Google

Minggu, 11 Januari 2009

Memahami Filosofi Leluhur Jawa


Leluhur masyarakat Jawa memiliki beraneka filosofi yang jika dicermati memiliki makna yang begitu dalam. Tetapi, anehnya filosofi yang diberikan oleh para leluhur itu saat ini dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Dibawah ini ada beberapa contoh filosofi dari para leluhur/nenek moyang masyarakat Jawa.



"Dadio banyu, ojo dadi watu" (Jadilah air, jangan jadi batu).

Kata-kata singkat yang penuh makna. Kelihatannya jika ditelaah memang manungso kang nduweni manunggaling roso itu harus tahu bagaimana caranya untuk dadi banyu.

Mengapa kita manusia ini harus bisa menjadi banyu (air)? Karena air itu bersifat menyejukkan. Ia menjadi kebutuhan orang banyak. Makhluk hidup yang diciptakan GUSTI ALLAH pasti membutuhkan air. Nah, air ini memiliki zat yang tidak keras. Artinya, dengan bentuknya yang cair, maka ia terasa lembut jika sampai di kulit kita.

Berbeda dengan watu (batu). Batu memiliki zat yang keras. Batu pun juga dibutuhkan manusia untuk membangun rumah maupun apapun. Pertanyaannya, lebih utama manakah menjadi air atau menjadi batu? Kuat manakah air atau batu?

Orang yang berpikir awam akan menyatakan bahwa batu lebih kuat. Tetapi bagi orang yang memahami keberadaan kedua zat tersebut, maka ia akan menyatakan lebih kuat air. Mengapa lebih kuat air daripada batu? Jawabannya sederhana saja, Anda tidak bisa menusuk air dengan belati. Tetapi anda bisa memecah batu dengan palu.

Artinya, meski terlihat lemah, namun air memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetes demi tetes air, akan mampu menghancurkan batu. Dari filosofi tersebut, kita bisa belajar bahwa hidup di dunia ini kita seharusnya lebih mengedepankan sifat lemah lembut bak air. Dunia ini penuh dengan permasalahan. Selesaikanlah segala permasalahan itu dengan meniru kelembutan dari air. Janganlah meniru kekerasan dari batu. Kalau Anda meniru kerasnya batu dalam menyelesaikan setiap permasalahan di dunia ini, maka masalah tersebut tentu akan menimbulkan permasalahan baru.

"Sopo Sing Temen Bakal Tinemu"

Filosofi lainnya adalah kata-kata "Sopo sing temen, bakal tinemu" (Siapa yang sungguh-sungguh mencari, bakal menemukan yang dicari). Tampaknya filosofi tersebut sangat jelas. Kalau Anda berniat untuk mencari ilmu nyata ataupun ilmu sejati, maka carilah dengan sungguh-sungguh, maka Anda akan menemukannya.

Namun jika Anda berusaha hanya setengah-setengah, maka jangan kecewa jika nanti Anda tidak akan mendapatkan yang anda cari. Filosofi di atas tentu saja masih berlaku hingga saat ini.

"Sopo sing kelangan bakal diparingi, sopo sing nyolong bakal kelangan"
(Siapa yang kehilangan bakal diberi, siapa yang mencuri bakal kehilangan).


Filosofi itupun juga memiliki kesan yang sangat dalam pada kehidupan. Artinya, nenek moyang kita dulu sudah menekankan agar kita tidak nyolong (mencuri) karena siapapun yang mencuri ia bakal kehilangan sesuatu (bukannya malah untung).

Contohnya, ada orang yang dicopet. Ia akan kehilangan uang yang dimilikinya di dalam dompetnya. Tetapi GUSTI ALLAH akan menggantinya dengan memberikan gantinya pada orang yang kehilangan tersebut. Tetapi bagi orang yang mencopet dompet tersebut, sebenarnya ia untung karena mendapat dompet itu. Namun,ia bakal dibuat kehilangan oleh GUSTI ALLAH, entah dalam bentuk apapun.

Dari filosofi tersebut, Nenek moyang kita sudah memberikan nasehat pada kita generasi penerus tentang keadilan GUSTI ALLAH itu. GUSTI ALLAH itu adalah hakim yang adil.

18 komentar:

agung mengatakan...

mantabs .. boleh aq kutip mas? nuwun

didik mengatakan...

Mantabs..
mugo^ wong jowo gak sampek ilang jowone..

Nurul mengatakan...

Mas nunut share..
Ki sarana ngangsu kawruh..
Nuwun..

RIEZTQYU BEAUTY BLOG mengatakan...

mas, kalau filosofi jawa tentang tatakrama ada gak? misalkan istri itu harus melayani makan suwaminya,mengambilkan nasinya dll. itu maksudnya apa gt.

Alif Lam Mim mengatakan...

Alif, Lam, Mim. Allah, Malaikat, Muhammad = Niat/hati, Ucapan, Perbuatan/amalan. salam erat u kejayaan kt

ISWANDI ICHSAN mengatakan...

Kamulyaning uripiku dumunung anaing tentreming ati....Monggo dipun suraos.Nuwun.

ISWANDI ICHSAN mengatakan...

Leluhur kita mengatakan >Ojo dumeh<

awanitrans mengatakan...

SANGAT FILOSOFIS DAN BERMANFAAT

Anonim mengatakan...

ya saya sangat merespon budaya Jawa
Kustonooct

riezadwiagustin mengatakan...

baik sbg motivasi....

Anonim mengatakan...

" karma", sopo sing nandur bakal ngunduh ( siapa yang menanam akan memetik hasil ).yang berbuat akan mendapatkan akibat / hasil dari perbuatan tersebut.

Anonim mengatakan...

isbuuht wokertaesonoLAA ini coba kita kembali ke jowo1
1.SEJATINE ORIP...kita hrs tahu sjatinya hidup ini kt semua ini yang py Allah s w t, dg begitu kalau semua orang tahu,baik pejabat dari kalangan atas sampai bw tahu betul2 sejatinya hidup yang py adallah Allah swt inysa allah bumi indonesia ini menjadi SUBUR TENTREM LO JINAWI

2.DALANE ORIP kt hdp di dunia ini lantaran bpk ibu < ini yang di maksud dg dalane orip marilah kt hormati ,kt mulyakan jalanya hdp ini siapa kira2??? yaitu bpk dan ibu

su wari mengatakan...

Sugeng dalu lare tanah jawi puju wetan,Ilmu kasunyata/ilmu sejati ,yg saya tahu ilmu sejati ini adalah awalnya dalah dari nenerapa ilmu yang disaring kemudian diambil yg bail-baiknya saja, lalu disabjo,disucikan yg akhirnya disebut ilmu sejati,jadi seseorang harus melakukan,menjalani beberapa ilmu tersebut untuk mencari sejatine urip,untuk melakukan,menjalani satu ilmu saja belun tentu bisa apaladi beberapa akhirnya yang didapar ............. capek ...deeeeeh...? mencari ilmu itu nggak perlu banyak-banyak cukup satu ilmu saja yang bisa dipergunakan untuk semuanya...beressss,.......nuwun

su wari mengatakan...

Sugeng dalu lare tanah jawi puju wetan,Ilmu kasunyata/ilmu sejati ,yg saya tahu ilmu sejati ini adalah awalnya dalah dari nenerapa ilmu yang disaring kemudian diambil yg bail-baiknya saja, lalu disabjo,disucikan yg akhirnya disebut ilmu sejati,jadi seseorang harus melakukan,menjalani beberapa ilmu tersebut untuk mencari sejatine urip,untuk melakukan,menjalani satu ilmu saja belun tentu bisa apaladi beberapa akhirnya yang didapar ............. capek ...deeeeeh...? mencari ilmu itu nggak perlu banyak-banyak cukup satu ilmu saja yang bisa dipergunakan untuk semuanya...beressss,.......nuwun

Verdi Laurent mengatakan...

Matur nuwun artikel'e, inspiring words indeed. Lestarikan terus budaya jawa! Jangan bilang orang jawa, yen ora iso njawani tutur lan perilakune.

Salam blogger,

Verdi

senonkovik bod hong mengatakan...

Mantap

Anonim mengatakan...

ngono yo ngono turojo ngono

Aditya manggala sugondo mengatakan...

Manteb tenan,seneng banget iso sinau filosofine wong jowo :)