Google

Rabu, 05 Oktober 2011

Kewajiban Ngelmu

Setiap manusia wajib untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu bukan hanya bagi anak-anak dan pemuda saja. Bahkan orang tua pun wajib untuk menuntut ilmu.

Di serat Wedhatama bagian awal karya KGPAA Mangkunegoro IV, kita diingatkan untuk senantiasa tidak jemu-jemu ngelmu sejati. Ngelmu sejati seperti apa itu? Ngelmu sejati adalah untuk senantiasa mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Karena pada hakekatnya kita semua nantinya akan kembali kepadaNYA.

Disamping itu, KGPAA Mangkunegoro IV juga menjelaskan perbedaan sifat-sifat dan tanda dari orang yang berilmu dalam kehidupan sehari-hari dengan orang yang tidak berilmu.

Untuk lebih jelasnya, silakan menyimak ajaran dari KGPAA Mangkunegoro IV lewat arti dari serat Wedhatama Pupuh I Pangkur.

PUPUH I
P A N G K U R

01
Mingkar-mingkuring ukara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ilmu luhung,kang tumrap ing tanah Jawa, agama ageming aji.

(Meredam nafsu angkara dalam diri, Hendak berkenan mendidik putra-putri, Tersirat dalam indahnya tembang, dihias penuh variasi, agar menjiwai hakekat ilmu luhur, yang ada di tanah Jawa (nusantara), agama hanyalah “pakaian” kehidupan.)

02
Jinejer ing Weddhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi,mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi sepa lir sepah asamun,samasane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi.

(Disajikan dalam serat Wedhatama,agar jangan miskin pengetahuan walaupun sudah tua pikun jika tidak memahami rasa sejati (batin) niscaya kosong tiada berguna bagai ampas, percuma sia-sia,di dalam setiap pergaulan sering bertindak ceroboh memalukan.)

03
Nggugu karsane priyangga, nora nganggo peparah lamun angling,lumuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun samudana, sesadoning adu manis .

(Mengikuti kemauan sendiri, Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal bunyi), Namun tak mau dianggap bodoh,Selalu berharap dipuji-puji. (sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak berwatak rendah hati,selalu berprasangka baik.)

04
Si pengung nora nglegewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-andhar angendukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkangipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang sipingging.

(Si dungu tidak menyadari,Bualannya semakin menjadi-jadi,ngelantur bicara yang tidak-tidak,Bicaranya tidak masuk akal,makin aneh tak ada jedanya. Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah, Menutupi aib si bodoh.)

05
Mangkono ilmu kang nyata, sanyatane mung we reseping ati,bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung anggung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkono wong urip.

(Demikianlah ilmu yang nyata, kenyataannya memberikan ketentraman hati, Tidak sedih dibilang bodoh, Tetap gembira jika dihina. Tidak seperti si dungu yang selalu sombong, Ingin dipuji setiap hari. Janganlah begitu caranya orang hidup.)

06
Uripa sapisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir, kadi ta guwa kang sirung,  sinerang ing maruta, gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki.

(Hidup sekali saja berantakan, Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut. Umpama goa gelap menyeramkan, Dihembus angin, Suaranya gemuruh menggeram, berdengung Seperti halnya watak anak muda yang masih pula berlagak congkak)

07
Kikisane mung sapala, palayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur, lah iya ingkang rama, balik sira sarawungan bae durung, mring atining tata krama, nggon-anggon agama suci.

(Tujuan hidupnya begitu rendah, Maunya mengandalkan orang tuanya,Yang terpandang serta bangsawan. Itu kan ayahmu! Sedangkan kamu saja belum kenal, akan hakikatnya tata krama dalam ajaran yang suci)

08
Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi, lumuh asor kudu unggul, sumengah sesongaran,yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kaprawiran, nora enak iku kaki.

(Cerminan dari dalam jiwa raga mu, Nampak jelas walau tutur kata halus, Sifat pantang kalah maunya menang sendiri Sombong besar mulut Bila demikian itu, disebut orang yang terlena Puas diri berlagak tinggi. Tidak baik itu nak!)

09
Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengkok pancabaya,ubayane mbalenjani.

(Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa). Rekayasa dari hal-hal gaib Itu umpama bedak. Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak Bila terbentur marabahaya, bisanya menghindari.)

10
Marma ing sabisa-bisa, babasane muriha tyas basuki, puruitaa kang patut, lan traping angganira, Ana uga angger ugering kaprabun, abon aboning panembah, kang kambah ing siang ratri.

(Karena itu sebisanya,Upayakan selalu berhati baik. Bergurulah secara tepat Yang sesuai dengan dirimu, Ada juga peraturan dan pedoman bernegara, Menjadi syarat bagi yang berbakti,yang berlaku siang malam.)

11
Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking tepa tulus, kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanjataning ngelmu, tan mesthi neng janma wreda, tuwin muda sudra kaki.

(Itulah nak, tanyakan Kepada para sarjana yang menimba ilmu jejak hidup para suri tauladan yang benar, dapat menahan hawa Nafsu Pengetahuanmu adalah senjatanya ilmu, Yang tidak harus dikuasai orang tua, Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak!)

12
Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning Jiwangga, Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, liring sepuh sepi hawa, awas roroning ngatunggil.

(Siapapun yang menerima wahyu Tuhan, Dengan cermat mencerna ilmu tinggi, Mampu menguasai ilmu kasampurnan, Kesempurnaan jiwa raga, Bila demikian pantas disebut “orang tua”. Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu. Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)

13
Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati.

(Tidaklah samar menyatunya sukma, meresap terpatri dalam keheningan semadi, Diendapkan dalam lubuk hati menjadi pembuka tabir, berawal dari keadaan antara sadar dan tiada, Seperti terlepasnya mimpi Merasuknya rasa yang sejati.)

14
Sajatine kang mangkono, wus kakenan nugrahaning Hyang Widi, bali alaming ngasuwung, tan karem karamean, ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira, mulane wong anom sami.

(Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan, Kembali ke alam yang kosong, tidak mengumbar nafsu duniawi, yang bersifat kuasa menguasai. Kembali keasal muasalmu, wahai anak muda)

Tidak ada komentar: