Google

SFI

Kamis, 12 Maret 2015

Pentingnya Mengurangi Tidur Bagi Pelaku Spiritual

DALAM  ilmu kesehatan disebutkan bahwa manusia harus memiliki tidur yang cukup. Pendapat tersebut memang ada benarnya. Ditinjau dari dunia medis, dengan memiliki tidur yang cukup untuk beristirahat, maka kesehatan manusia akan terjaga khususnya dalam hal tekanan darahnya. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang tidur?

Tentu saja secara medis orang yang kurang tidur akan mengalami gangguan dalam tekanan darahnya. Tekanan darah atau yang lebih dikenal dengan sebutan tensi, akan menurun. Orang yang kurang tidur cenderung akan memiliki tensi yang rendah.

Oleh karena itu, tidur normal manusia adalah 8 jam. Jika kurang dari 8 jam dalam tidurnya, secara medis maka manusia cenderung akan mudah pusing dan menderita vertigo.

Namun dalam ajaran Kawruh Kejawen, manusia pelaku spiritual dianjurkan untuk lebih mengurangi tidur. Kenapa harus mengurangi tidur? Karena ketika malam hari, GUSTI ALLAH senantiasa memberikan berkahnya pada insan yang masih terjaga dan selalu memperbesar tirakatnya.

Dari ajaran Kawruh Kejawen, setidaknya hal itu dinyatakan dalam tembang berjudul "Ojo Turu Sore Kaki". Dari tembang tersebut disebutkan hakekat rahasia dari mengurangi tidur.

Tembang "Ojo Turu Sore Kaki" itu berbunyi:



Ojo Turu Sore Kaki
(Jangan Tidur Terlalu Sore Saudara)
Ana Dewa Nganglang Jagad
(Ada Dewa/malaikat yang Melanglang Buana)
Nyangking Bokor Kencanane 
(Membawa Sebuah Wadah/Tempat Kencana)
Isine Donga Tetulak 
(Yang Isinya Doa Menolak Mara Bahaya)
Sandang Kelawan Pangan 
(Doa cukup Sandang Pangan)
Yaiku bagianipun 
(Yaitu bagian dari)
wong melek sabar narimo 
(orang yang gemar melek dan sabar bersyukur)

Nah, dari tembang tersebut kita dapat belajar bahwa orang yang mengurangi tidur dengan maksud tirakat akan mendapatkan berkah dari GUSTI ALLAH dibandingkan orang yang tidur ketika masih sore hingga pagi hari. Paling tidak berkah itu adalah kesehatan. Bahkan di beberapa agama pun juga diajarkan pada manusia untuk sering terjaga di malam hari dan melakukan ibadah pada GUSTI ALLAH. Contohnya, pada Islam mengenal ibadah tahajud yang harus dilakukan setelah tidur terlebih dulu.(*)

Kamis, 18 Desember 2014

Pendawa dan Kurawa di Tubuh Anak Adam

Sosok pewayangan yang kita kenal sekarang ini ada 2, yaitu Pendawa dan Kurawa. Sosok Pendawa dikenal sebagai simbol kebenaran, sedangkan Kurawa adalah simbol keserakahan, iri, dengki dan segala keburukan.

Sosok Pendawa yang kita kenal ada 5. Yaitu:
1. Prabu Yudhistira
2. BIMA atau WERKUDARA
3. ARJUNA
4. NAKULA
5. SADEWA atau Sahadewa

Sedangkan sosok pewayangan Kurawa jumlahnya ada 100.

SOSOK PENDAWA & KURAWA Di TUBUH ANAK ADAM

Namanya saja pewayangan = wayang = bayang-bayang, maka sosok Pendawa dan Kurawa itu adalah merupakan bayang-bayang ataupun simbol. Nah, simbol apa dari sosok Pandawa dan Kurawa itu di tubuh anak adam? Ternyata pewayangan dari sosok Pendawa dan Kurawa merupakan simbol yang ada di tubuh manusia.

YUDHISTIRA

Sosok Yudhistira adalah merupakan simbol pewayangan yang letaknya ada di otak manusia. Kenapa di otak manusia? Karena sebagai saudara tertua, maka Yudhistira bertugas mengayomi dan memikirkan adik-adiknya.

BIMA atau WERKUDARA

Sosok Bima atau Werkudara adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di mata manusia. Begitu manusia marah, maka matanya akan melotot dan orang yang dihadapi akan cenderung takut dengan melototnya mata.

ARJUNA

Sosok Arjuna adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di hati nurani manusia. Kenapa di hati nurani? Karena sosok Arjuna adalah sosok yang suka lelaku dan selalu jujur dalam berkata-kata.

NAKULA dan SADEWA

Sosok Nakula dan Sadewa adalah kembar. Kedua sosok itu adalah simbol pewayangan yang lokasinya ada pada buah zakar (peler) kaum lelaki. Buah zakar adalah kembar baik besar dan wujudnya. Itu merupakan gambaran dari sosok Pendawa di tubuh anak Adam.

Pertanyaannya, lalu dimanakah lokasi Kurawa yang berjumlah 100 itu di tubuh anak Adam?

Jawabannya, 100 jumlah sosok Kurawa itu lokasinya berada di hati besar ksatria. Sama dengan Arjuna yang digambarkan menguasai hati nurani (hati kecil), sosok Kurawa justru menguasai hati besar.

Seperti diterangkan pada tulisan sebelumnya, bahwa hati manusia itu ada 2 yaitu hati besar dan hati kecil. Hati besar selalu berkata bohong, iri, merasa paling hebat, beraneka keburukan yang terkait dengan hawa nafsu. Sementara hati nurani (hati kecil) selalu berkata tentang kebenaran dan apa yang tidak boleh dilakukan manusia.(*)

Inilah yang membuat kita mesti menyadari, mengapa hati kecil manusia senantiasa kalah dengan hati besar. Pasalnya seorang Arjuna harus mampu melawan 100 sosok Kurawa. Mungkinkah? Kini jawabannya hanya ada pada manusia itu sendiri. Ia sering mendengarkan hati besar atau hati kecil.(*)


Selasa, 19 Agustus 2014

Lelaku Panembahan Senopati

TANAH JAWA memiliki banyak sosok tokoh yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.

Semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi

Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama 

Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya. 

Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra

Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana 
Mrih pana pranaweng kapti 
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika 

Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci

Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.

Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.(*)