Google

Saturday, March 15, 2008

Belajar Pada GURU SEJATI


Mau tidak mau, makhluk hidup harus mempercayai pada sesuatu yang ghaib. Apabila tidak mempercayai hal yang ghaib, berarti kita sudah tidak percaya pada GUSTI ALLAH. Lho kok bisa? Jelas bisa. Alasannya, bukankah GUSTI ALLAH itu ghaib? Antara manusia dan GUSTI ALLAH terdapat ribuan hijab yang menutupi sehingga kita tidak bisa melihatNYA secara langsung.

Bahkan kita tidak bisa merabaNYA karena GUSTI ALLAH itu sifatnya tidak wujud.Kalau wujud, berarti bukanlah GUSTI ALLAH.

Itulah yang harus kita jadikan sebagai pegangan agar kita tidak terperdaya dalam memahami dan menyembah pada yang bukan GUSTI ALLAH.

Nah, seperti dijelaskan GUSTI ALLAH lewat Al'Quran, ALLAH sendiri sangat dekat. GUSTI ALLAH dalam Al'Quran menjelaskan yang kurang lebih artinya, "Kalau engkau bertanya tentang AKU, AKU ini sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu sendiri." Dari situlah kita bisa melihat bahwa GUSTI ALLAH itu dekat.

Pada tubuh seluruh manusia terdapat GUSTI ALLAH. Dimanakah posisiNYA? GUSTI ALLAH itu berada pada hati nurani yang paling dalam. Hati manusia dibagi menjadi 2 bagian yakni hati besar dan hati kecil. Perlu diketahui bahwa hati besar selalu berkata bohong, menghasut, iri, dengki dan lainnya. Sedangkan hati kecil selalu mengatakan hal-hal yang bersifat kebaikan, sabar, lembut dll.

Pada hati kecil itulah GUSTI ALLAH bersemayam. Namun kita tidak bisa memburu keberadaan GUSTI ALLAH dikarenakan adanya ribuan hijab yang menghalangi itu sendiri. GUSTI ALLAH akan menyatu dan menguasai tubuh kita, jika GUSTI ALLAH sendiri yang berkehendak.

Dalam pikiran manusia juga dibagi menjadi 2 yaitu pikiran materiil dan spirituil. Kalau pikiran materiil yang lebih menonjol, tentu manusia itu akan memburu hal-hal yang bersifat materiil seperti kekayaan, kemakmuran, pangkat, jabatan, lawan jenis dan lainnya. Namun kalau pikiran spirituil yang menonjol, maka seorang manusia boleh dikatakan hampir mirip dengan malaikat. Oleh karena itu, antara sisi materiil dan spirituil haruslah seimbang. Di satu sisi kita wajib bekerja untuk mencari materi, di sisi lain kita juga wajib untuk manembah dan memuji kebesaran GUSTI.

Untuk mendalami sisi spirituil, GUSTI ALLAH menciptakan piranti yang disebut dengan GURU SEJATI. Sebetulnya antara GUSTI ALLAH dan GURU SEJATI itu pada prinsipnya sama. Jika seseorang mulai memiliki keinginan dan kerinduan terhadap TUHAN, maka GURU SEJATI itulah yang akan memandu untuk lebih bisa mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.

Bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa GURU SEJATI yang ada pada manusia itu adalah NUR MUHAMMAD. Pendapat itupun ada benarnya. Pasalnya, manusia yang hidup di dunia ini selalu memiliki NUR MUHAMMAD. NUR MUHAMMAD itulah yang menjadi penghubung antara seorang manusia dengan GUSTI ALLAH.

Nah, biasanya GURU SEJATI itu senantiasa mengajarkan lewat kata hati kita. Ia senantiasa menggerakkan rasa dan hati kita untuk selalu mendekat kepada GUSTI. Bahkan tidak jarang GURU SEJATI juga mengajarkan apa yang harus dilakukan dalam sebuah ritual. GURU SEJATI bersemayam dalam rasa.

Contohnya, pernahkah Anda merasa kesepian walaupun berada di tengah keramaian? Nah, kalau Anda sedang dalam posisi seperti itu, cobalah untuk mendengarkan hati kecil Anda dan mengikuti rasa yang muncul. Sebab kata hati kecil dan rasa itu adalah GURU SEJATI Anda sendiri. Setiap manusia memiliki GURU SEJATI. Tergantung manusia itu sendiri apakah GURU SEJATI tersebut lebih banyak didengarkan ataupun lebih memilih untuk mendengarkan hati besar yang dipenuhi oleh setan.

Untuk itu, kenalilah GURU SEJATI Anda. Dengan mengenali GURU SEJATI Anda, maka Anda akan bisa selalu 'bermesraan' dengan GUSTI ALLAH. Paling tidak, rasa yang akan muncul adalah kedamaian dan ketentraman yang ada dalam diri Anda, meskipun Anda tidak memiliki uang. Penasaran? Coba Anda praktekkan sendiri.

Friday, February 1, 2008

Belajarlah Mati Sebelum Kematian itu Datang


     "Belajarlah Mati sebelum kematian itu datang". Kata-kata itu sepertinya hanya sebuah kata iseng yang diucapkan. Tetapi jika kita telaah dan pahami secara rinci, kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam dan sarat ilmu.
 

    Belajar mati disini bukanlah dalam artian kita harus bunuh diri untuk bisa mengecap sebuah kematian. Tetapi arti kata belajar mati di sini adalah mematikan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa bertemu dengan Sang Khaliq.
      Orang yang beragama Islam juga memiliki kata-kata seperti itu yakni "Sholatlah kamu sebelum kamu disholati orang lain". Artinya, bagi orang yang beragama Islam harus menjalankan sholat yang sejati. Bukan sholat yang hanya sekedar "gugur kewajiban" saja. Tetapi sholat disini adalah mengenal, menghadap, menyembah Allah. Dengan sholat, kita bisa mengenali Allah. Dengan Sholat kita bisa berbicara dan berkomunikasi dengan Allah. Seusai sholat, kita akan bisa merasakan kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah.
      Kembali pada pokok bahasan belajar mati. Dalam hal ini, belajar mati adalah berdiam diri (meditasi/samadhi) dengan mematikan hawa nafsu, pancaindera dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nafsu. Semata-mata yang bergerak adalah hati dan rasa. Rasa sejati dengan bimbingan dari Gusti ALLAH lewat Guru Sejati. Dengan samadhi/meditasi, maka seseorang bisa mematikan diri sendiri dan berkontemplasi, konsentrasi menghadap khusuk pada Gusti ALLAH.
      Dengan samadhi/meditasi, kita meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan memasuki alam lain yakni alam jabarut, malakut hingga alam ilahiah. Dengan memasuki berbagai alam ini kita akan bisa melihat kebesaran dari Gusti ALLAH akan semua makhluk ciptaannya. Jika hal itu sering kita lakukan, maka sewaktu-waktu jika kita dipanggil oleh Gusti ALLAH (meninggal dunia), kita sudah siap.

Mengetuk Pintu Gusti ALLAH
      Tidak ada bedanya tatakrama ketika kita bertamu dengan ketika kita menghadap pada Gusti ALLAH. Kalau kita bertamu ke rumah rekan atau sahabat, tentunya harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum siempunya rumah keluar. Demikian pula ketika hendak menghadap pada Gusti ALLAH. Kita harus mengetuk pintuNYA.
      Mengetuk pintuNYA itu tidak dalam artian yang sebenarnya. Tetapi dalam artian meminta ijinNYA untuk bisa masuk ke alamnya. Manusia tidak akan bisa masuk dengan sendirinya tanpa mengetuk pintu Gusti ALLAH itu. Cara mengetuk pintu tersebut adalah dengan doa yang disebut dengan doa kunci.
      Doa tersebut hendaknya dibaca tujuh kali dengan menahan napas setiap kali membacanya. Doa tersebut berbunyi:

Gusti Ingkang Moho Suci
Kulo Nyuwun Pangapuro Dhumateng Gusti Ingkang Moho Suci
Sirrullah, Dzatullah, Sifatullah
Kulo Sejatining Satrio Nyuwun Panguoso
Kulo Nyuwun Kanggo Tumindhake Satrio Sejati
Kulo Nyuwun Kanggo Anyirnakake Tumindak Ingkang Luput.


     Dengan mengetuk pintu Gusti ALLAH tersebut, maka kita sudah bisa melanglang buana milik ALLAH yang tidak semua orang bisa memasukinya. Tentu saja, semua itu atas izin dari Gusti ALLAH sendiri sebagai pemilik alam semesta. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat berguna. Rahayu...Rahayu....Rahayu....

Wednesday, January 9, 2008

PEPALI KI AGENG SELO (1)

1. pepali-ku ajinen mbrekati
tur selamet sarta kuwarasan
pepali iku mangkene :
- awja agawe angkuh
- awja ladak lan ajwa jail
- awja ati serakah
- awja celimut
- awja mburu aleman
- awja ladak, wong ladak pan gelis mati
- lan ajwa laku ngiwa

ARTINYA : ajaran hargai agar memberkahi
lagipun selamat, sehat
pepali itu demikian :
- jangan berbuat angkuh
- jangan bengis dan jangan jahil
- jangan tamak hatimu
- jangan pun panjang tangan
- jangan memburu pujian
- jangan angkuh, yang angkuh lekat koit
- jangan hendak bersikap negatif/buruk



2. padha sira titirua kaki
jalma patrap iku kasihana
iku arahen sawabe
ambrekati wong iku
nora kena sira wadani
tiniru iku kena
pambegane alus
yen angucap ngarah-arah
yen alungguh nora pegat ngati-ati
nora gelem gumampang

3. sapa sapa wong kang gawe becik
nora wurung mbenjang manggih harja
tekeng saturun-turune
yen sira dadi agung
amarentah marang wong cilik
awja sedaya-daya
mundhak ora tulus
nggonmu dadi pangauban
awja nacah, marentaha kang patitis
nganggowa tepa-tepa

4. padha sira ngestokena kaki
tutur ingsun kang nedya utama
angharjani sarirane
wya nganti seling surup
yen tumpangsuh iku niwasi
hanggung atelanjukan
temah sasar susur
tengraning jalma utama
bisa nimbang kang ala lawan kang becik
rasa rasaning kembang

5. kawruhana pambengkasing kardi
pakuning rat lelananging jagad
pambengkasing jagad kabeh
amung budi rahayu
setya tuhu marang HYANG WIDHI
warastra pira-pira
kang hanggung ginunggung
kasor dening tyas raharja
harjaning rat punika pakuning bumi
kabeh kapiyarsakna

6. poma poma anak putu mami
awja sira ngegungake akal
wong akal ilang baguse
dipun idhep wong bagus
bagus iku dudu mas picis
lawan dudu sandhangan
dudu rupa iku
bagus iku nyatanira
yen dinulu asih semune prakati
patrap solah prasaja

7. lawan awja dhemen ngaji-aji (mujizat)
awja sira kepengin kedhotan
kadigdayan apa dene
awja sira mbedhukun
awja ndhalang lan awja grami
awja budi-sudhagar
awja watak-kaum
kang den ajab mung ruruba
kaum iku padune cukeng abengis
iku kaum sanyata

8. kumbah krakah cukit lan andulit
miwah jagal melanten kumala
iku nora dadi gedhe
wajib sinirik iku
pan wus awja ngaruh-aruhi
awja doyan sembrana
matuh analutuh
niwasi barang karya
wong sembrana temahane nora becik
nyenyenges nanjak-nanjak

9. pae wong MAKRIFAT sejati
tingkah una-unine prasaja
dadi panengran gedhene
eseme kadi juruh
saujare manis trus ati
iku ingaran dhomas
wong bodho puniku
ingkang jero isi emas
ingkang nduwe bale kencana puniki
bola-bali kinenca

10. keh tepane mring sagun ging urip
pan uninga ati tengu gengnya
ingkang sasingkal gedhene
endhog bisa keluruk
miwah geni binakar warih
iku talining barat (angin)
kawruhana iku
manjing atos nora renggang
bisa mrojol ing kerep dipun kawruhi
kang cendhak kethokana

11. awja watak sira sugih wani
awja watak sok ngajak tukaran
awja ngendelke kuwanen
awja watak anguthuh
awja ewanan lan awja jail
awja ati canthula
ala kang tinemu
sing sapa atine ala
nora wurung bilahi pinanggih wuri
wong ala nemu ala

12. poma poma anak putu mami
awja sira mengeran busana
awja ngendelken pintere
awja anggunggung laku
ing wong urip dipun titeni
aketareng basa
katandha ing semu
semu becik, semu ala
sayektine ana tingkah solah muni
katon amawa cahya

13. awja sira amadhakken jalmi
amarentah kaya sato kewan
kebo sapi miwah iwen
awja sira prih weruh
kaya uwong pan nora ngreti
awja kaya si Soma
kebone pinukul
sababe sinau maca
yen bisoa nora beda padha urip
mulane awewuda

14. ayam ginusah yen munggah panti
atanapi lamun mangan beras
kebo ngadhangan bae
iku wong olah semu
lamun sira tetanggan kaki
yen layah ingaruhan
aruhana iku
yen tan layak enengena
apan iku nggemeni darbek pribadi
pan dudu rayatira

15. patrapena rayatira kaki
anak putu sanak presanakan
enakena ing atine
lamun sira amuruk
weruhena yen durung sisip
yen wus ketiwasan
awja sira tutuh
kelangan tambah duraka
yen wus tiwas sira umpah-umpahi kaki
tur iku mundhak apa

16. bumi geni banyu miwah angin
pan srengenge lintang lan rembulan
iku kabeh aneng kene
segara jurang gunung
padhang peteng padha sumandhing
adoh kalawan perak
wus aneng sireku
mulane ana wong ngucap
sapa bisa wong iku njaring angin
jaba jalma utama

17. tama temen tumanem ing ati
atinira tan nganggo was-uwas
waspada marang ciptane
tan ana liyanipun
muhung cipta harjaning ragi
miwah harjaning wuntat
ciptane nrus kalbu
nuhoni ingkang wawenang
wenangira kawula punika pesthi
sumangga ring kadarman