Google

Kamis, 12 Agustus 2010

Manajemen Nafsu

Puasa di bulan ramadhan berkaitan erat dengan nafsu. Kalau kita bisa mengatur nafsu, maka insyaallah ibadah kita akan diterima oleh GUSTI ALLAH. Tetapi jika nafsu manusia tidak terkendali, maka orang yang berpuasa akan menemui kepayahan demi kepayahan dalam beribadah. KH. Abdullah Gymnastiar (A'a Gym) pernah mengungkapkan metode manajemen qolbu. Tetapi tanpa disadari, manusia juga harus mampu mengelola nafsu ke arah kebaikan. Apakah manajemen nafsu itu? Bagaimana mengatur nafsu menjadi sebuah manajemen?

Setiap manusia di dunia ini memiliki nafsu. Kata nafsu belum tentu buruk. Jika seorang manusia tidak memiliki nafsu, maka ia akan menjadi manusia yang lemas, tidak mau melakukan aktivitas apapun. Ia cenderung duduk dan melamun. Dari situlah nafsu sangat diperlukan dalam hidup. Dengan berbekal nafsu itu, manusia akan mempunyai keinginan, mampu beraktivitas, mencari nafkah untuk keluarganya dan melakukan ibadah. Lho, kok nafsu bisa untuk tujuan beribadah?

Lha jelas sekali, nafsu juga untuk tujuan beribadah. Tetapi konotasinya bukan nafsu yang buruk. Nafsu untuk beribadah adalah keinginan untuk mendekatkan diri dengan GUSTI ALLAH. Tidak mungkin seseorang mampu mendekatkan diri kepada GUSTI ALLAH tanpa adanya nafsu. Tetapi nafsu untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH tersebut adalah cenderung nafsu yang terkendali. Artinya, kita bisa mengarahkan nafsu tersebut ke arah yang positif yakni mendekatkan diri pada Hyang Maha Suci.

Manajemen nafsu tersebut terbagi menjadi 2, yakni nafsu baik (nafsu) dan nafsu buruk (hawa nafsu). Sebuah nafsu adalah baik, tetapi jika nafsu tersebut kemasukan hawa akhirnya menjadi hawa nafsu. Nah, hawa nafsu inilah yang cenderung buruk. Di hawa nafsu buruk inilah tempat dimana setan bersembunyi. Ia hidup selaras dengan nafas dan keinginan manusia. Ada yang mengatakan,"Di Bulan Puasa setan diikat dan dirantai sehingga tidak bisa menggoda manusia. Pertanyaannya, setan manakah yang diikat dan dirantai? Padahal, setan yang selalu menggoda manusia untuk berbuat kejahatan itu terdapat di hati besarnya manusia. Ia hidup bersama manusia dan tahu pasti kelemahan setiap manusia.

Dengan melakoni puasa, manusia cenderung untuk menekan langkah setan untuk menggoda. Meskipun kadangkala ada juga orang yang masih tergoda walaupun dalam kondisi berpuasa. Ibadah puasa itu adalah urusan manusia itu sendiri dengan GUSTI ALLAH. Artinya, tidak boleh orang mencampuri urusan manusia lainnya dalam hal ibadah puasa. Sering kita lihat dan mendengar seseorang bertanya kepada orang lainnya,"Kamu nggak puasa?" Pertanyaan tersebut otomatis adalah pertanyaan yang mencampuri ibadah orang lain. Tentu saja si penanya dalam hal ini ingin menunjukkan pada orang yang ditanya bahwa dirinya berpuasa dengan dalih untuk mengingatkan. Hal itu juga termasuk nafsu yang berkategori hawa nafsu untuk menunjukkan kemampuan dirinya pada orang lain.

Contoh nafsu lainnya pada bulan puasa. Misalnya menjelang buka puasa pada pukul 4 sore, tiba-tiba seseorang berpikir akan berbuka apa. "Wah enaknya makan nasi rawon dan minum es campur," ungkapnya dalam batin. Perkataannya dalam batin tersebut lalu diwujudkannya dengan menuju ke sebuah warung dan membungkus es campur dan lauk rawonnya. Padahal masih jam 4 sore. Itu sama saja hawa nafsunya sudah mengajak untuk berbuka puasa pada pukul 4 sore.

Demikian juga dengan tadarus merupakan hal yang baik saat berpuasa, tetapi jika dilakukan dengan suara yang keras dengan keinginan hawa nafsunya untuk bisa didengar orang lain, itupun merupakan salah satu nafsu yang buruk.

Intinya, di bulan ramadhan ini, puasa merupakan ibadah untuk menekan hawa nafsu. Sehingga yang ada adalah nafsu yang baik untuk berserah diri pada GUSTI ALLAH. KENALILAH HAWA NAFSUMU, MAKA KAMU AKAN MAMPU MENGENDALIKANNYA.  Selamat menjalankan ibadah puasa.  

3 komentar:

jazzkord mengatakan...

Saya ada beberapa pertanyaan yang membuat saya sendiri bingung harus berbuat apa.

Bagaimana dengan Nafsu badan seperti lapar dan haus pada saat bulan puasa ?
Nafsu tersebutkan kebutuhan badan. apakah harus diikuti atau tidak ?

kalau tidak diikuti bukankah hawa nafsu yang bergerak ?

jazzkord mengatakan...

Saya mohon dijelaskan

Bagaimana dengan nafsu badan seperti rasa lapar dan rasa haus yang timbul pada saat berpuasa.

Apa yang harus dilakukan untuk hal ini ?

terima kasih

kejawen mengatakan...

namanya saja tujuan berpuasa untuk menahan hawa nafsu berupa makan, minum dan berhubungan seks dari mulai Subuh hingga Maghrib. Kalau Anda lapar dan haus saat puasa dan ingin minum, itu tandanya tidak bisa mengekang hawa nafsu.