KEBERADAAN dunia ini dibagi menjadi 2. Yaitu alam dunia tempat kita hidup saat ini dan alam spiritual, tempat kita menggapai Kawruh untuk bisa menghadap dan menyembah Sang Pencipta.
Simbol kehidupan di alam dunia adalah segitiga. Mengapa demikian, coba lihat sebuah segitiga. Segitiga dimulai dari bentuk bawah yang lebar kemudian semakin lama ke atas kian menyempit. Apa hubungannya antara segitiga dengan kehidupan dunia?
Dalam hal ilmu, bagian bawah segitiga yang cenderung lebar merupakan simbol dari ilmu dunia. Contoh, jika kita mempelajari ilmu marketing, maka ada beberapa ilmu tentang marketing yang harus dipelajari, seperti ilmu mempelajari produk yang akan dijual, mengetahui pangsa pasar yang menjadi target pemasaran produk tersebut, mempelajari kelebihan dan kekurangan dari produk yang akan dijual, mempelajari tehnik marketing untuk menjual produk tersebut dan lain sebagainya.
Artinya, untuk bisa menguasai ilmu marketing yang merupakan ilmu dunia itu, maka banyak hal yang perlu kita pelajari karena kita semula tidak memahaminya, ibarat bagian bawah segitiga yang lebar. Tetapi setelah kita memahami dan menguasai ilmu tentang marketing, maka bisa diibaratkan kita sudah berada di pucuk atas dari segitiga. Kalau kita sudah berada di pucuk atas segitiga, maka kita sudah menjadi ahli dan pakar dalam bidang marketing.
Kawruh di Alam Spiritual
Berbeda dengan ilmu nyata di alam dunia, alam spiritual bak segitiga terbalik. Untuk mengetahui Kawruh di alam spiritual, maka kita memulainya dari titik yang berada di bawah. Semakin lama ke atas, maka akan semakin melebar. Artinya, Kawruh spiritual yang kita pelajari akan semakin luas. Dan kita tidak akan bisa disebut semakin pintar dalam hal spiritual. Semakin ke atas, maka kita akan semakin bodoh.
Artinya, jika kita berniat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH, maka kita tidak bisa disebut pintar. Semakin dekat pada GUSTI ALLAH maka manusia akan semakin merasa bodoh dan tak bisa apa-apa. Semakin mendekat pada GUSTI ALLAH, maka manusia tidak memiliki kesaktian apa-apa. Kembali menjadi manusia yang bodoh dan hanya mengandalkan anugerah dan perlindungan dari GUSTI ALLAH.(*)
RAHAYU SAGUNG DUMADI
Monday, October 22, 2018
Wednesday, August 8, 2018
Kiat Memilih Teman Ala Kejawen
DALAM Kawruh Kejawen, manungso Jawa diingatkan untuk hati-hati dalam memilih teman. Kenapa harus hati-hati? Sebab teman itu akan bisa mempengaruhi kemana arah tujuan hidup kita.
Dalam beberapa literatur sastra Jawa telah disebutkan bagaimana cara untuk memilih teman. Seperti halnya dalam tembang yang berbunyi:
Nadyan silih bapa biyung kaki nini
sadulur myang sanak
kalamun muruk tan becik
nora pantes yen den nuta
aja sira niru tindak kang tan becik
sanadyan wong liya
lamun pamuruke becik
miwah ing tindak prayoga
iku pantaes yen sira tirua kaki
miwah biyung bapa
amuruk watek kang becik...
kaki iku estokena
Bait-bait sastra Jawa tersebut cenderung sederhana. Tetapi memiliki makna yang amat dalam, dimana kita manusia diajari untuk senantiasa memilih teman yang mengajak kearah kebaikan. Dengan berbuat kebaikan, maka kita akan membuat bumi tempat kita berpijak ini sebagai bumi yang tentram.(*)
R A H A Y U Sagung Dumadi
Tuesday, July 24, 2018
WARISAN LELUHUR JAWA
INGIN memiliki dan menguasai ilmu leluhur Jawa tidaklah sebatas katanya. Artinya harus berani dan bersunģguh-sungguh telaten, jujur, sabar tekun serta kuat cobaan dan gunjingan dari orang kanan kiri serta harus taat pada hukum pemerintah.
Ilmu warisan leluhur Jawa apabila ingin memgambil intisari kesempurnaannya sangatlah sulit, dari kesemuanya tidaklah gratis alias harus ada tebusannya diantaranya membakar dupa sesajian dan transportasi yg membutuhkan uang, namun jangan khawatir apabila kita telah menguasai dan mumpuni ilmu Jawa kelak kita akan dimudahkan dalam segala hal berkaitan dengan hidup, khususnya rejeki.
Diantara hal yang berkaitan dengan warisan leluhur Jawa adalah aksara atau huruf-huruf Jawa. Kini di pendidikan formal, pelajaran untuk memperdalam aksara Jawa sendiri sudah mulai terkikis. Dianggapnya pelajaran aksara Jawa itu sendiri sudah tidak begitu penting.
Hal itulah yang membuat budaya Jawa menjadi terkikis sedikit demi sedikit. Generasi muda Jawa sudah tidak lagi mengenal aksara Jawa yang menjadi budaya nenek moyang mereka. Inilah yang membuat munculnya kata-kata "Hera Heru...Wong Jowo Kari Separo, Cino Londo Kari Sajodo".
Kata-kata tersebut mengandung arti yang sangat dalam. "Wong Jowo Kari Separo" artinya, generasi muda Jawa sudah tidak lagi mempedulikan budayanya dan tidak sudi untuk belajar budaya dan sastra Jawa. Alhasil, jumlah yang mau belajar budaya dan sastra Jawa tinggal sedikit dan diibaratkan "Wong Jowo Kari Separo".
Sementara "Cino Londo Kari Sajodo" juga memiliki arti yang sangat mendalam. Artinya, warga negara asing kini cenderung lebih mempelajari dan memperdalam budaya Jawa yang perlahan-lahan sudah ditinggalkan generasi muda Jawa sendiri. Padahal seharusnya, budaya dan sastra Jawa tersebut harus dijaga dan dipelajari oleh generasi muda Jawa sehingga bisa lestari, karena budaya dan sastra Jawa tersebut merupakan warisan dari leluhur Jawa dulu.
Sangat tragis! dan mengenaskan karena Wong Jowo sendiri harus tidak tahu budaya dan sastranya sendiri, sementara warga negara manca lebih memperdalam budaya dan sastra Jawa.(*)
Subscribe to:
Posts (Atom)



