Google

Minggu, 27 Mei 2012

Dengarkanlah Selalu Suara Hati

Banyak orang bijak yang mengatakan "Dengarkanlah suara hati". Pada hakekatnya, suara hati yang dimaksud adalah hati nurani yang ada pada setiap manusia. Perkataan orang bijak tersebut memang benar. Dengan lebih banyak mendengarkan suara hati, maka manusia akan lebih tertuntun dan tertata iman dan perilakunya dibandingkan dengan orang yang tidak mau mendengarkan suara hatinya. Dengan lebih banyak mendengarkan suara hati, maka manusia akan bisa lebih mendekat pada GUSTI ALLAH, karena nantinya manusia akan dituntunNYA untuk lebih dekat kepadaNYA untuk lebih bisa mendapatkan kasampurnaning urip (hidup yang sempurna).

Hal itu pernah diajarkan Mangkunegoro IV lewat serat karangannya yang berjudul "Wedhatama". Disebutkan dalam serat tersebut

Aywa sembrana ing kalbu
wawasen wuwusireki
Ing kono Yekti karasa
Dudu ucape pribadi
Marma den sambadeng sedya
Wewesen Praptaning uwis

Janganlah mengabaikan suara hati,
dan berusahalah selalu mawas diri.
Maka Kelak akan merasa adanya suara
Yang terucap bukan dari diri pribadi
Oleh karena itu, turutilah niat tersebut,
Sampai akhir tujuannya.


Marma den taberi kulup
angulah lantiping ati
Rina wengi den anedya
Pandak-panduking pambudi
Mbengkas kaardaning driya
Supadya dadya utami.

Oleh karena itu, tekunlah nak!
Dalam mengolah ketajaman hati
Dengan memohon siang malam
Untuk dapat menemukan kebenaran dan berusaha selalu berbuat baik
Dengan menyingkirkan gejolak hawa nafsu
Agar menjadi orang yang berbudi luhur


Pertanyaannya, bagaimana mengasah hati agar lebih tajam dan jelas dalam menyuarakan kebenaran sehingga kita semua mampu mendengarnya? Caranya yaitu


Pengasahe sepi samun
aywa esah ing salami
samangsa wis kawistara
lalandhepe mingis-mingis
pasah wukir reksamuka
kekes srabedaning budi

Dalam mengasah ketajaman hati
seyogyanya ditempat yang sunyi
Harus menjauhkan dari pikiran pamrih
Apabila sudah tajam dan dapat mengikis gunung (ibaratnya)
Maka harus mampu memerangi hawa nafsunya.
(*)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Memang benar sekali mas..
Tapi hati2 buat rekan sekalian, bisikan ada 2.. Yang 1 bisikan nafsu dan 1 lagi bisikan hati..
Pinter2 aja milih dan bedakannya..
Selama kita nuruti kata hati (krenteg), Insya Allah selamat.

Dan jangan lupa untuk mengaji kepada mursyid yang dapat dipertanggung jawabkan ilmunya. Jangan sampai laku tanpa ada guru. Bisa menikung dari garis lurus nanti.. :)

sinji kagawa mengatakan...

Likeee

Anonim mengatakan...

Wah menarik, saya mau tanya kalo nggak share. Kami berlima sedikit nya tahu kejawen. Suatu saat kita berkumpul dan masing2 cerita mengenai bisikan hati, percaya nggak percaya bisikan tersebut saling terkait me ceritakan masa depan kami. Saking nggak percaya kami bilang ke hati kita msg2. Kalau keliru kita maafkan, tapi jawaban selalu sama. Dan selama perjalanan semua tanda diberikan yg mengarah ke bisikan tersebut.
Mohon pencerahannya... karena kejadian akan dibuktikan dalam waktu dekat.
Matur nuwun

kejawen mengatakan...

Hati itu ada 2....hati besar dan hati kecil. Setiap jam, menit, detik, kedua hati baik yang besar maupun yang kecil itu selalu berbicara. Bedanya, hati besar selalu berbicara dengan hawa nafsu, sedangkan hati kecil selalu berbicara tentang kebenaran. Nah, latihannya, kita harus mampu membedakan suara hati besar dan kecil itu. Setelah hapal dengan suara hati itu, kita tinggalkan suara hati besar dan selalu mendengarkan hati kecil. Kalau hati kecil sebuah kelompok sama, berarti memang itu petunjuk dari GUSTI ALLAH pada kelompok tersebut.