Google

Senin, 25 Januari 2010

Mengkaji Kehidupan Kupu-Kupu


Setiap orang pasti tahu kupu-kupu. GuSTI ALLAH tampaknya ingin menunjukkan pada manusia sebuah hakekat kehidupan melalui seekor kupu-kupu. Namun kembali kepada manusia itu sendiri, apakah mereka mau menggunakan pikirannya untuk memahami apa hakekat yang ada dibalik binatang kupu-kupu yang memiliki warna sayap yang indah. Lalu apa hakekat yang bisa kita pelajari dari seekor kupu-kupu?

Kehidupan seekor kupu-kupu tak ada bedanya dengan manusia. Ketika masih muda belia, seekor kupu-kupu hanyalah seekor ulat. Ia berusaha ke sana kemari untuk mencari makan. Ulat tersebut akan menempel pada dedaunan dan mereka hidup di tempat itu. Pahit getir kehidupan dia rasakan diantara dedaunan itu. Saat panas menerpa, ia pun tetap bertahan. Demikian pula ketika musim hujan tiba, ia juga sangat berhati-hati dan berlindung diantara dedaunan dari guyuran air hujan yang menyirami tumbuh-tumbuhan di muka bumi.

Sama halnya dengan manusia, ketika muda, manusia selalu mencari setiap pengalaman dalam hidup. Pahit getir kehidupan senantiasa dijalani. Kehidupan senantiasa berputar menurut siklusnya. Ada saatnya sukacita, ada kalanya duka yang kita alami dalam kehidupan ini. Semuanya itu adalah suatu kewajaran. Pasalnya, GUSTI ALLAH menciptakan semua yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Jika ada siang, disitu juga ada malam. Jika ada sukacita, disitu juga ada duka. Itu semuanya merupakan warna-warni kehidupan di dunia dan kita sebagai manusia tidak bisa memilih untuk berada pada satu sisi saja. Artinya, hanya memiliki sukacita saja, dan tidak ingin mengalami duka, itu adalah hal yang mustahil.

Seekor ulat akan tahu masanya untuk berdiam diri. Pada saatnya, ulat akan berdiam diri. Ia 'bertapa' untuk merenungkan kehidupan yang selama ini dilaluinya. Dalam keadaan 'bertapa' yang sangat tinggi itu, sang ulat akan dilingkupi oleh sebuah lapisan yang melindungi tubuhnya dari terik panas mentari dan hujan. Lapisan itu biasanya kita kenal dengan nama kepompong.

Lain halnya dengan ulat yang 'bertapa', justru manusia tidak tahu kapan saatnya mereka harus 'bertapa' untuk merenungi kehidupan ini. Manusia cenderung mengumbar nafsunya demi untuk mencari kesenangan hidup di dunia. Dan jikalau kesenangan dunia itu sudah didapatkannya, maka manusia itu akan mati-matian untuk mempertahankannya dan tak ingin kesenangan dunia itu meninggalkan dirinya. Hal itulah yang membuat manusia semakin terikat oleh dunia. Tragisnya, manusia tidak sadar bahwa umur berjalan terus. Saat mereka harus 'bertapa' merenungi kehidupan ini dan mencari jalan setelah kehidupan di dunia ini usai, dilewatkannya begitu saja hingga ajal menjemputnya.

Setelah 'bertapa' dengan khusyuk dan dilingkupi oleh kepompong, maka sang ulat tersebut akan berubah wujud menjadi seekor kupu-kupu dengan sayap yang berwarna indah. Keindahan warna kupu-kupu tersebut sebenarnya merupakan petunjuk dari GUSTI ALLAH kepada manusia. Jika manusia itu benar-benar mampu dan mau untuk 'bertapa' dan memahami dirinya sendiri, maka manusia tersebut akan menemukan hakekat kehidupan yang dicarinya. Dan ketika ia sudah mengerti dan memahami hakekat dirinya sendiri, maka manusia tersebut akan bertemu dengan GUSTI ALLAH. Dan manusia yang sudah bertemu dengan GUSTI ALLAH, maka akan dipandang oleh orang lain seperti indahnya sayap kupu-kupu.

Nah, dari uraian tersebut, kita manusia seharusnya lebih banyak merenung tentang hakekat hidup ini. Darimana kita sebelum lahir, dan akan kemana kita setelah mati. Orang Kejawen menyebutnya sebagai "Sangkan-Paraning Dumadi". Jika manusia sudah memahami hakekat kehidupan ini, maka lambat-laun ia akan bertemu dengan Sang Pencipta Kehidupan. Dan di mata orang lain, manusia yang sudah menemukan hakekat kehidupan ini akan memiliki pesona seindah warna-warni sayap kupu-kupu.

Tidak ada komentar: