Google

Rabu, 08 Agustus 2018

Kiat Memilih Teman Ala Kejawen


DALAM  Kawruh Kejawen, manungso Jawa diingatkan untuk hati-hati dalam memilih teman. Kenapa harus hati-hati? Sebab teman itu akan bisa mempengaruhi kemana arah tujuan hidup kita.

Dalam beberapa literatur sastra Jawa telah disebutkan bagaimana cara untuk memilih teman. Seperti halnya dalam tembang yang berbunyi:

Nadyan silih bapa biyung kaki nini
sadulur myang sanak
kalamun muruk tan becik
nora pantes yen den nuta
aja sira niru tindak kang tan becik
sanadyan wong liya
lamun pamuruke becik
miwah ing tindak prayoga
iku pantaes yen sira tirua kaki
miwah biyung bapa
amuruk watek kang becik...
kaki iku estokena

Bait-bait sastra Jawa tersebut cenderung sederhana. Tetapi memiliki makna yang amat dalam, dimana kita manusia diajari untuk senantiasa memilih teman yang mengajak kearah kebaikan. Dengan berbuat kebaikan, maka kita akan membuat bumi tempat kita berpijak ini sebagai bumi yang tentram.(*)

R A H A Y U Sagung Dumadi

Selasa, 24 Juli 2018

WARISAN LELUHUR JAWA


INGIN memiliki dan menguasai ilmu leluhur Jawa tidaklah sebatas katanya. Artinya harus berani dan bersunģguh-sungguh telaten, jujur, sabar tekun serta kuat cobaan dan gunjingan dari orang kanan kiri serta harus taat pada hukum pemerintah.

Ilmu warisan leluhur Jawa apabila ingin memgambil intisari kesempurnaannya sangatlah sulit, dari kesemuanya tidaklah gratis alias harus ada tebusannya diantaranya membakar dupa sesajian dan transportasi yg membutuhkan uang, namun jangan khawatir apabila kita telah menguasai dan mumpuni ilmu Jawa kelak kita akan dimudahkan dalam segala hal berkaitan dengan hidup, khususnya rejeki.

Diantara hal yang berkaitan dengan warisan leluhur Jawa adalah aksara atau huruf-huruf Jawa. Kini di pendidikan formal, pelajaran untuk memperdalam aksara Jawa sendiri sudah mulai terkikis. Dianggapnya pelajaran aksara Jawa itu sendiri sudah tidak begitu penting.

Hal itulah yang membuat budaya Jawa menjadi terkikis sedikit demi sedikit. Generasi muda Jawa sudah tidak lagi mengenal aksara Jawa yang menjadi budaya nenek moyang mereka. Inilah yang membuat munculnya kata-kata "Hera Heru...Wong Jowo Kari Separo, Cino Londo Kari Sajodo".

Kata-kata tersebut mengandung arti yang sangat dalam. "Wong Jowo Kari Separo" artinya, generasi muda Jawa sudah tidak lagi mempedulikan budayanya dan tidak sudi untuk belajar budaya dan sastra Jawa. Alhasil, jumlah yang mau belajar budaya dan sastra Jawa tinggal sedikit dan diibaratkan "Wong Jowo Kari Separo".

Sementara "Cino Londo Kari Sajodo" juga memiliki arti yang sangat mendalam. Artinya, warga negara asing kini cenderung lebih mempelajari dan memperdalam budaya Jawa yang perlahan-lahan sudah ditinggalkan generasi muda Jawa sendiri. Padahal seharusnya, budaya dan sastra Jawa tersebut harus dijaga dan dipelajari oleh generasi muda Jawa sehingga bisa lestari, karena budaya dan sastra Jawa tersebut merupakan warisan dari leluhur Jawa dulu.

Sangat tragis! dan mengenaskan karena Wong Jowo sendiri harus tidak tahu budaya dan sastranya sendiri, sementara warga negara manca lebih memperdalam budaya dan sastra Jawa.(*) 

PERADABAN SPIRITUAL JAWA

KODRAT masyarakat penghuni pulau Jawa sejak jaman dahulu kala terlahir sebagai manusia yg gemar lelaku spiritual kerohanian yg ditandai banyaknya situs-situs candi tempat peribadatan yg megah yg tersebar dari ujung timur sampai barat pulau Jawa.

Kegemaran masyarakat Jawa tentang lelaku spiritual terbacalah oleh orang-orang manca dan sejak saat datangnya para holigan manca yg ingin mencari keuntungan tentang kegemaran masyarakat Jawa maka mulailah mereka menjajakan dagangan perjalanan spiritual yg mengiurkan untuk menambah pundi-pundi devisa negara.

Ke surga tak perlu jauh-jauh dan bermahal-mahal, tanah jawa adalah tanah Jawata

Samengko ingsun tutur, sembah catur supaya lumuntur, dhihin raga cipta jiwa rasa kaki, ing kono lamun tinemu, tanda nugrahaning manon.

Samengko sembah kalbu, yen lumintu uga dadi laku, laku agung kang kagungan narapati, patitis tetesing kawruh, meruhi marang kang momong.

Sucine tanpa banyu, mung nyunyuda mring hardaning kalbu, pambukane tata titi ngati-ati, atetep telaten atul, tuladan marang waspaos.

Mring jatining pandulu, panduk ing ndon dedalan satuhu, lamun lugu legutaning reh maligi, lageane tumalawung, wenganing alam kinaot.(PANDI NAYUHAN)