KODRAT masyarakat penghuni pulau Jawa sejak jaman dahulu kala terlahir sebagai manusia yg gemar lelaku spiritual kerohanian yg ditandai banyaknya situs-situs candi tempat peribadatan yg megah yg tersebar dari ujung timur sampai barat pulau Jawa.
Kegemaran masyarakat Jawa tentang lelaku spiritual terbacalah oleh orang-orang manca dan sejak saat datangnya para holigan manca yg ingin mencari keuntungan tentang kegemaran masyarakat Jawa maka mulailah mereka menjajakan dagangan perjalanan spiritual yg mengiurkan untuk menambah pundi-pundi devisa negara.
Ke surga tak perlu jauh-jauh dan bermahal-mahal, tanah jawa adalah tanah Jawata
Samengko ingsun tutur, sembah catur supaya lumuntur, dhihin raga cipta jiwa rasa kaki, ing kono lamun tinemu, tanda nugrahaning manon.
Samengko sembah kalbu, yen lumintu uga dadi laku, laku agung kang kagungan narapati, patitis tetesing kawruh, meruhi marang kang momong.
Sucine tanpa banyu, mung nyunyuda mring hardaning kalbu, pambukane tata titi ngati-ati, atetep telaten atul, tuladan marang waspaos.
Mring jatining pandulu, panduk ing ndon dedalan satuhu, lamun lugu legutaning reh maligi, lageane tumalawung, wenganing alam kinaot.(PANDI NAYUHAN)
Tuesday, July 24, 2018
Thursday, March 12, 2015
Pentingnya Mengurangi Tidur Bagi Pelaku Spiritual
DALAM ilmu kesehatan disebutkan bahwa manusia harus memiliki tidur yang cukup. Pendapat tersebut memang ada benarnya. Ditinjau dari dunia medis, dengan memiliki tidur yang cukup untuk beristirahat, maka kesehatan manusia akan terjaga khususnya dalam hal tekanan darahnya. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang tidur?
Tentu saja secara medis orang yang kurang tidur akan mengalami gangguan dalam tekanan darahnya. Tekanan darah atau yang lebih dikenal dengan sebutan tensi, akan menurun. Orang yang kurang tidur cenderung akan memiliki tensi yang rendah.
Oleh karena itu, tidur normal manusia adalah 8 jam. Jika kurang dari 8 jam dalam tidurnya, secara medis maka manusia cenderung akan mudah pusing dan menderita vertigo.
Namun dalam ajaran Kawruh Kejawen, manusia pelaku spiritual dianjurkan untuk lebih mengurangi tidur. Kenapa harus mengurangi tidur? Karena ketika malam hari, GUSTI ALLAH senantiasa memberikan berkahnya pada insan yang masih terjaga dan selalu memperbesar tirakatnya.
Dari ajaran Kawruh Kejawen, setidaknya hal itu dinyatakan dalam tembang berjudul "Ojo Turu Sore Kaki". Dari tembang tersebut disebutkan hakekat rahasia dari mengurangi tidur.
Tembang "Ojo Turu Sore Kaki" itu berbunyi:
Ojo Turu Sore Kaki
(Jangan Tidur Terlalu Sore Saudara)
Ana Dewa Nganglang Jagad
(Ada Dewa/malaikat yang Melanglang Buana)
Nyangking Bokor Kencanane
(Membawa Sebuah Wadah/Tempat Kencana)
Isine Donga Tetulak
(Yang Isinya Doa Menolak Mara Bahaya)
Sandang Kelawan Pangan
(Doa cukup Sandang Pangan)
Yaiku bagianipun
(Yaitu bagian dari)
wong melek sabar narimo
(orang yang gemar melek dan sabar bersyukur)
Nah, dari tembang tersebut kita dapat belajar bahwa orang yang mengurangi tidur dengan maksud tirakat akan mendapatkan berkah dari GUSTI ALLAH dibandingkan orang yang tidur ketika masih sore hingga pagi hari. Paling tidak berkah itu adalah kesehatan. Bahkan di beberapa agama pun juga diajarkan pada manusia untuk sering terjaga di malam hari dan melakukan ibadah pada GUSTI ALLAH. Contohnya, pada Islam mengenal ibadah tahajud yang harus dilakukan setelah tidur terlebih dulu.(*)
Tentu saja secara medis orang yang kurang tidur akan mengalami gangguan dalam tekanan darahnya. Tekanan darah atau yang lebih dikenal dengan sebutan tensi, akan menurun. Orang yang kurang tidur cenderung akan memiliki tensi yang rendah.
Oleh karena itu, tidur normal manusia adalah 8 jam. Jika kurang dari 8 jam dalam tidurnya, secara medis maka manusia cenderung akan mudah pusing dan menderita vertigo.
Namun dalam ajaran Kawruh Kejawen, manusia pelaku spiritual dianjurkan untuk lebih mengurangi tidur. Kenapa harus mengurangi tidur? Karena ketika malam hari, GUSTI ALLAH senantiasa memberikan berkahnya pada insan yang masih terjaga dan selalu memperbesar tirakatnya.
Dari ajaran Kawruh Kejawen, setidaknya hal itu dinyatakan dalam tembang berjudul "Ojo Turu Sore Kaki". Dari tembang tersebut disebutkan hakekat rahasia dari mengurangi tidur.
Tembang "Ojo Turu Sore Kaki" itu berbunyi:
Ojo Turu Sore Kaki
(Jangan Tidur Terlalu Sore Saudara)
Ana Dewa Nganglang Jagad
(Ada Dewa/malaikat yang Melanglang Buana)
Nyangking Bokor Kencanane
(Membawa Sebuah Wadah/Tempat Kencana)
Isine Donga Tetulak
(Yang Isinya Doa Menolak Mara Bahaya)
Sandang Kelawan Pangan
(Doa cukup Sandang Pangan)
Yaiku bagianipun
(Yaitu bagian dari)
wong melek sabar narimo
(orang yang gemar melek dan sabar bersyukur)
Nah, dari tembang tersebut kita dapat belajar bahwa orang yang mengurangi tidur dengan maksud tirakat akan mendapatkan berkah dari GUSTI ALLAH dibandingkan orang yang tidur ketika masih sore hingga pagi hari. Paling tidak berkah itu adalah kesehatan. Bahkan di beberapa agama pun juga diajarkan pada manusia untuk sering terjaga di malam hari dan melakukan ibadah pada GUSTI ALLAH. Contohnya, pada Islam mengenal ibadah tahajud yang harus dilakukan setelah tidur terlebih dulu.(*)
Thursday, December 18, 2014
Pendawa dan Kurawa di Tubuh Anak Adam
Sosok pewayangan yang kita kenal sekarang ini ada 2, yaitu Pendawa dan Kurawa. Sosok Pendawa dikenal sebagai simbol kebenaran, sedangkan Kurawa adalah simbol keserakahan, iri, dengki dan segala keburukan.
Sosok Pendawa yang kita kenal ada 5. Yaitu:
1. Prabu Yudhistira
2. BIMA atau WERKUDARA
3. ARJUNA
4. NAKULA
5. SADEWA atau Sahadewa
Sedangkan sosok pewayangan Kurawa jumlahnya ada 100.
SOSOK PENDAWA & KURAWA Di TUBUH ANAK ADAM
Namanya saja pewayangan = wayang = bayang-bayang, maka sosok Pendawa dan Kurawa itu adalah merupakan bayang-bayang ataupun simbol. Nah, simbol apa dari sosok Pandawa dan Kurawa itu di tubuh anak adam? Ternyata pewayangan dari sosok Pendawa dan Kurawa merupakan simbol yang ada di tubuh manusia.
YUDHISTIRA
Sosok Yudhistira adalah merupakan simbol pewayangan yang letaknya ada di otak manusia. Kenapa di otak manusia? Karena sebagai saudara tertua, maka Yudhistira bertugas mengayomi dan memikirkan adik-adiknya.
BIMA atau WERKUDARA
Sosok Bima atau Werkudara adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di mata manusia. Begitu manusia marah, maka matanya akan melotot dan orang yang dihadapi akan cenderung takut dengan melototnya mata.
ARJUNA
Sosok Arjuna adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di hati nurani manusia. Kenapa di hati nurani? Karena sosok Arjuna adalah sosok yang suka lelaku dan selalu jujur dalam berkata-kata.
NAKULA dan SADEWA
Sosok Nakula dan Sadewa adalah kembar. Kedua sosok itu adalah simbol pewayangan yang lokasinya ada pada buah zakar (peler) kaum lelaki. Buah zakar adalah kembar baik besar dan wujudnya. Itu merupakan gambaran dari sosok Pendawa di tubuh anak Adam.
Pertanyaannya, lalu dimanakah lokasi Kurawa yang berjumlah 100 itu di tubuh anak Adam?
Jawabannya, 100 jumlah sosok Kurawa itu lokasinya berada di hati besar ksatria. Sama dengan Arjuna yang digambarkan menguasai hati nurani (hati kecil), sosok Kurawa justru menguasai hati besar.
Seperti diterangkan pada tulisan sebelumnya, bahwa hati manusia itu ada 2 yaitu hati besar dan hati kecil. Hati besar selalu berkata bohong, iri, merasa paling hebat, beraneka keburukan yang terkait dengan hawa nafsu. Sementara hati nurani (hati kecil) selalu berkata tentang kebenaran dan apa yang tidak boleh dilakukan manusia.(*)
Inilah yang membuat kita mesti menyadari, mengapa hati kecil manusia senantiasa kalah dengan hati besar. Pasalnya seorang Arjuna harus mampu melawan 100 sosok Kurawa. Mungkinkah? Kini jawabannya hanya ada pada manusia itu sendiri. Ia sering mendengarkan hati besar atau hati kecil.(*)
Sosok Pendawa yang kita kenal ada 5. Yaitu:
1. Prabu Yudhistira
2. BIMA atau WERKUDARA
3. ARJUNA
4. NAKULA
5. SADEWA atau Sahadewa
Sedangkan sosok pewayangan Kurawa jumlahnya ada 100.
SOSOK PENDAWA & KURAWA Di TUBUH ANAK ADAM
Namanya saja pewayangan = wayang = bayang-bayang, maka sosok Pendawa dan Kurawa itu adalah merupakan bayang-bayang ataupun simbol. Nah, simbol apa dari sosok Pandawa dan Kurawa itu di tubuh anak adam? Ternyata pewayangan dari sosok Pendawa dan Kurawa merupakan simbol yang ada di tubuh manusia.
YUDHISTIRA
Sosok Yudhistira adalah merupakan simbol pewayangan yang letaknya ada di otak manusia. Kenapa di otak manusia? Karena sebagai saudara tertua, maka Yudhistira bertugas mengayomi dan memikirkan adik-adiknya.
BIMA atau WERKUDARA
Sosok Bima atau Werkudara adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di mata manusia. Begitu manusia marah, maka matanya akan melotot dan orang yang dihadapi akan cenderung takut dengan melototnya mata.
ARJUNA
Sosok Arjuna adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di hati nurani manusia. Kenapa di hati nurani? Karena sosok Arjuna adalah sosok yang suka lelaku dan selalu jujur dalam berkata-kata.
NAKULA dan SADEWA
Sosok Nakula dan Sadewa adalah kembar. Kedua sosok itu adalah simbol pewayangan yang lokasinya ada pada buah zakar (peler) kaum lelaki. Buah zakar adalah kembar baik besar dan wujudnya. Itu merupakan gambaran dari sosok Pendawa di tubuh anak Adam.
Pertanyaannya, lalu dimanakah lokasi Kurawa yang berjumlah 100 itu di tubuh anak Adam?
Jawabannya, 100 jumlah sosok Kurawa itu lokasinya berada di hati besar ksatria. Sama dengan Arjuna yang digambarkan menguasai hati nurani (hati kecil), sosok Kurawa justru menguasai hati besar.
Seperti diterangkan pada tulisan sebelumnya, bahwa hati manusia itu ada 2 yaitu hati besar dan hati kecil. Hati besar selalu berkata bohong, iri, merasa paling hebat, beraneka keburukan yang terkait dengan hawa nafsu. Sementara hati nurani (hati kecil) selalu berkata tentang kebenaran dan apa yang tidak boleh dilakukan manusia.(*)
Inilah yang membuat kita mesti menyadari, mengapa hati kecil manusia senantiasa kalah dengan hati besar. Pasalnya seorang Arjuna harus mampu melawan 100 sosok Kurawa. Mungkinkah? Kini jawabannya hanya ada pada manusia itu sendiri. Ia sering mendengarkan hati besar atau hati kecil.(*)
Subscribe to:
Posts (Atom)


