Google

Senin, 17 November 2008

SANGKAN PARANING DUMADI


Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang
berbunyi "Sangkan Paraning Dumadi". Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.


Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.


Kawruhana sejatining urip/
(ketahuilah sejatinya hidup)
urip ana jroning alam donya/
(hidup di dalam alam dunia)
bebasane mampir ngombe/
(ibarat perumpamaan mampir minum)
umpama manuk mabur/
(ibarat burung terbang)
lunga saka kurungan neki/
(pergi dari kurungannya)
pundi pencokan benjang/
(dimana hinggapnya besok)
awja kongsi kaleru/
(jangan sampai keliru)
umpama lunga sesanja/
(umpama orang pergi bertandang)
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih/
(saling bertandang, yang pasti bakal pulang)
mulih mula mulanya
(pulang ke asal mulanya)

Kemanakah kita bakal 'pulang'?
Kemanakah setelah kita 'mampir ngombe' di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari 'kurungan' (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang
langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

"Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip,
akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang
kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya."
("Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia")

Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
"Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan." (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan")

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
"Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati". (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang
sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?

Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
"Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip."

(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

42 komentar:

sabdalangit mengatakan...

Sangkan paraning dumadi, memiliki dua dimensi.
vertikal dan horisontal. secara vertikal sebagaimana sudah panjenengan tulis di atas. secara horisontal, makna sangkan paraning dumadi adalah sikap selalu ingat akan jasa orang lain, jalan kita menjadi.. asal usul kita mendapatkan kebaikan, kesuksesan, atau kemuliaan hidup sekarang. termasuk meneruskan perjuangan, ajaran, amanat, para leluhur bangsa dimasa silam, kita teruskan di masa kini dan yad. bangsa ini menjadi merdeka dan besar, berkat jasa siapa ?,...kita harus menghormati dan menghargai sepanjang kita hidup. jadi..makna secara horisontal adalah "menjadi kacang yang tidak lupa akan kulitnya"

rahayu

http://sabdalangit.wordpress.com
membangun bumi nusantara yang berbudi pekerti luhur

Anonim mengatakan...

Mungkin lebih tepat: yang secara horisontal sebagai laku / budi pekerti UTOMO yang menjadi dasar / tahapan urip sejati, "Sangkan Paraning Dumadi dalam hal ini yang dimaksud adalah perjalanan Spiritual yang tidak akan lepas dari laku utomo.

Dengan laku utomo dalam kontek hubungan horisontal saling mengharagai, tulus, iklas, jujur, dan tidak merugikan orang lain "baik ajaran atau materi" adalah sebagai sebagai hal yang wajib untuk kesempurnaan Spiritual / perjalan Ruh kembali ke asal.

Suwun, mugi dadosaken renoning panggalih.

Anonim mengatakan...

Mungkin lebih tepat: yang secara horisontal sebagai laku / budi pekerti UTOMO yang menjadi dasar / tahapan urip sejati, "Sangkan Paraning Dumadi dalam hal ini yang dimaksud adalah perjalanan Spiritual yang tidak akan lepas dari laku utomo.

Dengan laku utomo dalam kontek hubungan horisontal saling mengharagai, tulus, iklas, jujur, dan tidak merugikan orang lain "baik ajaran atau materi" adalah sebagai sebagai hal yang wajib untuk kesempurnaan Spiritual / perjalan Ruh kembali ke asal.

Suwun, mugi dadosaken renoning panggalih.

Anonim mengatakan...

Mas cobe tolong deh saya diberi Penjelasan Dari mana sesungguhnya Kejawen itu? siapa / bagai mana Asal usul kejawen. bagaimana Bisa terjadi Faham kejawen, karena saya Lihat Selama ini terjadi kesimpang siuan Literatur. gak jelas gak seperti Kepercayaan Agama Yang bersumer jelas. mempunyai tuntunan dan mempunyai panutan.

Kadang saya malah berfikir jangan jangan kejawen adalah suatu gerakan yang menentang adanya Agama, karena mungkin faham ini tidak menginginkan panutan yang jelas, cenderung melakukan berdasarkan kemauanya sendiri, padahal kita diabat ini sudah jelas banyak tuntunan yang membawa kita menuju yang sepertinya mereka cari dan mungkin belum mereka temui (ALLOH).

sekali lagi tolong saya diberikan tentang asal usul kejawen (apa tuntunanya dan sipa panutanya)

mohon maaf jika ada kesalahan. matur nuwon

Anonim mengatakan...

Mas cobe tolong deh saya diberi Penjelasan Dari mana sesungguhnya Kejawen itu? siapa / bagai mana Asal usul kejawen. bagaimana Bisa terjadi Faham kejawen, karena saya Lihat Selama ini terjadi kesimpang siuan Literatur. gak jelas gak seperti Kepercayaan Agama Yang bersumer jelas. mempunyai tuntunan dan mempunyai panutan.

Kadang saya malah berfikir jangan jangan kejawen adalah suatu gerakan yang menentang adanya Agama, karena mungkin faham ini tidak menginginkan panutan yang jelas, cenderung melakukan berdasarkan kemauanya sendiri, padahal kita diabat ini sudah jelas banyak tuntunan yang membawa kita menuju yang sepertinya mereka cari dan mungkin belum mereka temui (ALLOH).

sekali lagi tolong saya diberikan tentang asal usul kejawen (apa tuntunanya dan sipa panutanya)

mohon maaf jika ada kesalahan. matur nuwon

kejawen mengatakan...

Kejawen itu berasal dari kata Jawa (baca Jowo). Orang Jawa belum tentu Jowo. Orang Jowo itu adalah orang yang senantiasa menyembah kepada GUSTI ALLAH, dan berbuat baik dengan seluruh makhluk hidup. Contoh, seorang anak berbakti pada orangtuanya disebut anak yang Jowo. Orang Jowo itu menghormati orang lain.
Kalau ditanya Kejawen dari mana, Kejawen itu berasal dari ajaran nenek moyang orang Jawa. Dalam Kejawen itu diajari berbagai ilmu kehidupan dan kematian.
Bagaimana mungkin Kejawen menentang agama yang ada. Lha wong, semua agama yang masuk Jawa itu Kejawen. Artinya, Islam dari Arab, jika masuk Jawa ya jadi Islam Kejawen, Hindu dari India menjadi Hindu Kejawen, Kristen dari Yerusalem jadi Kristen Kejawen. Semua agama yang masuk ke tanah Jawa harus menjadi Kejawen. Artinya, saling hormat menghormati kepada pemeluk agama maupun agama lainnya.
Jadi kalau ditanya mengenai siapa panutannya? Jelas, jawabannnya tidak ada panutannya. Semuanya berasal dari nenek moyang orang Jawa.

M. Zharief Jayadi mengatakan...

MAS, nggak bisa diulas lebih jelas dan rincikah? soalnya tiap ada ulasan yang berkaitan dengan SANGKAN PARANING DUMADI nggak pernah ada yang ngulas secara gambalng dan mudah dipahami. kalau dari kata dasarnya dari mana kita berasal disitu juga kita akan kembali. jadi untuk lebih jelasnya kita ini berasal dari mana, mau kemana, dan akan kembali kemana, dan bagaimana caranya secara detail jangan separo2. bingung nich kita jadinya?

kalau dalam ajaran yang lainkan ada urut2annya. mulai dari alam ruh sampai alam setelah kiamat baru endingnya kita masuk surga atau neraka. ya to?

Anonim mengatakan...

Dear All,

Tan kena kinaya ngapa.

Sangkan Paraning Dumadi dan Manunggaling Kawula lan Gusti, adalah pengalaman mistis.

Setelah menyadari 'hukum'/ 'aturan' hidup, proses pemahaman harus dilanjutkan pada kesadaran akan 'hukum' dan 'aturan' hidup, yang dilakukan bukan karena apa kata 'hukum' / 'aturan' tapi memaknai dan memahami untuk apa lalu kenapa. Saat sudah menyadari dan memahami dalam 'kesadaran penuh' berarti sudah seharusnya diterapkan dalam 'laku', nah setelah 'laku' (tidakannya) dijalankan dengan penuh kesadaran dalam pemahaman yang dalam.
Mustahil bagi orang yang tidak menahami 'hukum'/ 'aturan' hidup untuk dapat memahami 'sangkan paraning dumadi' apalagi 'manunggaling kawula lan gusti'.

Alam semesta ini penuh dengan misteri, sehingga untuk menguak misteri harus ada kesadaran dan pemahaman (apapun yang membimbing terhadap nilai-nilai spiritual dan religius)

Bencana alam dikatakan sebagai cobaan dari Tuhan....
Menderita karena 'rugi', dicuri harta bendanya' kebakaran... dll dikatakan sebagai cobaan dari Tuhan....
Tuhan tidak pernah mencobai manusia....
Yang ada, 'manusia hanya menuduh Tuhan sebagai penyebab derita'.
Menuduh Tuhan adalah "memberi cobaan" Tuhan, karena mengukur Tuhan dengan Logika dan Rasionalitas yang ujung2nya kesombongan manusia yang tampak.

Have positive days

Adventure mengatakan...

Saudaraku sekalian kalian tdk akan pernah mendapatkan ajaran Sangkan Paraning Dumadi.di Internet atau hanya ngobrol, di pinggir jalan. Semua akan di dapatkan pada orang khusus, ruang dan waktu khusus,dan kalo ada yg tahu S P D Dia tdk akan berani membukanya, Jadi saudara hanya akan mendapatkan obrolan biasa semata...Thank...

Anonim mengatakan...

Intinya, semua harus dijalani dan dirasakan sendiri ... krn pengalaman yg didapat pada setiap manusia itu berbeda-beda ... dengan menjalani dan merasakannya sendiri, akan timbul suatu keyakinan yang sifatnya "haqqul yaqin" pada diri sendiri, sehingga sudah menjadi "kata saya" bukan "kata dia atau katanya" lagi ....

agungpambudi72 mengatakan...

salam rahayu sagung dumadi

agungpambudi72 mengatakan...

Salam rahayu sagung dumadi

Anonim mengatakan...

Memang sulit untuk menjelaskan BAB pati seperti ini. Butuh pemahaman yang sangat luar biasa bagi orang awam seperti saya. Masing2 manusia memiliki daya tampung sendiri mengenai ilmu tsb. Kalo boleh saya ibaratkan, seperti gelas sebagai wadah air.

Anonim mengatakan...

Kejawen mrpk filosopi org jawa, berisi hal2 kebaikan. Hukum tatanan Jawa. Agama boleh berkembang, tpi tdk boleh fanatik berlebihan, atw memaksa ajaranya kpd org lain, atw menerapkan hukum agama itu sbg hukum negara. Pasti umat agama yg lain tdk dpt berkembang atw mengabarkan agamanya. Klo mau begitu Anda jangan hidup di negeri Jawa yg orgnya penuh toleransi, menghargai pendapat atw keyakinan org lain, tdk bodoh. Masa utk berdoa hrs memakai bahasa tertentu. Klo gak gitu gak sah, sdangkan Gusti Allah itu adil dan melihat hati. Akhir hidup adl menuju hidup selanjutnya, dimana yg baik mendapat pahala dan yg jahat mendapat hukuman

Sutrisno mengatakan...

Ibarat perjalanan ke suatu tujuan dengan mempergunakan kendaraan yang berbeda-beda, kita semua sebagai penumpang pasti akan sampai ke tujuan tersebut, tinggal kita "awas" (melek) dalam perjalanan ataupun kita hanya "tidur" (merem). Yang awas akan mengerti isi perjalanannya dan yang tidur tidak mengerti isi perjalanannya. Keduanya pasti akan sampai ke tujuannya.

Anonim mengatakan...

(pendapat pribadi bacanmaluku)menurut saya kejawen mirip tao aliran para sufi ajaran sikh mungkin ada ajaran lain yang sama dengan nama berbeda tergantung daerahnya.mereka semua mempercayai zat sejati sang maha pencipta.untuk menggambarkannya harus di jalani sendiri oleh pribadi masing2.di tao bilang tuhan/Allah yang bisa di bicarakan bukanlah tuhan/Allah.di kristen kita harus bisa menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.salah satu caranya meditasi atau wirid sampai kesadaran tertinggi kita dapat mendengar dan melihat zat sejati.coba baca filsafat para sufi,mereka islam tapi tidak fanatik seperti kebanyakan di indonesia.biasa yang sudah mengenal zat sejati tidak melihat lagi apa itu aliran agama.maaf kalau ada salah kata.peace...

andi.cahyono77 mengatakan...

Klo bhasa jawa itu sangkan paraning dumadi,tp klo bhasa arab itu innalillahi wa inna illaihi roji un,
sepurane niki mawon nggeh

PERMATA DEWA (BALI POWER CIRCUIT CONTROLLER) mengatakan...

tak ringkes aj yaaaaaa : pertama di dalam Gua yg gelap.
tidak bisa membedakan lorong dan dinding.
2.kita diberi obor , dan bisa membedakan dinding Gua dan lorong Gua.
3.ada sekelompok yg terpesona dengan dinding gUA ternyata penuh dengan permata yg indah
4.ada bagian kecil yg komitmen obor untk menulusuri lorong gua.
5.ada sedikit yg sampai di bibir Gua dan bertemu dengan Cahaya Matahari .
* kita tak mampu menilai orang yg udah dibir Gua , karena kita masih terikat Obor yg belum mampu melihat seekor semut di dalam Gua

Anonim mengatakan...

lepaslah segala nafsu,sa'at dalam fikiran tak ada lagi ke inginan,dan hanya ada satu tekat yaitu menuju tuhan,tak peduli lagi dg semua goda'an.
itu semua adalah pengalaman spiritual,sampai pada awang uwung.
coba kita fikirkan sa'at kita masih dalam kandungan,apa yang kita ketahui? itu hanya seprti sebuah kekosongan!
coba fikirkan apa yang kita temui sa'at kita tidur yang tanpa bermimpi?
tak ada yang kita temui,itu pun hanya seperti sebuah ke kosongan.
apa yang kita rasakan di waktu tidur tanpa sebuah mimpi melainkan hanya sebuah ketentraman.
dan jika boleh di ibaratkan,maka org tidur itu adalah org yg nafsunya sudah tidak berjalan lg,dan tidak menutupi hati manusia,coba anda fikirkan,apabila ada sese'org tidur pulas lalu di berikan makanan kesuka'anya di pinggir tempat tidurnya,meskipun harumnya makanan tersebut begitu semerbak,tetap saja org yg tidur tersebut tak peduli,kerena ketika tidur yang tanpa bermimpi seperti lenyaplah nafsu manusia.
firman tuhan:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang di tetapkan, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda - tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”
nah,untuk mengetahui sangkan paraning dumadi,sampai ke awang uwung dan merasakan kemanunggalan dg yg maha tunggal hendaknya kita lepaskan segala nafsu dan tahan dg segala goda'an,
berusaha dg sekuat hati dg sebuah perjalanan dan sebuah kesengaja'an untuk melepaskan segala nafsu seperti sa'at tidur kita yang tanpa mimpi,sa'at itulah akan kita dapatkan sebuah keheningan yang sejati,awang uwung,ketentraman yang melebihi tidur tanpa mimpi dan masuk pada alam tuhan,yaitu alam dari mana kita berasal dan kemana kita seharusnyA kembali.
inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.

mohon ma'af bila ada kesalahan mohon di betulkan!

kawulaning gusti

Anonim mengatakan...

dulur sedoyo.,,yen pingin weroh sejatining pangerten jowo{kejawen}smpean ibaratne lagi mangan kacang..mulai sko njobo{kulit}smpek isine seng di tuju,,, dadi kudhu bisa nyawang,ngrayai,ngrasakne,,, mulo ojo kesusu pingin truz ngerti,,,, kita wajib blajar supoyo dadi ngerti,,, bnener yen ono simpang siur soal kejawen,, soale wong siji lan sijine ora podo anggone ngartekne,,,,,gambaran wae seng gampang,,, itungan ongko mulai 0,1,2,,,,,9 sawise kui mbalik neng 10,, kui negesake yen ,, manungso asale ora ono dadi ono,, mamgkane besok bali neng ora ono{10} ws coba di pikir ulasan kui,,,, rahayu wilujeng,,,,

andi.cahyono77 mengatakan...

Sepurane kulo ajeng tangklet ingkang nuliz masalah manunggaling kawulo gusti.Npo panjenengan ngagemi ngelmu niku utowo jenengan mangertos teori mawon?Sak derenge sepurane nggeh.

fufung mengatakan...

tanduran iku nek cethek mancep neng lemah kuwi mesti gampang diwoco manungso, wow.. iku tanduran pari, iku telo, iku pisang lan liyo liyane. tanduran sing mancep neng lemah jeru iku mesti ora gampang di woco manungso, sing iso moco sing duwe kuwoso neng tanduran mau. iku ugo neng termasuk ajran budi pekerti luhur, conto, Rogo kamulyak ake, Roso Katentrem ake, lan Jiwo Kaluhurake. iku tanduran sing ora gampang kawoco manungso liyo. mekaten atur kulo matur nuwun RAHAYU.

Anonim mengatakan...

mugi kepareng urun rembug, mbok bilih sangkan paraning dumadi punika kados : ina lillahi wa ina illaihi rojiun

fandisurya mengatakan...

derek urun rembuk,,sakdereipun mendalami sesuatu milo kedhah gadah niat lan iman sarto tujuan ingkang sae ,,,ampun bimbang lan terus manegeh amprih saged kasembadan ing sedyo,,yen wus lulus sampun dipun agem piyambak ,kawruh kedah dipun werdiaken mring sesami,,kanthi tujuan ingkang utomo lan ugi kanthi coro ingkang utomo ,,mugi saget mayungi bawonooooooo

Anonim mengatakan...

hallo sahabatku,untuk bisa menemukan hidup tanpa mengalami kematian/maut saudara perlu seorang juru selamat yaitu orang yg sdh pernah mati tapi bangkit lagi utk hdp selamanya.Dialah yg disebut orang dgn nama satriyo piningit/ratu adil/yesus/isa/budha maitrea.Dia akan datang utk menyelamatkan org yg percaya padaNya & mengadili org yg tdk percaya sesuai dengan ajaran & larangan yg dianut PenghakimanNya adilisa menemukan hidup tanpa mengalami kematian/maut saudara perlu seorang juru selamat yaitu orang yg sdh pernah mati tapi bangkit lagi utk hdp selamanya.Dialah yg disebut orang dgn nama satriyo piningit/ratu adil/yesus/isa/budha maitrea.Dia akan datang utk menyelamatkan org yg percaya padaNya & mengadili org yg tdk percaya sesuai dengan ajaran & larangan yg dianut PenghakimanNya adil

Anonim mengatakan...

hallo sahabatku,untuk bisa menemukan hidup tanpa mengalami kematian/maut saudara perlu seorang juru selamat yaitu orang yg sdh pernah mati tapi bangkit lagi utk hdp selamanya.Dialah yg disebut orang dgn nama satriyo piningit/ratu adil/yesus/isa/budha maitrea.Dia akan datang utk menyelamatkan org yg percaya padaNya & mengadili org yg tdk percaya sesuai dengan ajaran & larangan yg dianut PenghakimanNya adilisa menemukan hidup tanpa mengalami kematian/maut saudara perlu seorang juru selamat yaitu orang yg sdh pernah mati tapi bangkit lagi utk hdp selamanya.Dialah yg disebut orang dgn nama satriyo piningit/ratu adil/yesus/isa/budha maitrea.Dia akan datang utk menyelamatkan org yg percaya padaNya & mengadili org yg tdk percaya sesuai dengan ajaran & larangan yg dianut PenghakimanNya adil

Anonim mengatakan...

hallo sahabatku,untuk bisa menemukan hidup tanpa mengalami kematian/maut saudara perlu seorang juru selamat yaitu orang yg sdh pernah mati tapi bangkit lagi utk hdp selamanya.Dialah yg disebut orang dgn nama satriyo piningit/ratu adil/yesus/isa/budha maitrea.Dia akan datang utk menyelamatkan org yg percaya padaNya & mengadili org yg tdk percaya sesuai dengan ajaran & larangan yg dianut PenghakimanNya adilisa menemukan hidup tanpa mengalami kematian/maut saudara perlu seorang juru selamat yaitu orang yg sdh pernah mati tapi bangkit lagi utk hdp selamanya.Dialah yg disebut orang dgn nama satriyo piningit/ratu adil/yesus/isa/budha maitrea.Dia akan datang utk menyelamatkan org yg percaya padaNya & mengadili org yg tdk percaya sesuai dengan ajaran & larangan yg dianut PenghakimanNya adil

Anonim mengatakan...

Semar aliran kepercayaan di seluruh dunia ada hanya beda huruf, bahasa, tata cara aliran kepercayaan belajar sendiri, mempelari alam se isinya yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan dengan lahir dan batin. matur nuwun

aqombahedinsblog mengatakan...

kejawen itu sebenarnya apa sih? sikap,agama,atau aliran ? sebab di setiap agama di jawa ada kejawen smua(itu yg saya dengar),,mohon penjelasan,,
matur nuwun

Anonim mengatakan...

Copas ke blog saya ya mas... matur nuwun

Bayu Pri mengatakan...

dari bayu prihartono
e-mail : bayu.sniper@gmail.com

sak derenge kulo lan dulur kulo nyuwun ngapunten seng katah/ sya minta maaf se banyak2 nya

ini semua membicarakan ke jawen. . .
Ini pengalaman saya ketika semedi/ meditasi
saya bertemu pada suatu roh, dia mirip saya tpi bukan saya artinya saya sadar itu bukan tapi suatu kekuatan gaib yg membentuk wujud bayangan seperti saya. Mungkin menurut anda apa maksut nya. . .


Itu yg pertama
yg ke 2 dimana, siapa, dan bagaimana bentuk nya allah, atau agama lain menyebutnya dengan apa, dan banyak manusia beralasan tidak tau dimana allah bahkan ada yg menyebutkan hati kita penuh dosa tidak bisa melihatnya anda salah besar
mungkin anda berpikir apa hubunganya dgn kejawen



yg ketiga dan terakir dari hasil semedi saya ini adalah kunci dari hasil semedi saya
anda mungkin mengenal kata ghaib,goib, tidak nyata, klenik, tidak nampak mata, dunia lain




kejawen bukan agama, dri namax saja kejawen, artinya jowo ne nemen, kalo udah jawanya sangat sangat jawa, maka semua agma akan hilang, apa tujuan agama. . Tujuanya hanya sifat/moral, kesadaran, diri sendiri

nah diri sendiri ini maksutnya adalah adigang, adigung,adiguna terhadap sesamanya
nah dimana jawa atau jowo ini adalah suatu panutan kesadaran tanpa batas agar kita dapat mengenal alam setelah kita mati atau alam roh,atau alam gaib
mdngapa kesadaran tanpa batas?
Pertanyaan saya apakah anda pernah sadar anda sedang berada di dalam mimpi dan di mimpi anda berkata aku loh sedang mimpi, orang tidur bukan sekedar melepas lelah tapi anda harus sadar bahwa dengan tidur kita dapat melepas jiwa atau sukma kita yg selama membuka mata jiwa kita yg berkerja keras, jadi hnti nxa jawa itu atau kejawen adalah pelajaran atau ilmu mendapat sesuatu yg tidak nyata dan menjadi senjata kita atau kunci kita mengetahui asal mula manusia dan isi jagat ini siapa yg mencinptakan dan dimana dia? Saya tidak tau apa apa saya hanya tau nasi putih di makan jadi kotoran warnanya kuning
itu setitik air dari kejawen selebihnya anda cari sendiri ini no mer hp saya jika anda perlu dengan saya 089677010716

Anonim mengatakan...

para pemerhati yang budiman........... ada sesuatu hal yang nanti kita dapatkan dari ajaran SPD ini yang laku roso dalam kesadaran yang hakiki kesadaran akan hidup di dunia ini kesadaran setelah kita kembali ke alam akherat atau kelanggengan dengan keyakinan bahwa kita sudah membawa laku yang di dunia ini untuk kembali ke alam sejatinya tentunya ada perjalanan lagi yang harus di tuntasakan oleh ruh yang kembali ke alam sejatinya sesuai laku roso di dunia

Anonim mengatakan...

para pemerhati yang budiman........... ada sesuatu hal yang nanti kita dapatkan dari ajaran SPD ini yang laku roso dalam kesadaran yang hakiki kesadaran akan hidup di dunia ini kesadaran setelah kita kembali ke alam akherat atau kelanggengan dengan keyakinan bahwa kita sudah membawa laku yang di dunia ini untuk kembali ke alam sejatinya tentunya ada perjalanan lagi yang harus di tuntasakan oleh ruh yang kembali ke alam sejatinya sesuai laku roso di dunia

hambeg lugu mengatakan...

jika ingin belajar lebih dalam tentang kejawen, telusurilah karya-karya kejawen, itulah yang paling terlihat, entah itu karya berupa tarian, atau sastra jawa, wayang terutama. kejawen memiliki ciri khusus dan mandiri, dan merupakan budaya leluhur yang tak bisa lenyap meski agama2 muncul di jawa. Semua faham yang tumbuh di jawa merupakan asimilasi/ penggabungan budaya yang akhirnya menjadi kejawen, tetapi jika tidak , ia akan musna entah karena evolusi atau revolusi.
SPD menurut saya sangat berkaitan erat dengan alam kelanggengan, alam abadi, apa2 yang dicari dalam kehidupan adalah untuk mencari keabadian, maka dekatlah sedekat dekatnya dengan Yang Maha Abadi/ Hyang Suksma Kawekas. Kemudian ada yang menggolongkan ke arah sufi, bukankah ras jawa adalah ras sufi, tak ada senjata yang dibawa saat berjalan.

Anonim mengatakan...

sawise aku nggudak sangkan paran iki, akeh guru tak takok'i buku tak woco jiwo rago tak neng lan ning no, aku rumongso kroso. sejatine laku iku sing tak goleki jebul aku kudu ngerti lan iling yen sejatine siji "ora pisah".
paham sing sak urunge tak rasakno iku jebul ono rong bagian sing ndadekno angel dingerteni, yoiku kawitan aku lan sembahanku adep adepan, kepindo aku diulang wirid dzikir supoyo rumongso nyawiji sing ono umum diarani "manunggale kawulo gusti"... monggo poro ingkang sampun pirso kulo nyuwun pitedah..........

Anonim mengatakan...

jowo jawi jawaneng manunggale gusti,menungso kudu ngerti marang kawitane/asal mula sebelum lahir, mundak getun tembe burine,orang hidup harus punya suatu pedoman seperti,apa sih hidup itu... untuk apa hidup itu...mengapa aku hidup..
seperti apa hidup itu...kemana arahnya hidup itu...kemana tujuannya hidup itu...dimana tempatnya hidup itu...jika ingin tahu jawabannya ,menungso kudu wani anggula wentah uripe dewe,memang jawa asal tanah ibu pertiwi ini sedangkan kejawen kepercayaan manusia pertama yang menempati tanah ibu pertiwi ini matur nuwun.

su wari mengatakan...

Numpang cangkruan mas...? menurut pendapat saya brgini.... wong urip iku kudu ngerti maknone urip unjal mrocot songko guo barbane ibu dan kita harus mempunyai beberapa pertanyaan seperti: apa sih hidup itu..mengapa aku hidup..untuk apa aku hidup...seperti apa hidup itu..akan dibawa kemana hidup itu..
dimana tempatmya hidup itu...ate urip ping piro mengkone..dan masih banyak lagi, yang jelas untuk menjawab semua itu manusia harus brani anggulo wentah uripe dewe ,jika semua ter jawab maka manusia akan tahu tempatnya hidup.seharusnya manusia brani cerita hatus sudah tahu,melihat menjalani dan membuktikan jika tak pernah ngalami janganlah cerita matur nuwun

balicank mengatakan...

Kejawen adalah aliran Hindu Jawa yang berlandaskan Hindu Dharma bahkan Budha, semua pengetahuan tentang masih di pakai oleh orang2 yg kejawen, terjadi proses jawanisasi ajaran-ajaran Hinduse begitu juga terjadi proses balinisasi thdp ajaran Hindu setelah sekian lama, tidak dengan ajaran lain yang malah sebaliknya
Hindu Dharma merupakan pengetahuan yang bersifat fleksibel dan universal , ten-tunya Hindu dharma akan membuka diri pada budaya apa saja yang tentunya se-suai dengan falsafah Hindu itu sendiri. Budaya yang sesuai dengan Hindu itu akan mengalami akulturasi dengan peradaban Hindu sehingga membentuk suatu corak baru yang khas dan menam-bah keragaman budaya bahkan filsafat-filsafat Hindu sendiri masih tetap digunakan. Jadi, meskipun jarang terdengar,Hindu Kejawen merupakan akar dari Budaya-Budaya di Pulau Jawa.jadi kata yang cocok adalah saling mempengaruhi dan di pengaruhi
Sangkan Paraning Dumadi
Tidak ada perbedaan antara manusia satu dengan lainnya. Semuanya berasal dari satu yakni Tuhan itu sendiri. Dan nantinya jika kehidupan yang dilakoni di dunia ini sudah usai, maka makhluk hidup semuanya juga akan kembali ke Nyang satu, angin dalam gentong sama dengan angin di luar gentong, air dlm botol bersal dari sumbernya samudra, begitu juga sang roh/Atman kembali ke asalnya yaitu PARATMAN/Tuhan,/ Tat Twam Asi adalah "aku adalah engkau, engkau adalah aku.Aku berarti kita semua percikan2 Roh dan Superroh/Tuhan itu sendiri, kita adalah sama.Karena pada diri kita ada Atman, yang tak lain adalah cahaya atau pancaran energi Tuhan, maka hakekat Atman adalah juga œkekosongan yang padat energi itu. Dengan demikian apabila dalam diri kita hanya ada Atman, tanpa ada muatan yang lain, misalnya nafsu dan keinginan, maka energi Atman itu akan berhubungan atau menyatu dengan sang sumber energi. Untuk itu yang diperlukan dalam usaha pencarian adalah mempelajari proses penyatuan antara Atman dengan Brahman itu. Logikanya, apabila hakekat Tuhan adalah kekosongan maka untuk menyatukan diri, maka diri kita pun harus kosongân, Sebab hanya yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosongân. Caranya dengan berusaha mengosongkan diri atau membersihkan diri dengan menghilangan muatan-muatan yang membebani Atman yang berupa berbagai nafsu/ indria2 dan keinginan. Dengan kata lain berusaha membangkitkan energi Atman agar tersambung dengan energi Brahman.seperti mengisi air bersih di potharuslah mengosongkan isi pot itu dahulu, Dengan uraian di atas maka cara yang harus ditempuh adalah melaksanakan yoga samadi/ pencapaian kesadaran diri/ atman, yang intinya adalah menghentikan segala aktifitas pikiran beserta semua nafsu dan keinginan yang membebaninya. Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah menjadikan diri kekosongân. Karena itu salah satu caranya adalah dengan Amati Karya menghentikan segala aktifitas kerja.
Apabila kekosonganâ merupakan hakekat Tuhan,Sang Maha Kosongân itu adalah perwujudan dalam bentuk lain dari apa yang dicari orang Jawa lewat kidung-kidung kuna itu? Apa sebabnya di Jawa tidak ada dan baru diwujudkan dalam bentuk bangunan ketika leluhur Jawa berada di Bali? Mungkin saat itu di Jawa memang tidak membutuhkan

balicank mengatakan...

hal itu, karena masyarakat Jawa lebih mementingkan pemujaan leluhur yang dianggap sebagai pengejawantahan Tuhanâ. Kata-kata Wong tuwa iku Pangeran katon atau Orang tua (leluhur) itu Tuhan yang nampak, adalah bukti adanya kepercayaan tersebut. Itulah sebabnya di Jawa tidak ditemukan Padmasana, tetapi lingga yoni. Baru setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, Padmasama mulai ada di Bali. Konon sementara sejarawan berpendapat bahwa Padmasana adalah karya monumental Danghyang Dwijendra, seorang Pandita Hindu yang pindah dari Jawa ke Bali, setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit.
Hubungan Tuhan dengan Ciptaannya.

Tentang hubungan Tuhan dengan ciptaanNYA, orang Jawa menyatakan bahwa Tuhan menyatu dengan ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaannya itu digambarkan sebagai curiga manjing warangka, warangka manjing curiga, seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerisnya. Meski ciptaannya selalu berubah atau menjadi (dumadi), Tuhan tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada ciptaanNYA. Dalam kalimat puitis orang Jawa mengatakan: Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, nganakake banyu manggon ing banyu ora teles dening banyu. Artinya, Tuhan mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar, mencipta air bertempat di air tetapi tidak basah. Sama dengan pengertian wyapi, wyapaka dan nirwikara dalam agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan pun disimbolkan sebagai bunga teratai atau sekar tunjung, yang tidak pernah basah dan kotor meski bertempat di air keruh. Ceritera tentang Bima bertemu dengan Hanomanân, kera putih lambang kesucian batin, dalam usahanya mencari tunjung biru atau teratai biru adalah sehubungan dengan pencarian Tuhan. Menyatunya Tuhan dengan ciptaanNYA secara simbolis juga dikatakan kaya kodok ngemuli leng, kaya kodhok kinemulan ing lengâ, seperti katak menyelimuti liangnya dan seperti katak terselimuti liangnya. Pengertiannya sama dengan istilah immanen sekaligus transenden dalam filsafat modern, yang dalam Bhagavad Gita dikatakan DIA ada padaKU dan AKU ada padaNYA.

Dengan pengertian demikian maka jarak antara Tuhan dan ciptaannya pun menjadi tak terukur lagi. Tentang hal ini orang Jawa mengatakan: adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan, artinya jauh tanpa batas, dekat namun tak bersentuhan. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya filsafat Jawa adalah Hinduisme, yang monotheisme pantheistis. Karena itu pengertian Brahman Atman Aikyam, atau Tuhan dan Atman Tunggal, juga dinyatakan dengan kata-kata Gusti lan kawula iku tunggal. Di sini pengertian Gusti adalah Tuhan yang juga disebut Ingsun, sedang Kawula adalah Atman yang juga disebut Sira, hingga kalimat Tat Twam Asi pun secara tepat dijawakan dengan kata kata Sira Iku Ingsun atau Engkau adalah Aku, yang artinya sama dengan kata-kata Atman itu Brahman. Pemahaman yang demikian itu tentunya memungkinkan terjadinya salah tafsir, karena menganggap manusia itu sama dengan Tuhan. Untuk menghindari pendapat yang demikian, orang Jawa dengan bijak menepis dengan kata-kata ya ngono ning ora ngono, yang artinya ya begitu tetapi tidak seperti itu. Mungkin sikap demikian inilah yang menyebabkan sesekali muncul anggapan bahwa pada dasarnya orang Jawa penganut pantheisme yang polytheistis, sebab pengertian keberadaan Tuhan yang menyatu dengan ciptaannya ditafsirkan sebagai Tuhan berada di apa saja dan siapa saja, hingga apa saja dan siapa saja bisa diTuhankan. Anggapan demikian tentulah salah, sebab Brahman bukan Atman dan Gusti bukan Kawula walau keberadaan keduanya selalu menyatu. Brahman adalah sumber energi, sedang Atman cahayanya. Kesatuan antara Krisna dan Arjuna oleh para dalang wayang sering digambarkan seperti api dan cahayanya, yang dalam bahasa Jawa kaya geni lan urub, AKU ADALAH KAMU/AKU ADALAH TUHAN TANPA BADAN material ini ,Berdasarkan kesadaran rohani, bukan berarti Aku Tuhan tapi bagian dari Tuhan itu sendiri seperti Api dan Aku adalah Percikanya.

semar mendem mengatakan...

tak sawang kbeh gk mahami tpi sok ngerti

andi culd mengatakan...

podo pinter ngomong... lakone kuwi endi??

Anonim mengatakan...

sir allah dzat allah sifat allah wujud allah asma allah langgeng tan kenaning owah, rahayu rahayu