Google

Jumat, 04 Maret 2011

Jagad Alit-Jagad Agung

Di bulan ini, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Nyepi berasal dari kata dasar "Sepi". Pada hari itu, umat hindu tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Tujuan dari Nyepi sendiri adalah untuk memohon ke hadapan GUSTI ALLAH. Disamping itu, tujuan Nyepi juga untuk mensucikan Jagad Alit (manusia) dan Jagad Agung (alam semesta).  

GUSTI ALLAH senantiasa menciptakan apa yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Jika ada Jagad Alit yang identik dengan manusia, maka juga ada Jagad Agung yang identik dengan alam semesta. Jagad Alit dan Jagad Agung itu cenderung saling melengkapi.

Jagad Agung di dalamnya ada banyak Jagad Alit. Demikian pula sebaliknya. Di dalam Jagad Alit terdapat Jagad Agung. Apa artinya? Bagi para pelaku spiritual tentu tidak asing lagi dengan kedua istilah tersebut. Kita bisa menyusuri seantero jagad jika memasuki tataran Jagad Alit.

Seperti halnya sudah pernah ditulis sebelumnya, bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga pernah memiliki pengalaman seperti itu dan pengalaman spiritual beliau itu disamarkan lewat cerita wayang berjudul "Bimo Suci". Ketika Bima bertemu dengan Dewa Ruci, terjadilah percakapan keduanya dan Bima disuruh untuk masuk ke telinga kiri Dewa Ruci.

"Masuklah kamu Bima ke 'Telinga Kiriku'," ujar Dewa Ruci yang bertubuh mungil. "Mana mungkin aku yang bertubuh besar masuk ke telinga kirimu?" tanya Bima.

Lalu Dewa Ruci bertanya,"Kamu merasa besar Bima? Lebih besar mana kamu dengan alam semesta ini?" Bima pun menjawab,"Lebih besar alam semesta". Dewa Ruci mengatakan,"Lha alam semesta yang besar ini saja cukup masuk ke dalam diriku, kok kamu yang tidak sebesar dibandingkan alam semesta tidak cukup?" Dari situlah Bima masuk ke dalam diri Dewa Ruci lewat telinga kirinya.

Dari cerita wayang tersebut, kita disuruh untuk membaca berbagai simbol. Apa saja simbol yang bisa dibaca?

Tubuh Dewa Ruci sangatlah kecil. Artinya, dalam tubuh manusia ini terdapat sesuatu yang kecil. Dan jika sesuatu yang kecil itu dimasuki, maka kita akan menemukan 'alam semesta' di dalam diri kita.

Disamping itu, Dewa Ruci menyuruh Bima untuk masuk lewat Telinga Kirinya. Telinga Kiri disini memiliki arti bahwa hal itu merupakan ilmu yang harus disembunyikan. Kiri berarti siri.

Sepi dan Ramai

Percayakah Anda bahwa orang yang suka berada di tempat dugem (dunia gemerlap) itu adalah orang-orang yang kesepian? Itulah kenyataannya. Bagaimana bisa? Mereka adalah orang-orang yang merasa kesepian sehingga harus mencari keramaian.

Berbeda dengan orang yang suka melakukan Dzikir, meditasi ataupun semedi. Mereka adalah orang-orang yang cenderung mencari sepi. Mereka asyik dengan kesepian itu. Mereka menyatu dengan kesepian tersebut.

Untuk itulah, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi yang berarti bersatu dengan sepi dan memasuki Jagad Alit.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Terimaksih....akhirnya kita dapat lebih memahami....matur nuwun..rahayu

Anonim mengatakan...

jagat agung adalah makro, jagat alit adalah mikro.
jagat agung adalah dunia yang kita tempati dan kita lihat saat ini, jagat alit adalah diri kita sendiri.
di jagat agung ada anjing, babi dan sebagainya, dijagat alit juga ada anjing, babi dan sebagainya.
semoga tidak salah penafsiran saya ini. matur nuhun

Anonim mengatakan...

Besar dan kecil adalah hal yang sama tidak ada perbedaan di antara keduanya, benar dan salah juga tidak ada perbedaan jika alam bawah sadar hidup atau di sebut mata ketiga, mata siva.jika menggunakan pikiran besar dan kecil pasti dianggap berbeda, baik buruk dan benar salah, semua orang berbicara menggunakan pikiran , pikiran 100% tidak benar, \dan menganggap Aku adalah badan tidak sadar kalau bisa meleset..kadang menipu dan sangatlah cepat..ketika orang bicara negara cina seolah2 pikiran sudah tahu bagaimana negara cina tsbt ..
Sesuatu yg besar jika di hadapkan kepada yg lebih besar maka sesuatu itu akan kecil..dan yg lebih besar itu jika di hadapkan yg lebih2 besar maka akan menjadi kecil..
Benar dan salah tidak akan ada jika roh tidak terikat oleh materi dan tidak menganggap Aku sebagai badan.tanpa kejahatan Dharma tidak akan pernah muncul..bagaimana tau siang jika malam tidak ada,( Rwa Bhineda}(yin & yang) maka perlu keseimbangan baik di macro maupun di micro/ apah, bayu, teja, akasa. ada di jagat agung dan jagat alit..
kEMBALI KE ( Aku )siapa Aku..? ini,tanganKU, kakiKU,rumahKu, MobilKU secara tidak sadar diri telah menyebut sang Aku sebagai badan/Ego= Keakuan sebagai pemilik dari badan ini sebab atma terikat oleh indria2 bersifat material/Jivatma .. padahal jika di pahami secara dalam Ku..tidak lain adalah Tuhan itu yg ada dalam diri kita, melalui laku tapa,keheningan = kesunyataan kosong berisi, semua berawal dari kekosongan, bukan berarti tiada..!! nol adalah nilai, Brata/desiplin.
Yoga/usaha penyatuan/manungaling kawulo lan gusti/moksa,
Semadi/ tapa yg sudah masuk dlm alam bawah sadar tentang siapa Aku dan darimana aku dlm artian mengenal jati diri, dari sinilah segala sesuatu material tidak di butuhkan lagi,tidak terikat..dunia material.istri, anakpun, lepas..pikiran tidak lari kemana2, kwatir ataupun sedih, terpusat ke Beliau.
Ram Bahadur umur 7 thn meninggalkan keluarga untuk bersemedi tanpa makan dan minum: http://www.youtube.com/watch?v=GVoLvLXRILg&feature=related
Yogi suci Bertapa tanpa makan dan minum: http://www.youtube.com/watch?v=mvMvwGP7YSc&feature=related
Merupakan ritual Beliau "Puja" tiap hari (Agni Hotra)/ bukan memamerkan kesaktian seperti debus ,The Fire yogi :http://www.youtube.com/watch?v=La5ZxpbE0s4&feature=related
Mereka adalah Yogi/ orang yg mempraktekan yoga, di Jawa dan jg di Bali banyak sekali Goa2 peningglan yg masih ada di pakai olah bathin tapi kenapa sekarang jarang ada ? paling orang2 jawa bertapa di kuburun bukankah itu bukan tempat suci..? pesugihankah..?


Anonim mengatakan...

Orang Jawa tapa tidak di pekuburan, itu keliru anda melihat sepintas, memang ada orang melek di pekuburan tapi bukan bertapa.

Orang Jawa jika bertapa di tempat Pertapan berada diatas Gunung, yang masih banyak tempat Pertapan sekarang berada di atas Gunung Lawu perbatasan JATIM dan JATENG. Anda bisa menanyakan kepada Para Pendaki Gunung Lawu yang sering ke puncak.