Google

Kamis, 23 Juli 2009

Bijak Memahami Ajaran Pangeran Panggung



Selain para wali yang memiliki karomah dan keistimewaan karena kedekatannya dengan GUSTI ALLAH, banyak beberapa sosok di tanah Jawa yang juga memiliki karomah. Sebut saja beberapa nama seperti, Syech Siti Jenar, Ki Ageng Selo dan lain-lain serta Pangeran Panggung. Nah, siapakah Pangeran Panggung ini?

Pangeran Panggung mengajarkan Islam yang agak berbeda dengan yang disebarkan para Wali. Lantaran ajarannya dianggap berbeda dan menyimpang, maka dia dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup oleh Raja Demak Bintoro, Sultan Trenggono (Raja Demak III). Pangeran Panggung mengkritik bahwa ajaran Islam yang disebarkan para Wali hanyalah kulitnya saja. Sedangkan intisari atau bagian yang terpenting tidak pernah diajarkan pada penduduk Jawa.

Pertentangan antara Pangeran Panggung dan para Wali semakin meruncing dalam hal Aqidah dan Tauhid. Dengan terang-terangan, Pangeran Panggung mengajarkan pada murid-muridnya bahwa Sholat, Zakat dan Puasa itu tidak penting. Menurut Pangeran Panggung, sholat secara rutin itu justru akan menjadi tirai yang membatasi manusia dari pengetahuan tentang nilai yang utama. Demikian juga soal puasa dan Zakat, yang akhirnya hanya menjadi berhala, menggantikan sikap sujud pada yang Maha Agung.

Pangeran Panggung ini memiliki dua anjing kesayangannya. Kedua anjing itu diberi nama Iman dan Tauhid. Lantaran ajarannya yang nyleneh itu, akhirnya Pangeran Panggung dihukum bakar hidup-hidup. Dan ia pun menerima hukuman itu. Ketika api unggun mulai dinyalakan, Pangeran Panggung menyuruh dua anjingnya untuk masuk ke dalam api. Kedua anjing yang bernama Iman dan Tauhid itu berkejar-kejaran, berguling-guling di tengah bara api dan tidak satupun api yang mampu membakar bulu-bulu mereka. Ganasnya api itu tidak mampu membakar makhluk yang dianggap 'najis' milik Pangeran Panggung.

Merasa melihat keanehan itu, Pangeran Panggung diperintah oleh Raja Demak untuk masuk ke api yang menyala-nyala. Pangeran Panggung pun menerima dan minta untuk disediakan secarik kertas dan pena. Kemudian, pangeran Panggung pun di bakar bersama iman dan tauqid. Di tengah api yang berkobar, sang Pangeran sempat menuliskan sebuah suluk berbentuk puisi yang disebut SULUK MALANG SUMIRANG. Setelah selesai menulis Suluk itu, Pangeran Panggung dan dua anjingnya keluar dari bara api lalu pergi meninggalkan arena tempat pembakaran itu.

Dalam beberapa bait yakni bait ke 16 dan 17, Pangeran Panggung menerangkan lewat Suluk Malang Sumirang yang ditulisnya di tengah bara api.

16
Sakeh ing doss tan den-singgahi ujar kupur-kapir tan den-tulak wus liwang-liwung polahe tan andulu dinulu tan angrasa tan den-rasani tan amaran pinaran wus jatining suwung ing suwunge iku ana ing anane iku surasa sejati tan kena den-ucapna

(Banyak orang yang disekelilingnya mengatakan kufur-kafir dan itu tidak ditolaknya. Sikapnya sudah limbung tidak melihat-dilihat, tidak merasa, tidak dirasani, tidak menyebut disebut sejatinya sudah kosong. Di tengah kosong itu ada rasa sejati yang tidak bisa diucapkan)

17.
Dudu rasa kang keraseng lati dudu rasa rasaning pacuwan dudu rasa kang ginawe dudu rasa rasaning guyu dudu rasa rasaning lati dudu rasa rerasan rasaku amengku salir ing rasa surasa. mulya putreng Jènggala

rasa jati kang kerasa jiwa jisim rasa mulya wisesa


(Bukan rasa yang ada di lidah, bukan rasa rasanya berlomba, bukan rasa yang dibuat, bukan rasa rasanya tertawa, bukan rasa rasanya lidah, bukan rasa rasanya rasaku yang memangku hidup di rasa dan merasakan. Mulia putra Jenggala.

Rasa sejati yang terasa di jiwa jisim dan rasa mulya selamanya)

Dari dua bait tersebut kita bisa belajar tentang rasa. Dimana rasa tersebut pasti dimiliki oleh setiap manusia. Oleh karena itu, manusia harus bisa membedakan antara rasa sejati dengan sejatine rasa.

Yang jelas, dari berbagai ajaran yang ada termasuk ajaran dari Pangeran Panggung ini, kita harus bijak untuk menyikapinya agar kita bisa mengenal Sang AKU.

Tidak ada komentar: