan...

hindu jawa beda dengan hindu india, dan dua2nya merupakan ajaran yg tumbuh dari kebudayaan/ kebiasaan masyarakatnya. ( budaya awal yg kemudian dianggap sebagai agama di jaman sekarang )

peradaban dan kebudayaan jawa ini sudah ada berbarengan dengan peradaban di india sekitar 10.000 tahun yg lalu.

mereka mengutamakan budhi ( bukan agama budha).


baru setelah 5000th kemudian datang kebudayaan2 asing dan agama2 asing

Anonim mengatakan...

Saatnya sabda palon menepati janjinya dimana merapi telah agung dengan mengambil jalan ke barat daya selatan jalur yang tidak biasanya. Sumonggo

Anonim mengatakan...

saya sependapat dengan sabda palon. itu memang benar adanya, agama hindu kejawen atao pun hindu buda yang ada di bali berbeda dgn agama hindu di india. dari dulu sudah ada berkembang seprti / sama hal nya dgn di india berdasarkan prasasti. jadi salah jika beranggapan hindu kejawen atau bali berasal dari india. dan ini tdk sama dgn islam yang datang dari timur tengah.
kita tdk boleh menutup mata kerajaan dgn masyarakat hindu buda di tanah air telah membuktikan bahwa kemakmuran dan kejayaan hingga kerajaan tanah air sper mojopahin sriwijaya dll bisa menaklukkan nusantara bahkan kawasan asia tenggara sekarang. namun setelah datang pengaruh dari timur tengah perlahan kerajaan yang berganti keyakinan ini mengalami kemunduran dan runtuh. itu menandakan memang budaya tdk cocok diterapkan di tanah air. lihatlah sekarang.... dan marilah bersama2 menunggu sabda palon dan biarkanlah alam yang berbicara.
mari berdoa bersama sehingga proses perubahan ini berjalan lancar tanpa hambatan

Anonim mengatakan...

kita tidak tw apa yg sebenarnya. . .
cukup mengikuti perkembangan yg ada. . .
jangan menimbulkan pertanyaan yg melihatkan perbedaan.. .
prcya saja dengan keyakinan masing masing. . .

Anonim mengatakan...

kita tidak tw apa yg sebenarnya. . .
cukup mengikuti perkembangan yg ada. . .
jangan menimbulkan pertanyaan yg melihatkan perbedaan.. .
prcya saja dengan keyakinan masing masing. . .

HIFY - COMP Sidareja mengatakan...

Menyimak serat diatas, hal itu bisa saja terjadi dan bisa saja salah atau tidak terjadi. Yang jadi masalah adalah, apakah kita yakin atau tidak dengan sabda tersebut? itu tergantung kepada masing-masing individu, dan saya kira yakin dan tidaknya seseorang bukan menjadi masalah dalam hal ini, yang jelas dengan adanya serat semacam ini menunjukan betapa kaya dan luasnya khasanah kebudayaan tanah jawi yang dapat dijadikan start point untuk masa depan yang lebih mulia. Nuwun.

Anonim mengatakan...

Manusia berulah manusia menuai, sabda palon ada benarnya, Tapi diatas segalanya Allah SWT maha tahu, Suhanallah.

Yudhia juice mengatakan...

Jo Bali Jo
Jowo Bali Nang Jowo
Relax sejenak berfikir positive tenang aja Indonesia pasti Jaya
kunjungi blog saya:
http://tourculinaryexplorer.blogspot.com/

Bhagawan Dwija mengatakan...

Bhagawan Dwija, Bali
Mbah Marijan pernah ketemu saya tahun 2005. Beliau mendapat pawisik bahwa sosok Sabdapalon Nayagenggong setelah peristiwa di Blambangan itu kemudian "menghilang" dan pergi ke Bali. Di Bali beliau dikenal sebagai "Pedanda Sakti Wawu Rawuh" (= pendeta sakti yang baru datang). Mbah Marijan bertanya kepada saya, siapakah Pedanda sakti itu. Saya menjawab bahwa Pedanda Sakti itu di Bali dikenal abhiseka (bernama) Ida Danghyang Nirartha. Beliau datang di Bali pada zaman Dalem (Raja) Waturenggong bertahta di Gelgel dari tahun 1460 s/d 1550. Pawisik yang diterima Mbah Marijan itu menjadi bahan kajian, karena dalam Babad Danghyang Nirartha tidak ditemukan uraian tentang riwayat beliau di Majapahit. Dalam Babad hanya diceritrakan riwayat beliau mula-mula datang ke Bali, menyeberang dari Blambangan hanya menggunakan perahu yang dibuat dari sebuah buah labu, mendarat di pantai Purancak (wilayah kabupaten Jembrana). Para sepuh/rohaniawan di Jawa, kini saya mengusulkan meneliti hal ini, untuk pengetahuan kita bersama.

Anonim mengatakan...

ane sih percaya sama ramalan nabi Muhammad SAW..imam mahdi dan nabi isa alaihisalam akan menghancurkan musuh musuh islam..dan kalimat tauhid akan tegak di alam ini...ALLAHUAKBAR

Anonim mengatakan...

Apapun itu, semua sudah ditakdirkan
siapa yang dapat menghentikan lahar???
siapa yang dapat menghentikan tsunami???
siapa yang dapat menghentikan gempa bumi???
siapa yang dapat menghentikan gunung meletus???
siapa yang dapat menghentikan alam???
bahkan Sang Raja pun hanya bisa diam termenung dalam sesalnya...
hanya tinggal menunggu waktu

Anonim mengatakan...

KAMI ORANG INDONESIA YANG BANGGA AKAN KEJAYAAN NUSANTARA, KAMI BERHARAP ITU AKAN KEMBALI LAGI

Anonim mengatakan...

hendaknya apa yang tersirat dari ramalan sapdopalon naya genggong itu bisa dijadikan kajian atau analisa kita manusia modern,agar kita bisa :@mengenal untuk bertaqwa pd ALLAH, lebih arif dalam berfikir,@lebih bijak dalam bertindak,@menghormati ciptaan NYA,dan sak beja-bejaning wong kang lali isih luweh beja wong kang eleng lan waspada.

Anonim mengatakan...

hendaknya apa yang tersirat dari ramalan sapdopalon naya genggong itu bisa dijadikan kajian atau analisa kita manusia modern,agar kita bisa :@mengenal untuk bertaqwa pd ALLAH, lebih arif dalam berfikir,@lebih bijak dalam bertindak,@menghormati ciptaan NYA,dan sak beja-bejaning wong kang lali isih luweh beja wong kang eleng lan waspada.

redimeru mengatakan...

Sabdapalon dipercaya orang Suku Tengger pergi dan tinggal di sana serta akan memulih Tanah Jawa dari keangkaraan dan kesombongan orang yang merasa 'beragama' dan meninggalkan warisan adiluhung nenek moyang. Mereka menyebutnya : Ki Kere.

GOeSdeX mengatakan...

keturunan dang hyang nirartha.......ketahuilah wahai manusia......apaun agama kamu sekarang pada dasarnya semuanya baik....tetapi ingatlah dirimu selalu akan leluhurmu....budayamu sebagai orang jawa(indonesia)....dan perlu aku ingatkan kepadamu semuanya....bahwa ramalan sabdo palon naya genggong sebenarnya sudah berjalan....tetapi karena hati nuranimu yg ditutupi oleh kemunapikan...kemungkaran,.....menganggap dirimu paling baik....memaksakan kehendak orang lain...dsbgainya....itulah yg menyebabkan kau tidak menyadari bahwa ramalan itu sebenaarnya sudah terjadi.......ingatlah wahai orang2......tsunami di aceh....lumpur lapindo.....gunung merapi......semua itu pertanda bahwa ramalan itu benar adanya.....dan perlu kamu ingat juga.....semakin bali di serang...maka balasannya akan setimpal oleh tuhan yg maha esa......ingat juga setelah bali di bom oleh amrozi cs...yg mengatakan agama yg di anutnya paling baik dan menganggap agama yg lain sbgi kapir.....tidak berselang berapa lama serambi mekah terjadi ytsunami....jogja di guncang gempa...medan juga hancur karena gempa...gunung merapi juga murka......lumpur lapindo sampai saat ini belum bisa tertanggulangi......sadarkah kalian semuanya?????????????.......semua ini terjadi karena kamu telah lupa akan LELUHURMU......INGAT DAN CAMKAN SEMUA INI................

ksatriadalemsukahet mengatakan...

ajaran leluhur tanah Jawa
Jawa artinya paham, yg sudah paham disebut "jawan" (sadar). Sadar bahwa badan sejati ini hanya sementara tinggal di dunia, tujuan utama adalah meraih "Moksa"

itulah yg ditinggalkan oleh masyarakat sekarang sehingga bencana kian mengguncang...

ingat bahwa "Moksa" bukan berarti Surga

Anonim mengatakan...

sabda palon naya genggong, adlh pengasuh raja2 pulau jawa, tetapi pada saat ajaran baru masuk, dan raja pada saat itu lebih memilih menganut ajaran baru tersebut. akhirnya sabda palon memilih muksa, karena berpegang teguh pada pendirian tidak mau menganut ajaran baru itu,, dan ramalan sabda palon pun sudah mulai terjadi, cntohnya meletusnya gunung merapi, bencana lumpur lapindo, banyak ormas yg lebih mengedepankan kekerasan, tidak memiliki budhi, tapi mengedepankan emosi, karena pikiran manusia saat ini sudah diracuni oleh ajaran yg RADIKAL.

yoga_selfish mengatakan...

hemmm,,, sbg org bali (leluhur datang dri jawa )saya sih nyante ajah.... hindu itu universal. saat hindu masuk k jawa, tentuny dia mnyatu dgn budya yg d msukiny. makanya Hindu d Bali dan Jawa berbeda dengan d India. dan tidak hrus mngikuti budaya yg blum tentu cocok dengan budaya jawa dan Bali. jd Indonesia dulu bisa jaya. tak sperti sekarang.

Anonim mengatakan...

Kenapa kalimat ini kok ngga ada?

Thathit kliweran ing nusa Jawa, pratandhane wong nuduhna, sampurnakna agamane, yeku agama rasul, anyebarna Islam Sejati, duk jaman Brawijaya, ingsun datan purun, angrasuk agama Islam, marga ingsun uninga agama niki, nlisir saking kang nyata.

Sampurnakna agamane, yeku agama Rasul, Islam kang sejati … Ngelingana he pra umat sami, yen sira tan ngetut kersaning wang, yekti abot panandhange, ingsun pikukuhipun, nuswantara ing saindenging.

Wassalam

Unknown mengatakan...

mbah... admint... menurut hemat saya... 500th penanggalan matahari beebeda dgn penanggalan bulan. 300 th samsiah berbanding 309 tahun komariah...
tntang codro sengkolo saya kurang paham.... mohon ada keterangan lebih lanjut... terima kasih...

Anonim mengatakan...

Menunggu ramalan Sabdo Palon? nggak usah ditunggu karena terjadi atau tidak tergantung kita sendiri yang merasakan. Sadar kalau itu terjadi atau tidak. Karena meski Sabdo Palon datang, Beliau tidak akan memperkenalkan diri sebagai Sabdo Palon. Bagi orang - orang yang tetap berpegang pada dogma, tentunya akan sulit menerima apapun yang terjadi sebagai pertanda kedatangan Sabdo Palon. Dan orang jawa yang lupa akan leluhurnya, bersiaplah untuk hancur binasa..........

Anonim mengatakan...

anonim berkata
benar kata goes dex,semua itu sudah mulai terjadi dan terjadi dan hanya orang yang munafik saja yang menutup mata dan telinga karena dia bukan orang jawa/nusantara/indonesia karena nyawanya diekspor dari luar indonesia, makanya dia tidak mau mengakuinya

Anonim mengatakan...

bravo goesdex

Anonim mengatakan...

Yang jelas orang Jawa punya kepercayaan sebelum agama lain datang ! BUKAN bangsa atheis ! BUKAN bangsa materialis !
Hanya saja tak punya tulisan tapi punya tradisi,punya aturan yang ditaati.Sayangnya agama yang masuk selalu mengukur menurut agamanya sendiri ! Karena tidak punya kitab suci maka dianggap bukan agama.ianggap tak sejajar aga lain. Jelas2 hal itu merendahkan budaya Jawa ! Coba kalau dinalar apa yang dicari dalam hidup ini ? Kebahagiaan kan? Orang Jawa jelas arahnya : mencari kebahagiaan, keselamatan dunia dan akirat. Kalau mau mendalami budaya Jawa yang HARUS mau menyelami lambang2 budaya Jawa ! sehingga ngerti betul kepercayaan Jawa. ( Istilah kepercayaan kan BUKAN orang Jawa yang memberi nama tapi orang beragama lain karena ukurannnya agama yang dianut !) Seperti halnya ANDA mendalami agama karena ANDA beragama ....!
Ingat ada unen2 : wong urip ing alam donya kaya dene wong mampir ngombe.Bakale bali marang asale ! Bandingkan dg ayat2 Kitab Suci anda yang senada! Waspadalah sewaktu-waktu kamu akan kembali pada Tuhanmu!

Anonim mengatakan...

Nah Bagi Kalian Yang takut Serat Sabda Palon Terjadi ayuk migrasi aja ke sini (kalimantan) tanah sini kan bukan tanah jawa...... jangan identikkan jawa dengan Indonesia.... Indonesia itu sabang sampai merauke... jika merasa Tanah Jawa hancur yah udah kesini aja imigrasi gitu aja kok saling di perdebatkan

Hasta arik mengatakan...

saya ada postingan mengenai ramalan yang lebih lengkap, ni alamtnya gan

http://djawoto.blogspot.com/search/label/Ramalan%20lengkap%20sapdo%20palon%20noyo%20genggong

Hasta arik mengatakan...

ni ada postingan ramalan sabdo palon yg lengkap gan..

http//djawoto.blogspot.com/search/label/Ramalan lengkap sapdo palon noyo genggong

Anonim mengatakan...

Gitu ya goesdex? Dr nama terlihat anda dr kasta brahmana. Wajar anda berpendapat spt itu. Namun terbukakah mata anda? Bali skrg, jauh lbh hedonis, borjuis dan materialis dibandingkan bali di yahun 1982. Tanah warisan di jual, demi sebuah mobil keluaran terakhir. Demi gengsi. Saya yg tinggal di bali sjk '95, justru miris membayangkan org bali yg jdi tamu di tanah leluhur sendiri, krn tumah / tanah leluhur sdh habis terjual.

wah dedy pinatih mengatakan...

Hindu masuk kejawa bukan berati Jawa mengikuti Hindu.
Karena Hindu dan Budha mengajarkan paham dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.
Jadi budaya dan keyakinan orang Jawa Bali setelah Hindu Budha tetaplah sama.
Seperti di Bali cuma dasarnya saja yang Hindu tetapi penerapannya dengan adat dan budaya leluhur.
Maka dari itu Hindu Budha di dunia selalu berbeda" tergantung adat dan budaya ditempat itu.
Hindu Budha tetap melestarikan ajaran leluhur daerah tersebut, tidak seperti orang arab yang melakukan pemusnahan dan pengharaman terhadap ajaran leluhur.
Makanya Jawa dan Bali kembalilah ke ajaran leluhurmu. Tata Krama.
TriHita Karana.
Parhyangan (Ketuhanan), Pawongan (Penghormatan sesama manusia dan adat budayanya), lan Palemahan (Memanusiakan alam dan isinya termasuk makhluk" tidak kasat mata. Inilah mengapa Hindu Budha melakukan sesajen di pohon, batu, dll yg dianggap angker, karena supaya makhluk yg ada disana tidak mengganggu manusia. Bukan menyembah setan.)
Rahayu.

Son Bang mengatakan...

Mungkin yang dimaksud agama kejawen itu kalau gak salah agama budi,agama budi itu bukan islam bukanbuda bukan hindu,itupun aku gak tau juga kebenaranya

Anonim mengatakan...

saya rasa ajaran kejawen itu bisa diartikan kepercayaan bkn agama namun ajarannya luar biasanya dan istimewa melebihi agama manapun karena bagi orang2 jawa kemenyan dupa,sajen dan kembang setaman adalah media yang tercanggih melebihi tekhnologi2 yang manusia ciptakan pada zaman ini,saya yakin kelak Nuswantara ini akan jaya kembali karena itu adalah Janji dari Leluhur Sendiri dan hanya Orang2 yang mencintai aset2 budaya leluhurlah yang kelak akan diselamatkan dan dibimbing ke jalan Sang Maha Bijaksana melalui perantara2nya yaitu para Leluhur di Nuswantara ini,terimakasih...salam urip rahayu

Anonim mengatakan...

COBA KITA BERTANYA PADA RUMPUT YANG BERGOYANG,,, KARENA SEKARANG MANUSIA DI INDONESIA BANYAK YANG SOK PINTAR DAN MEREKA BANGGA AKAN DOSA2 (DIKUTIB DRI LAGU EBIET G.AD)