Google

Rabu, 20 Juli 2011

Hakekat Hidup A-I-U

Dalam kitab suci manapun telah disebutkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Demikian pula dalam kitab suci Al Qur'an. Kematian merupakan suatu hal yang wajib bagi makhluk yang ada di dunia ini. Setiap insan pun akan mengalami kematian. Kematian yang disini adalah kematian jasad (secara raga).

Namun hakekatnya, setiap makhluk hidup tidak akan pernah mengalami kematian. Bahkan Syekh Siti Jenar telah mengajarkan hakekat dari zikir A-I-U. Apa arti dari A-I-U? A-I-U memiliki arti "AKU IKI URIP" (Aku Ini Hidup).

Meskipun hanya tiga huruf A-I-U, namun memiliki arti yang cukup dalam. Pasalnya, pada hakekatnya setiap makhluk yang telah mati, maka hanya kehilangan jasadnya saja. Namun rohnya tetap hidup untuk selamanya. Ia akan mengalami pengembaraan hingga akhirnya menghadap GUSTI ALLAH.

Tetapi proses untuk kembali pada GUSTI ALLAH itu tidak semudah yang dibayangkan. Seseorang yang telah meninggal dunia, maka ia hanya kehilangan raganya. Setelah itu orang tersebut akan melakukan perjalanan untuk menuju ke GUSTI ALLAH. Rintangan dan halangan untuk menghadap GUSTI ALLAH sangatlah banyak sebelum mencapai haribaan GUSTI ALLAH atau yang di dalam Islam disebut 'Inna lillahi Wa Innailaihi

Rojiun' (dari ALLAH kita berasal dan akan kembali ke ALLAH).  Dalam perjalanan tersebut tidak ada lagi materi, jadi tidak mungkin kita mendapatkan kemudahan dengan menyogok seperti yang kita lakukan di
dunia. Semuanya serba murni dari hasil perbuatan kita selama kita di dunia. Nah, A-I-U adalah simbol bahwa manusia meskipun mati karena sakit atau dibunuh, maka hanyalah kehilangan jasad semata.

Orang Jawa pasti sering mendengar kalimat "Urip Iku Ibarat Wong Mampir Ngombe". Nah, dalam kalimat itu kita disuruh untuk memahami dan belajar bahwa sebelumnya kita pernah hidup, dan ketika kita hidup di dunia maka kita hakekatnya adalah beristirahat sebentar.

Oleh karena itu, Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa hakekatnya orang hidup di dunia itu sebenarnya adalah mati. Setelah mati, maka hakekatnya kita melanjutkan perjalanan dan disebut oleh Syekh Siti Jenar bahwa manusia akan mengalami hidup yang sejati setelah proses kematiannya.

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Salam buat semua....
dan aku melihat berbagai macam komen ini lalu terbesit untuk menulis komen ini...

semoga komen saya jangan ditelan mentah2 ya......

" ini budi..."
" ini ibu budi..."
" ini bapak Budi..."
tapi apa masih ada bapak dan ibu budi......
aku denger2 dari kakek pembuat kain kalau ibu budi ditelanjangi dan aku juga dengar dari nenek penambang biji besi kalau bapak budi dikebiri....

lalu di mana si budi.....
apakah dia bisa bertahan dunia yang terkontaminasi ini....
bersembunyi dalam belukar...
mencoba diangkat si budi jadi anak angkat saudagar tapi malah dia dianak tirikan..

____-the end_____


dan ini ada lagi dari kitab suci hasil karya agung bank iwan.......

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

reff :
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepang


Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
----------------------------------------------------------------
heheheeee........... mu up saodara2 kalau saya radak dudul?
mohon bimbingannya.......


NB : tolong jangan ditelan mentah2 tapi coba di hayati pake perasaan hati paling terdalam.

Anonim mengatakan...

Salam buat semua....
dan aku melihat berbagai macam komen ini lalu terbesit untuk menulis komen ini...

semoga komen saya jangan ditelan mentah2 ya......

" ini budi..."
" ini ibu budi..."
" ini bapak Budi..."
tapi apa masih ada bapak dan ibu budi......
aku denger2 dari kakek pembuat kain kalau ibu budi ditelanjangi dan aku juga dengar dari nenek penambang biji besi kalau bapak budi dikebiri....

lalu di mana si budi.....
apakah dia bisa bertahan dunia yang terkontaminasi ini....
bersembunyi dalam belukar...
mencoba diangkat si budi jadi anak angkat saudagar tapi malah dia dianak tirikan..

____-the end_____


dan ini ada lagi dari kitab suci hasil karya agung bank iwan.......

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

reff :
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepang


Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
----------------------------------------------------------------
heheheeee........... mu up saodara2 kalau saya radak dudul?
mohon bimbingannya.......


NB : tolong jangan ditelan mentah2 tapi coba di hayati pake perasaan hati paling terdalam.

hartoyo yudowijoyo mengatakan...

yaaaahhh inyong berusaha untuk bisa paham, tapi tetep saja mumet.lantarane karena otak dan ati saya juga ga pernah ketemu wungkal untuk ini. tapi dikit saja inyong nyimpulin begini.....sejatinya....manusia segarang apapun, pada posisi dan status sosial apapun......sadar...bahwa mau mati. mati dengan rumus apapun....rumus seh siti jenar kek....rumus sunan kalijaga kek...
bahkan rumuse abu bakar basyir dkk skalipun. nah dalam kegelisahan
itu pada meraba raba.....siapa ketemu apa....vairantnya 1001 macam. dan itulah hakekat manusia yang ada, diadakan, selalu berbeda beda. makanya....kalau sadar akhir...illaihi roji'un.... maka sekali lagi klo masih bisa bernafas tanda2 hidup (versi umum) atau masih bernafas tanda2 masih mati (versi yng ga patek umum ) pada sing eling..... gemblung ya gemblung tapi aja kebangeten......

hartoyo yudowijoyo mengatakan...

yaaaahhh inyong berusaha untuk bisa paham, tapi tetep saja mumet.lantarane karena otak dan ati saya juga ga pernah ketemu wungkal untuk ini. tapi dikit saja inyong nyimpulin begini.....sejatinya....manusia segarang apapun, pada posisi dan status sosial apapun......sadar...bahwa mau mati. mati dengan rumus apapun....rumus seh siti jenar kek....rumus sunan kalijaga kek...
bahkan rumuse abu bakar basyir dkk skalipun. nah dalam kegelisahan
itu pada meraba raba.....siapa ketemu apa....vairantnya 1001 macam. dan itulah hakekat manusia yang ada, diadakan, selalu berbeda beda. makanya....kalau sadar akhir...illaihi roji'un.... maka sekali lagi klo masih bisa bernafas tanda2 hidup (versi umum) atau masih bernafas tanda2 masih mati (versi yng ga patek umum ) pada sing eling..... gemblung ya gemblung tapi aja kebangeten......

Prasetya mengatakan...

Salam Kenal mas....Saya seorang Jawa, dan saya menganut Aliran kepercayaan yaitu "kejawen Kuno" yang sampai saat ini saya cari belum ada yang lainnya...rata-rata penganut kejawen berdasarkan agama..maaf entah itu islam kejawen, budha kejawen, kristen kejawen dan hindu kejawen..saya ingin meneruskan aliran mbah biyen, seperti kejawenya Eyang Joyoboyo,Prabu Erlangga, Patih Gajahmada mungkin yang terakhir Presiden Soekarno..Mohon dibantu. Saya rasa mungkin yang akan membangkitkan Mental dan Budi Pakarti Jawa adalah orang-orang yang benar-benar JAWA ( SATRIO PININGIT ) Suwun

Nanang karim mengatakan...

Memamg sulit pemikiran (maaf) syaria't atau yg baru belajar Syaria't/awam, mereka tidak akan paham tetang Ilmu Ma'arifat.., malahan akan menimbulkan fitnah,Rasulullah bersabda " Sampaikanlah Ilmu itu kpd suatua kaum sesuai dengan daya pikirannya, krn kalau tidak nnt akan menimbulkan fitnah", jd klu nggak faham atau belum sampai ke situ Ilmu, jgnlah banyak berkomentar, suatu saat kalian akan mengerti Ilmu Ma'arifat (Tauhid)

Nanang karim mengatakan...

Kalau qt mempelajari Ilmu Tauhid (Ma'arifat) jgnlah memegang pada paham ini atau paham itu,,, tpi berpegang tguhlah pada Al-qur'an dan Al-Hadits,, krn tanpa keduanya berarti paham itu...??? (Kalianlah yg mengerti paham apa itu)

Anonim mengatakan...

Jati diri,
diri sejati,
sukma sejati.
Guru sejati.
4 kelima pancer.
KaWeruh.