Google

Selasa, 08 Januari 2008

Mepes Hawa Nafsu di Bulan SURO

Salah satu bulan yang sangat disakralkan bagi orang yang berpaham Kejawen adalah bulan SURO. Di bulan tersebut, masyarakat Kejawen diwajibkan kembali menelaah perjalanan hidupnya dan memulai ritual sucinya dengan berbagai cara.



Ada yang melakukan sarasehan, melekan (tidak tidur hingga pagi hari), larung sesaji, grebeg Suro dan lainnya. Namun semuanya memiliki tujuan yang sama yakni hanya memuji kebesaran GUSTI ALLAH. Antara ajaran Kejawen dan Islam sebenarnya ada kesamaannya. Orang berpaham Kejawen menyebut bulan dengan sebutan SURO. Sedangkan Islam menyebutnya dengan bulan MUHARAM. Bulan SURO atau MUHARAM itu merupakan tahun baru Jawa dan Islam. Sedangkan tahun baru yang banyak dirayakan oleh masyarakat seluruh dunia adalah tahun baru Masehi.

Pertanyaan yang muncul, Mengapa berbagai ritual itu mesti dilakukan pada bulan SURO? Apakah bulan-bulan lain tidak disakralkan dan tidak boleh melakukan ritual? Boleh-boleh saja. Pada prinsipnya manembah pada GUSTI ALLAH itu tidak terikat oleh ruang dan waktu. Bukankah kita hidup hakekatnya ada 2 yaitu
1. tansah eling lan manembah marang GUSTI ALLAH tan kendat rino kelawan wengi (selalu ingat dan menyembah GUSTI ALLAH baik siang maupun malam)
2. Apik marang sakpodo-padaning urip (berkelakuan baik terhadap setiap makhluk ciptaan TUHAN). Bulan SURO dikatakan merupakan salah satu bulan istimewa karena di tahun yang baru ini kita wajib untuk menelaah kehidupan yang telah kita lalui untuk menapaki kehidupan yang akan datang.

Ada kepercayaan pada masyarakat Jawa yang berpaham Kejawen bahwa saking sakralnya bulan SURO ini, maka tidak boleh ada kegiatan yang tergolong untuk bersenang-senang seperti pesta pernikahan, mendirikan rumah dan lainnya. Semua itu ada benarnya. Pasalnya, pada bulan SURO ini setiap masyarakat Jawa wajib untuk mepes hawa nafsu. Artinya kita wajib introspeksi dengan cara melakukan perjalanan masuk ke dalam diri. Sebuah perjalanan ritual yang sulit untuk dilalui. Buktinya, ketika kita nyata-nyata memang bersalah, toh kita masih menuding orang lain yang salah. Ini sebuah contoh bentuk pengingkaran yang ada dalam diri masing-masing manusia. Dan sifat itu perlu ditelaah agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

Bahkan bulan SURO yang diawali dengan tanggal 1 SURO senantiasa dirayakan masyarakat Jawa dengan beraneka ritual dan tidak bersifat hura-hura. Itulah sebabnya bulan SURO menjadi sakral di mata masyarakat Kejawen. SELAMAT TAHUN BARU, Mugi GUSTI ALLAH tansah maringi eling lan waspodo dhumateng kito sami. RAHAYU!



 

Tidak ada komentar: