Google

Thursday, February 21, 2019

Makna Simbol Lingga Yoni


SETIAP kejadian manusia yang hidup di dunia ini tidak terlepas dari Lingga Yoni. Lingga Yoni sejatinya terdiri dari dua kata yang digabungkan menjadi satu yakni Lingga dan Yoni. Nah, apa arti dari Lingga dan apa arti dari Yoni?

Dalam mithologi Hindu, Lingga adalah merupakan simbolisasi perwujudan dari alat kemaluan pria atau penis. Sedangkan Yoni adalah merupakan simbolisasi dari alat kelamin wanita atau vagina. Berbicara mengenai Lingga Yoni sama halnya berbicara tentang asal muasal manusia.

Sebelum seorang anak manusia lahir di dunia, maka ada proses hubungan antara seorang laki-laki yang disebut ayah yang disimbolkan sebagai Lingga dan Ibu yang disimbolkan dari Yoni. Dimulai dari munculnya rasa saling mencintai yang akhirnya berlanjut pada jenjang yang lebih tinggi yaitu pernikahan.

Sejatinya, nenek moyang Indonesia dari dulu memandang hubungan antara lelaki dan wanita sebagai hubungan yang suci yang wajib diketahui oleh anak laki-laki dan perempuan yang sudah cukup umur atau akil baligh. Mereka perlu mengetahuinya untuk menyebarkan wiji (benih) untuk keturunan berikutnya yang terikat dalam satu hubungan pernikahan.

Hubungan cinta suci tersebut itulah akhirnya digambarkan dengan simbolisasi Lingga Yoni. Simbolisasi Lingga Yoni ini bukanlah dalam artian untuk hubungan cinta bebas. Justru Lingga Yoni merupakan gambaran sebuah hubungan suci antara suami-istri untuk bisa memiliki keturunan di dunia ini.

Pengeran Katon





Orang Jawa yang berpaham Kejawen memandang keberadaan ayah-ibu sebagai Pengeran Katon (Tuhan yang tampak). Artinya, keberadaan manusia di dunia ini tidak terlepas dari tiga faktor Tuhan - Ayah - Ibu. Lho kok bisa? Ya jelas bisa. Jika satu unsur saja tidak ada, maka anak manusia tidak akan bisa lahir di dunia ini.

Jika Gusti Allah, ada Ayah tetapi tidak ada Ibu, maka pertanyaannya, siapakah yang melahirkan?

Jika ada Gusti Allah, ada Ibu tetapi tidak ada ayah, lalu siapakah yang menyebarkan benih untuk menjadi jabang bayi tersebut?

Jika ada ayah, ada ibu tetapi tidak ada Gusti Allah, pertanyaannya siapakah yang memberi ruh pada si jabang bayi untuk bisa hidup?

Dari situlah dapat disimpulkan bahwa keberadaan Gusti Allah-Ayah-Ibu itu saling berkaitan erat pada sebuah kejadian anak manusia di dunia ini. Oleh karena itu, orang Kejawen membagi ketiga faktor tersebut dengan sebutan yang berbeda-beda.

Orang Kejawen menyebut Gusti Allah itu sebagai Gusti Pengeran. Sementara ayah dan ibu disebut sebagai Pengeran Katon (Tuhan yang Tampak).(*)

Thursday, December 27, 2018

Mencermati Kematian dari Tembang Jawa


SETIAP manusia akan menemui ajal dan kematian. Bagi orang yang beragama apapun harus mempersiapkan kematian. Demikian juga dengan orang Jawa yang berpaham Kejawen, ajal dan kematian itu sudah harus dipersiapkan semasa kita hidup di alam dunia ini.

Orang Jawa yang berpaham Kejawen sudah mempelajarinya lewat tembang tembang yang menceritakan tentang kematian. Dari tembang-tembang tersebut, orang Jawa dituntut untuk memahami sangkan paraning dumadi (asal muasal manusia dan kemanakah manusia itu akan pergi setelah mati).

Berikut ini adalah tembang-tembang Jawa yang memberikan tuntunan bagi Orang Jawa untuk mengetahui kemana tujuan akhir hayatnya nanti setelah mengalami kematian.

...
c.parentNode.insertBefore(cp, c); })();


Kawruhana
Mengertilah
Dununge wong urip pun niki
Letak hidup manusia ini
lamun mbenjang yen wus palastra
besok ketika sudah meninggal
wong mati ngendi parane
orang mati kemana perginya
umpamakno peksi mabur 
umpamanya burung terbang
mesak saking kurunganipun
keluar dari sangkarnya
jiwa ninggalke raga
jiwa meninggalkan raga
bali marang Hyang Agung 
kembali ke Tuhan
Umpamakno wong lungo sonja
umpamanya orang pergi berkunjung
Jang sinanjang wong lungo sonja wajibe mulih
saling mengunjungi orang berkunjung wajibnya pulang 
mulih ning ngisor kamboja. 
pulang ke bawah pohon kamboja

Urip iku ning donya tan lami
hidup ini di dunia tidak lama
umpamane jebeng menyang pasar
seumpama anda pergi ke pasar
tan langgeng ning pasar wae
tidak mungkin selamanya di pasar saja
tan wurung bakal mantuk
nantinya bakal pulang
mring wismane sangkane nguni
ke rumah tempat asal kita
ing mengko aja samar, sangkan paranipun
nanti janganlah samar, asal dan kemana kita pergi
ing mengko podo weruha, 
nanti sama-sama ketahuilah
yen asale sangkan paran duk ing nguni
asal sangkan paran dulunya
aja nganti kesasar
jangan sampai tersesat

yen kongsiho, 
mengertilah
sasar jeroning pati
tersesat di alam kematian
dadya tiwas uripe kesasar
akhirnya hidupnya di alam kematian tersesat
tanpa penclokan sukmane
tiada tempat hinggap sukmanya
sak paran-paran nglangut
ke mana-mana bingung
kadya mega katut ing angin
seperti mega yang tertiup angin
wekasan dadi udan
akhirnya jadi hujan
mulih marang banyu
kembali menjadi air
dadi bali muting wadag
jadi kembali menemukan badan kasar
ing wajibe sukma tan kena ing pati
padahal kewajiban sukma itu tidak tersentuh kematian
langgeng donya akherat
langgeng dari dunia hingga akhirat(*)

Monday, October 22, 2018

Mencari GUSTI ALLAH Lewat Sanepan

KEHIDUPAN spiritual orang Jawa tidak terlepas dari Sanepan (perumpamaan). Namun dalam sanepan tersebut terdapat makna-makna yang dalam yang umumnya disamarkan sehingga tidak mudah untuk dimengerti oleh masyarakat secara umum.

Biasanya untuk memahami keberadaan GUSTI ALLAH, orang Jawa akan menggunakan sanepan untuk menyamarkan pesan yang akan disampaikan sehingga tidak akan tampak vulgar.

Ada beberapa sanepan yang perlu diketahui oleh para pendaki spiritual guna memahami GUSTI ALLAH. Sanepan-sanepan itu antara lain:

1. Golekana Tapak e Kuntul Mabur
2. Golekana Kayu Gung Susuhing Angin
3. Golekana Galihing Kangkung

Golekana Tapak e Kuntul Mabur

Kuntul atau bangau jika terbang maka akan sulit untuk melihat tapak kakinya. Hal itu sejatinya mengesankan bahwa GUSTI ALLAH itu ada namun kita tidak bisa melihatnya. Begitulah orang Jawa begitu halus 'membungkus' keberadaan GUSTI ALLAH dan tidak menerangkannya secara gamblang.

Golekana Kayu Gung Susuhing Angin

Sejatinya, makna kata 'Kayu' berarti 'karep' atau keinginan. 'Gung' berarti besar. Sedangkan 'Susuhing Angin' adalah nafas manusia. Kalau sanepan itu dirangkum, maka memiliki arti yang bermakna: Keinginan yang kuat atau besar hanya bisa terkabul jika mampu menguasai nafas.

Golekana Galihing Kangkung 

Dalam arti biasa ini berarti kita harus mencari apa inti atau tengah tengah dari sebuah tanaman kangkung, padahal seperti yang kita tahu bahwa tanaman kangkung itu sendiri pada saat kita belah menjadi dua maka kita akan melihat bahwa sama sekali tiada tengahnya, yang ada adalah rongga kosong seperti bilah bambu yang kita pecah/belah menjadi dua.

Trus apa makna kata kata diatas? Karena kita tau tidak ada isi ditengah-tengah batang tanaman kangkung itu sendiri.

Nah dalam filosofi Jawa GOLEKONO GALIHING KANGKUNG memuat makna bahwa semua itu berawal dari kosong dan akan menjadi kosong pula, begitu juga manusia, dulu kita gak pernah ada karena kita masih di alam SUWUNG kemudian kita dilahirkan besar dewasa dan mati kita akan kembali ke alam SUWUNG itu sendiri.

Karena pada saat kita bertanya siapa GUSTI ALLAH itu? Ya kita bisa jawab GUSTI ALLAH adalah kekosongan itu sendiri, padahal dalam kekosongan itu GUSTI ALLAH berkarya dalam menciptakan segalanya.(*)

RAHAYU SAGUNG DUMADI

Jadi Bodoh di Depan GUSTI ALLAH

KEBERADAAN dunia ini dibagi menjadi 2. Yaitu alam dunia tempat kita hidup saat ini dan alam spiritual, tempat kita menggapai Kawruh untuk bisa menghadap dan menyembah Sang Pencipta. 

Simbol kehidupan di alam dunia adalah segitiga. Mengapa demikian, coba lihat sebuah segitiga. Segitiga dimulai dari bentuk bawah yang lebar kemudian semakin lama ke atas kian menyempit. Apa hubungannya antara segitiga dengan kehidupan dunia?

Dalam hal ilmu, bagian bawah segitiga yang cenderung lebar merupakan simbol dari ilmu dunia. Contoh, jika kita mempelajari ilmu marketing, maka ada beberapa ilmu tentang marketing yang harus dipelajari, seperti ilmu mempelajari produk yang akan dijual, mengetahui pangsa pasar yang menjadi target pemasaran produk tersebut, mempelajari kelebihan dan kekurangan dari produk yang akan dijual, mempelajari tehnik marketing untuk menjual produk tersebut dan lain sebagainya.

Artinya, untuk bisa menguasai ilmu marketing yang merupakan ilmu dunia itu, maka banyak hal yang perlu kita pelajari karena kita semula tidak memahaminya, ibarat bagian bawah segitiga yang lebar. Tetapi setelah kita memahami dan menguasai ilmu tentang marketing, maka bisa diibaratkan kita sudah berada di pucuk atas dari segitiga. Kalau kita sudah berada di pucuk atas segitiga, maka kita sudah menjadi ahli dan pakar dalam bidang marketing.

Kawruh di Alam Spiritual

Berbeda dengan ilmu nyata di alam dunia, alam spiritual bak segitiga terbalik. Untuk mengetahui Kawruh di alam spiritual, maka kita memulainya dari titik yang berada di bawah. Semakin lama ke atas, maka akan semakin melebar. Artinya, Kawruh spiritual yang kita pelajari akan semakin luas. Dan kita tidak akan bisa disebut semakin pintar dalam hal spiritual. Semakin ke atas, maka kita akan semakin bodoh.

Artinya, jika kita berniat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH, maka kita tidak bisa disebut pintar. Semakin dekat pada GUSTI ALLAH maka manusia akan semakin merasa bodoh dan tak bisa apa-apa. Semakin mendekat pada GUSTI ALLAH, maka manusia tidak memiliki kesaktian apa-apa. Kembali menjadi manusia yang bodoh dan hanya mengandalkan anugerah dan perlindungan dari GUSTI ALLAH.(*)


RAHAYU SAGUNG DUMADI

Wednesday, August 8, 2018

Kiat Memilih Teman Ala Kejawen


DALAM  Kawruh Kejawen, manungso Jawa diingatkan untuk hati-hati dalam memilih teman. Kenapa harus hati-hati? Sebab teman itu akan bisa mempengaruhi kemana arah tujuan hidup kita.

Dalam beberapa literatur sastra Jawa telah disebutkan bagaimana cara untuk memilih teman. Seperti halnya dalam tembang yang berbunyi:

Nadyan silih bapa biyung kaki nini
sadulur myang sanak
kalamun muruk tan becik
nora pantes yen den nuta
aja sira niru tindak kang tan becik
sanadyan wong liya
lamun pamuruke becik
miwah ing tindak prayoga
iku pantaes yen sira tirua kaki
miwah biyung bapa
amuruk watek kang becik...
kaki iku estokena

Bait-bait sastra Jawa tersebut cenderung sederhana. Tetapi memiliki makna yang amat dalam, dimana kita manusia diajari untuk senantiasa memilih teman yang mengajak kearah kebaikan. Dengan berbuat kebaikan, maka kita akan membuat bumi tempat kita berpijak ini sebagai bumi yang tentram.(*)

R A H A Y U Sagung Dumadi

Tuesday, July 24, 2018

WARISAN LELUHUR JAWA


INGIN memiliki dan menguasai ilmu leluhur Jawa tidaklah sebatas katanya. Artinya harus berani dan bersunģguh-sungguh telaten, jujur, sabar tekun serta kuat cobaan dan gunjingan dari orang kanan kiri serta harus taat pada hukum pemerintah.

Ilmu warisan leluhur Jawa apabila ingin memgambil intisari kesempurnaannya sangatlah sulit, dari kesemuanya tidaklah gratis alias harus ada tebusannya diantaranya membakar dupa sesajian dan transportasi yg membutuhkan uang, namun jangan khawatir apabila kita telah menguasai dan mumpuni ilmu Jawa kelak kita akan dimudahkan dalam segala hal berkaitan dengan hidup, khususnya rejeki.

Diantara hal yang berkaitan dengan warisan leluhur Jawa adalah aksara atau huruf-huruf Jawa. Kini di pendidikan formal, pelajaran untuk memperdalam aksara Jawa sendiri sudah mulai terkikis. Dianggapnya pelajaran aksara Jawa itu sendiri sudah tidak begitu penting.

Hal itulah yang membuat budaya Jawa menjadi terkikis sedikit demi sedikit. Generasi muda Jawa sudah tidak lagi mengenal aksara Jawa yang menjadi budaya nenek moyang mereka. Inilah yang membuat munculnya kata-kata "Hera Heru...Wong Jowo Kari Separo, Cino Londo Kari Sajodo".

Kata-kata tersebut mengandung arti yang sangat dalam. "Wong Jowo Kari Separo" artinya, generasi muda Jawa sudah tidak lagi mempedulikan budayanya dan tidak sudi untuk belajar budaya dan sastra Jawa. Alhasil, jumlah yang mau belajar budaya dan sastra Jawa tinggal sedikit dan diibaratkan "Wong Jowo Kari Separo".

Sementara "Cino Londo Kari Sajodo" juga memiliki arti yang sangat mendalam. Artinya, warga negara asing kini cenderung lebih mempelajari dan memperdalam budaya Jawa yang perlahan-lahan sudah ditinggalkan generasi muda Jawa sendiri. Padahal seharusnya, budaya dan sastra Jawa tersebut harus dijaga dan dipelajari oleh generasi muda Jawa sehingga bisa lestari, karena budaya dan sastra Jawa tersebut merupakan warisan dari leluhur Jawa dulu.

Sangat tragis! dan mengenaskan karena Wong Jowo sendiri harus tidak tahu budaya dan sastranya sendiri, sementara warga negara manca lebih memperdalam budaya dan sastra Jawa.(*) 

PERADABAN SPIRITUAL JAWA

KODRAT masyarakat penghuni pulau Jawa sejak jaman dahulu kala terlahir sebagai manusia yg gemar lelaku spiritual kerohanian yg ditandai banyaknya situs-situs candi tempat peribadatan yg megah yg tersebar dari ujung timur sampai barat pulau Jawa.

Kegemaran masyarakat Jawa tentang lelaku spiritual terbacalah oleh orang-orang manca dan sejak saat datangnya para holigan manca yg ingin mencari keuntungan tentang kegemaran masyarakat Jawa maka mulailah mereka menjajakan dagangan perjalanan spiritual yg mengiurkan untuk menambah pundi-pundi devisa negara.

Ke surga tak perlu jauh-jauh dan bermahal-mahal, tanah jawa adalah tanah Jawata

Samengko ingsun tutur, sembah catur supaya lumuntur, dhihin raga cipta jiwa rasa kaki, ing kono lamun tinemu, tanda nugrahaning manon.

Samengko sembah kalbu, yen lumintu uga dadi laku, laku agung kang kagungan narapati, patitis tetesing kawruh, meruhi marang kang momong.

Sucine tanpa banyu, mung nyunyuda mring hardaning kalbu, pambukane tata titi ngati-ati, atetep telaten atul, tuladan marang waspaos.

Mring jatining pandulu, panduk ing ndon dedalan satuhu, lamun lugu legutaning reh maligi, lageane tumalawung, wenganing alam kinaot.(PANDI NAYUHAN)

Thursday, March 12, 2015

Pentingnya Mengurangi Tidur Bagi Pelaku Spiritual

DALAM  ilmu kesehatan disebutkan bahwa manusia harus memiliki tidur yang cukup. Pendapat tersebut memang ada benarnya. Ditinjau dari dunia medis, dengan memiliki tidur yang cukup untuk beristirahat, maka kesehatan manusia akan terjaga khususnya dalam hal tekanan darahnya. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang tidur?

Tentu saja secara medis orang yang kurang tidur akan mengalami gangguan dalam tekanan darahnya. Tekanan darah atau yang lebih dikenal dengan sebutan tensi, akan menurun. Orang yang kurang tidur cenderung akan memiliki tensi yang rendah.

Oleh karena itu, tidur normal manusia adalah 8 jam. Jika kurang dari 8 jam dalam tidurnya, secara medis maka manusia cenderung akan mudah pusing dan menderita vertigo.

Namun dalam ajaran Kawruh Kejawen, manusia pelaku spiritual dianjurkan untuk lebih mengurangi tidur. Kenapa harus mengurangi tidur? Karena ketika malam hari, GUSTI ALLAH senantiasa memberikan berkahnya pada insan yang masih terjaga dan selalu memperbesar tirakatnya.

Dari ajaran Kawruh Kejawen, setidaknya hal itu dinyatakan dalam tembang berjudul "Ojo Turu Sore Kaki". Dari tembang tersebut disebutkan hakekat rahasia dari mengurangi tidur.

Tembang "Ojo Turu Sore Kaki" itu berbunyi:



Ojo Turu Sore Kaki
(Jangan Tidur Terlalu Sore Saudara)
Ana Dewa Nganglang Jagad
(Ada Dewa/malaikat yang Melanglang Buana)
Nyangking Bokor Kencanane 
(Membawa Sebuah Wadah/Tempat Kencana)
Isine Donga Tetulak 
(Yang Isinya Doa Menolak Mara Bahaya)
Sandang Kelawan Pangan 
(Doa cukup Sandang Pangan)
Yaiku bagianipun 
(Yaitu bagian dari)
wong melek sabar narimo 
(orang yang gemar melek dan sabar bersyukur)

Nah, dari tembang tersebut kita dapat belajar bahwa orang yang mengurangi tidur dengan maksud tirakat akan mendapatkan berkah dari GUSTI ALLAH dibandingkan orang yang tidur ketika masih sore hingga pagi hari. Paling tidak berkah itu adalah kesehatan. Bahkan di beberapa agama pun juga diajarkan pada manusia untuk sering terjaga di malam hari dan melakukan ibadah pada GUSTI ALLAH. Contohnya, pada Islam mengenal ibadah tahajud yang harus dilakukan setelah tidur terlebih dulu.(*)

Thursday, December 18, 2014

Pendawa dan Kurawa di Tubuh Anak Adam

Sosok pewayangan yang kita kenal sekarang ini ada 2, yaitu Pendawa dan Kurawa. Sosok Pendawa dikenal sebagai simbol kebenaran, sedangkan Kurawa adalah simbol keserakahan, iri, dengki dan segala keburukan.

Sosok Pendawa yang kita kenal ada 5. Yaitu:
1. Prabu Yudhistira
2. BIMA atau WERKUDARA
3. ARJUNA
4. NAKULA
5. SADEWA atau Sahadewa

Sedangkan sosok pewayangan Kurawa jumlahnya ada 100.

SOSOK PENDAWA & KURAWA Di TUBUH ANAK ADAM

Namanya saja pewayangan = wayang = bayang-bayang, maka sosok Pendawa dan Kurawa itu adalah merupakan bayang-bayang ataupun simbol. Nah, simbol apa dari sosok Pandawa dan Kurawa itu di tubuh anak adam? Ternyata pewayangan dari sosok Pendawa dan Kurawa merupakan simbol yang ada di tubuh manusia.

YUDHISTIRA

Sosok Yudhistira adalah merupakan simbol pewayangan yang letaknya ada di otak manusia. Kenapa di otak manusia? Karena sebagai saudara tertua, maka Yudhistira bertugas mengayomi dan memikirkan adik-adiknya.

BIMA atau WERKUDARA

Sosok Bima atau Werkudara adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di mata manusia. Begitu manusia marah, maka matanya akan melotot dan orang yang dihadapi akan cenderung takut dengan melototnya mata.

ARJUNA

Sosok Arjuna adalah merupakan simbol pewayangan yang lokasinya ada di hati nurani manusia. Kenapa di hati nurani? Karena sosok Arjuna adalah sosok yang suka lelaku dan selalu jujur dalam berkata-kata.

NAKULA dan SADEWA

Sosok Nakula dan Sadewa adalah kembar. Kedua sosok itu adalah simbol pewayangan yang lokasinya ada pada buah zakar (peler) kaum lelaki. Buah zakar adalah kembar baik besar dan wujudnya. Itu merupakan gambaran dari sosok Pendawa di tubuh anak Adam.

Pertanyaannya, lalu dimanakah lokasi Kurawa yang berjumlah 100 itu di tubuh anak Adam?

Jawabannya, 100 jumlah sosok Kurawa itu lokasinya berada di hati besar ksatria. Sama dengan Arjuna yang digambarkan menguasai hati nurani (hati kecil), sosok Kurawa justru menguasai hati besar.

Seperti diterangkan pada tulisan sebelumnya, bahwa hati manusia itu ada 2 yaitu hati besar dan hati kecil. Hati besar selalu berkata bohong, iri, merasa paling hebat, beraneka keburukan yang terkait dengan hawa nafsu. Sementara hati nurani (hati kecil) selalu berkata tentang kebenaran dan apa yang tidak boleh dilakukan manusia.(*)

Inilah yang membuat kita mesti menyadari, mengapa hati kecil manusia senantiasa kalah dengan hati besar. Pasalnya seorang Arjuna harus mampu melawan 100 sosok Kurawa. Mungkinkah? Kini jawabannya hanya ada pada manusia itu sendiri. Ia sering mendengarkan hati besar atau hati kecil.(*)


Tuesday, August 19, 2014

Lelaku Panembahan Senopati

TANAH JAWA memiliki banyak sosok tokoh yang bisa diteladani. Yang dimaksud diambil keteladannannya adalah dalam hal olah spiritual. Seperti halnya sosok Raja Mataram Islam pertama yakni Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Sebagai seorang raja, Panembahan Senopati yang hidup di lingkup istana, tak lalai dalam mengasah olah rasa dan tapa brata. Dalam berbagai kesempatan beliau senantiasa menyempatkan diri untuk mencuri waktu dalam kesendirian dan lelaku.

Semua lelaku tersebut tertuang dalam serat Wedhatama yang berbunyi

Nulada laku utama
tumraping wong tanah Jawi
Wong Agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudaning hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama 

Mencontoh laku yang baik
terhadap orang tanah Jawa
Tokoh besar di Ngeksiganda
Panembahan Senopati
berusaha dengan sungguh-sungguh
mengurangi hawa dan nafsu
dengan cara bertapa
yang dilakukan siang dan malam
mewujudkan perasaan senang bagi sesamanya. 

Samangsane pasamuan
mamangun marta martani
sinambi ing saben mangsa
kalakalaning ngasepi
Lelana teki-teki
Nggayuh geyonganing kayun
Kayungyun eninging tyas
Sanityasa pinrihatin
Pungguh panggah cegah dhahar lawan nendra

Ketika berada dalam pertemuan
membahas sesuatu dengan kerendahan hati
dan pada setiap kesempatan
Sekali-sekali menyepi
berkelana kemana-mana
Berusaha mengambil yang hakiki
Dalam keheningan batinnya
Dengan senantiasa berprihatin
Dengan cara mengurangi makan dan tidur

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana 
Mrih pana pranaweng kapti 
Tis-tising tyas marsudi
Mardawaning budya tulus
Mesu reh kasudarman
neng tepining jalanidhi
Sruning brata kataman wahyu dyatmika 

Setiap keluar rumah
Selalu berkelana mencari tempat sepi
dengan tujuan meresapi ilmu sepuh
agar mengerti tiap-tiap tingkatan ilmu dan maknanya
ketajaman hati dimanfaatkan untuk menempa jiwa
untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus
dengan bertapa dan mengharapkan wahyu suci

Dari tiga cuplikan serat tersebut, kita bisa belajar dari lelaku dan olahrasa yang telah dicontohkan Panembahan Senopati. Hal yang patut dicatat, bahwa meski Panembahan Senopati sebagai Raja yang bergelimang dengan kenikmatan dunia, tetapi beliau tidak pernah tergoda dan senantiasa lelaku guna seluruh rakyat dan keturunannya.

Berbeda dengan kita yang hidup di dunia modern saat ini. Ketika kita bergelimang harta benda, justru kita malah melupakan yang hakiki dan kita cenderung justru terjerat dalam kenikmatan tersebut. Maka dari itu, alangkah baiknya kita mengkaji lagi lelaku dari hal yang telah dilakukan Panembahan Senopati itu.(*)


Tuesday, April 22, 2014

Hakekat Ngelmu

BELAJAR memahami ilmu batin dalam istilah Kejawen disebut dengan Ngelmu. Ngelmu itu sendiri memiliki arti Angel Tinemu. Arti dari Angel Tinemu itu berarti bahwa untuk mempelajari ilmu maupun olah laku batin itu perlu keseriusan dan tidak bisa dilakukan hanya untuk mengisi waktu.

Pada ajaran Kejawen, dianjurkan pada manusia dalam hidupnya untuk senantiasa menuntut ilmu hingga titik terakhir dalam hidupnya. Bahkan orang yang masih berusia muda pun dituntut untuk Ngelmu sebagai bekal kehidupannya di masa tuanya.

Pada Kejawen terbagi menjadi dua macam ilmu. Kalau secara umum, ilmu dibagi menjadi dua yaitu ilmu hitam dan ilmu putih. Namun hal itu tidak ada dalam pemahaman Kejawen. Kejawen hanya mengenal dua ilmu yaitu:

1. Ilmu Jawa (Njowo)
2. Ilmu Nggak Jawa (Nggak Njowo)

1. Ilmu Jawa (Njowo)

Yang disebut ilmu Jawa atau biasa disebut Njowo adalah ilmu yang tidak mengenal permusuhan. Yang diajarkan dalam ilmu itu adalah cinta kasih sesama makhluk GUSTI ALLAH. Jawa sendiri memiliki arti mengerti. Jadi jika belajar ilmu Jawa maka harus mengerti dan memahami tentang manusia sebagai titah sempurna yang ada di jagad raya ini. Manusia di dunia ini tidak dapat hidup sendirian dan perlu ada penopang lainnya seperti binatang dan tumbuhan. Artinya, manusia harus mampu menyatu dengan manusia lainnya karena pada hakekatnya manusia itu satu dari GUSTI ALLAH.

Disamping itu, manusia itu juga harus menjaga keseimbangan lingkungannya bersama tumbuhan dan hewan yang ada. Karena pada hakekatnya, tumbuhan dan binatang tersebut diciptakan GUSTI ALLAH semuanya demi kemuliaan manusia itu sendiri.

Jadi, ilmu Njowo itu adalah ilmu yang tidak menyakiti sesamanya, justru malah harus welas asih dan senantiasa menjaga bumi tempat kita berpijak ini. Memayu Hayuning Bawono (mempercantik bumi tempat kita tinggal ini).

2. Ilmu Nggak Jawa (Nggak Njowo)

Ilmu nggak Jawa (Nggak Njowo) merupakan ilmu yang senantiasa ditanamkan rasa kebencian kepada sesama manusia. Lho...apakah ada ilmu seperti itu? Ada. Orang yang tidak sesuai dengan kepercayaan yang dianut dianggap salah dan perlu dimusuhi.

Tentu saja, jika mempelajari ilmu itu, yang timbul adalah rasa curiga dan benci pada orang lain. Jika dengan manusia lainnya saja sudah benci, apalagi dengan makhluk-makhluk lainnya.

Oleh karena itu, sebelum belajar ilmu Kejawen, maka perlu memahami dulu tujuan kita belajar Ngelmu.(***)

Tuesday, July 9, 2013

Belajar Lelaku Puasa dan Ngelmu dari Serat Wedharaga

BULAN Ramadan adalah bulan penuh hikmah bagi siapa yang bisa mengambil pelajaran. Yang dimaksud dengan pelajaran adalah dalam laku puasa yang biasa dilaksanakan pada bulan Ramadan. Di dalam laku puasa, terdapat beraneka hikmah dan ilmu yang bisa dipetik. Lelaku puasa itu pun juga diajarkan dalam ilmu Kejawen.

Salah satu serat yang menyatakan pentingnya puasa dan hikmah yang terkandung di dalamnya adalah lewat serat Wedharaga. Disebut serat Wedharaga karena serat ini lebih menitik-beratkan pada latihan ragawi, salah satunya adalah dengan lelaku puasa. Apa saja isi dari serat Wedharaga yang berkaitan dengan puasa dan kewajiban kaum muda untuk mencari ilmu tersebut?

Serat Wedharaga
R. Ng. Ronggowarsito


Pupuh Gambuh

Mangkene patrapipun
Wiwit anem amandenga laku
Ngengurangi pangan turu sawatawis
Amekak hawa nepsu
Dhasarana andhap asor.


Makanya yang tepat
Sejak muda saatnya untuk lelaku
Mengurangi makan tidur sementara
Menahan hawa nafsu
Dengan didasari sifat sopan santun

Akanthi awas emut
Aja tingal weweka ing kalbu
Mituhua wewaruh kang makolehi
Den taberi anggeguru, aja isin tetakon.
Oleh karena itu harus diingat
Jangan meninggalkan kalbu
Carilah ilmu yang bermanfaat
Kalau perlu bergurulah, jangan malu bertanya

Wong amarsudi kaweruh
Tetirona ing reh kang rahayu
Aja kesed sungkanan sabarang kardi
Sakadare anggenipun
Nimpeni kagunganing wong.

Orang mencari ilmu
Carilah ilmu keselamatan
Janganlah malas dan malu untuk mengupayakan
Sekedarnya untuk
Mendapatkan (ilmu) milik orang

Tinimbang lan angenganggur
Boya becik ipil-ipil kaweruh
Angger datan ewan panasaten sayekti
Kawignyane wuwuh-wuwuh
Wekasan kasub kinaot.

Daripada menganggur
Lebih baik mencari ilmu
Asalkan tidak malu nasehat sejati
Hingga penuh ilmu
Akhirnya nanti berguna

Lamun wus sarwa putus
Kapinteran sinimpen ing pungkur
Bodhonira katakokna ing ngarsa yekti,
Gampang traping tindak tanduk
Amawas pambekaning wong.

Jika sudah memiliki kepandaian
Simpanlah kepandaian itu
Perlihatkanlah kebodohan,
Itu akan mempermudah dalam bertindak tanduk
Memahami sikap orang lain.

Monday, June 10, 2013

Belajar Kehidupan dari Senjata Trisula Weda

Istilah Trisula Weda adalah istilah yang dipopulerkan oleh Prabu Jayabaya. Selain dikenal sebagai sebuah senjata bermata tiga, Trisula juga mempunyai makna yang sangat besar sebagai 'senjata' ampuh dalam menghadapi kehidupan.

Baiklah, mari kita kupas arti kata Trisula Weda itu sendiri. Trisula memiliki arti senjata bermata tiga (yang dikenal merupakan senjata Dewa). Trisula juga bisa diartikan sebagai tiga kekuatan yang menyatu dalam kehidupan ini. Kekuatan apa saja itu? Kekuatan tersebut adalah kekuatan matahari, laut, serta keseimbangan alam.

Weda adalah bahasa Sankrit atau Sansekerta. Arti kata Weda sendiri adalah ilmu pengetahuan. Secara etimologi, kata Weda berakar dari bahasa Sansekerta "Vid" yang artinya "mengetahui".

Apa saja sifat yang bisa diambil dari "senjata" Trisula Weda itu? Sesuai dengan tiga mata pada senjata Trisula, maka ketiga sifat yang perlu untuk dilakukan adalah

1. Jejeg
2. Jujur
3. Adil

1. Jejeg. Jejeg memiliki arti berdiri tegak (memiliki pendirian yang kuat). Tidak goyah sedikitpun meski diiming-imingi sesuatu. Jejeg yang dimaksud disini adalah berani mengatakan yang benar itu adalah benar, yang salah adalah salah. Jika seseorang sudah memiliki sifat Jejeg dalam hidupnya, maka ia tidak akan mudah terombang-ambing dalam arus godaan kehidupan

2. Jujur. Mungkin sudah banyak yang mengetahui arti kata jujur. Jujur memiliki arti tidak pernah berbohong dan selalu mengatakan yang sebenarnya meskipun itu pahit.

3. Adil. Meskipun Adil yang sejati hanya milik GUSTI ALLAH, namun manusia di dunia ini juga mempunyai sifat adil meski tidak absolut. Adil yang dimaksud adalah tidak membela atau menyukai pihak-pihak tertentu. Semuanya sama.

Nah, sifat Adil dalam pengertian Trisula Weda itu juga bisa berarti bener (benar) dan Wicaksono (Bijaksana). Artinya, Adil, benar dan bijaksana adalah satu rangkaian agar manusia bisa menjadi adil se-adil adilnya. Jika kita ingin memiliki sifat adil, tidak akan pernah bisa jika kita mengesampingkan benar dan bijaksana.(*)

Tuesday, February 26, 2013

Filsafat Pacul, Wejangan Sunan Kalijaga pada Ki Ageng Sela

DALAM ngelmu, seseorang dituntut untuk menggunakan pikirannya untuk membaca dan memahami apa-apa yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang meguru atau berguru pada orang yang sudah mumpuni dalam hal ilmu rasa, maka dia harus 'menggerakkan' otaknya untuk memahami apa yang ada di alam semesta ini. Artinya, alam semesta ini 'dibaca' dan diartikan sendiri apa yang menjadi makna sejatinya.

Ki Ageng Sela yang kondang namanya lantaran mampu menangkap petir pun pernah berguru pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Salah satu wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela adalah tentang Pacul. Ketika itu Kanjeng Sunan Kalijaga menyuruh Ki Ageng Sela untuk 'membaca' Pacul.

Pacul atau cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Tampaknya memang sederhana, Pacul. Tapi makna yang terkandung di dalamnya sangatlah tinggi.

Dari wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, Pacul atau cangkul itu terdiri dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah: Pacul (bagian yang tajam untuk mengolah lahan pertanian), Bawak (lingkaran tempat batang doran), dan Doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).

Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap, tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu untuk dapat digunakan oleh petani. Apa sebenarnya arti dari Pacul, Bawak dan Doran itu?

* Pacul. Memiliki arti "ngipatake barang kang muncul"
  Artinya, menyingkirkan bagian yang mendugul atau bagian yang tidak rata. Dari alat Pacul tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita manusia ini harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego yang berlebih, cepat marah, mau menang sendiri dan sifat-sifat jelek kita lainnya yang dikatakan 'tidak rata'.

* Bawak. Memiliki arti "obahing awak".
  Arti obahing awak adalah gerak tubuh. Maksudnya, kita manusia hidup ini diwajibkan untuk berikhtiar mencari rezeki dari GUSTI ALLAH guna memenuhi kebutuhan hidup. Disamping itu, arti ikhtiar tersebut juga bukan hanya berarti mencari rezeki semata, tetapi juga ikhtiar untuk senantiasa "manembah GUSTI ALLAH tan kendhat Rino Kelawan Wengi" (menyembah GUSTI ALLAH siang maupun malam).

* Doran. Memiliki arti "Dongo marang Pengeran" ada juga yang mengartikan "Ojo Adoh Marang Pengeran". Arti "Dongo Marang Pengeran" adalah doa yang dipanjatkan pada GUSTI ALLAH. Pengeran berasal dari kata GUSTI ALLAH kang dingengeri (GUSTI ALLAH yang diikuti). Sedangkan "Ojo Adoh Marang Pengeran" memiliki arti janganlah kita manusia ini menjauhi GUSTI ALLAH. Manusia harus senantiasa wajib ingat dan menyembah GUSTI ALLAH, bukan menyembah yang lain.

Ketiga bagian Pacul tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Kalau digabung, maka ketiganya memiliki arti, manusia hendaknya mampu menyingkirkan sifat-sifat buruknya, berikhtiar untuk mencari rezeki GUSTI ALLAH dan tidak melupakan untuk selalu berdoa dan menyembah GUSTI ALLAH. Bukankah kini kita mengetahui bahwa benda Pacul itu memiliki nilai filsafat yang tinggi?(*)

Tuesday, December 11, 2012

Ternyata Hakekat Hidup Itu Mencari Ketentraman

Dalam hidup ini manusia selalu dihadapkan pada godaan dan cobaan. Bahkan godaan dan cobaan itu senantiasa menyelimuti kehidupan setiap manusia. Godaan dan cobaan dalam lautan kehidupan itu tidak dapat dihindari dan harus dilalui. Untuk itulah, dalam mengarungi kehidupan ini, manusia memerlukan satu patokan sehingga tidak mudah terombang-ambil gelombang kehidupan yang kadang kecil dan kadang besar.

Apa patokan dalam hidup ini sehingga kita tidak dengan mudah terombang-ambing dalam gelombang kehidupan? Patokannya adalah carilah ketentraman.

Di era modern seperti saat ini, kita dituntut untuk berkompetisi. Hidup di dunia ini pasti ada 2 hal yang bertentangan. Ada siang, ada malam. Ada baik, ada buruk. Ada berhasil, ada gagal. Semua itu merupakan bumbu-bumbu kehidupan. Pahit rasanya kalau lagi mengalami kegagalan. Manis rasanya kalau mengalami keberhasilan. Semua itu bisa saja dirasakan manusia.

Tetapi tidak banyak orang yang mencari ketentraman. Manusia lebih banyak memburu hanya sebatas kebahagiaan. Salah seorang teman bertanya. Kok bisa begitu?

Contohnya, manusia bekerja itu hakekatnya untuk apa? Dia menjawab,"mencari uang". Kalau uang sudah didapat terus untuk apa? Dia menjawab: "Untuk memenuhi kebutuhan", Kalau kebutuhan hidupmu, istri dan anak-anakmu terpenuhi, apa yang kamu rasakan?Dia menjawab: "Saya merasa puas dan senang".Nah, di dalam rasa puas dan senang yang kamu rasakan itu, ujung-ujungnya apakah kamu merasakan ketentraman hidup?""Ya jelas, saya bisa berkumpul dengan anak dan istri, bisa bersendau gurau, semua kebutuhan tercukupi, rasa tenteram pasti ada di hati kita sekeluarga."Pertanyaan selanjutnya, ketika kamu sudah merasa tenteram. Apakah kamu menginginkan punya orang lain jadi milikmu?Ia menjawab: "Jelas tidak, karena saya tenteram, maka saya sudah merasa cukup".
Dari contoh pembicaraan di atas, kiranya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ternyata hakekat kita hidup ini adalah mencari ketentraman. Kita makan agar kita merasa tenteram. Kita tidur, agar merasa tenteram. Semua yang kita lakukan intinya adalah agar kita merasa tenteram. Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa yang berpaham Kejawen, katentreman itu merupakan piwulang kautaman.

Piwulang Kautaman
Iyo iku pituduh saka para leluhur
supaya Wong Jowo tansah marsudi kautamaning budi
pinuju ing katentremaning urip
bebrayan bebarengan titah GUSTI sing liya-liyane.

(Ajaran Keutamaan)
Iya itu petunjuk dari para leluhur
supaya orang Jawa senantiasa mengusahakan keutamaan budi
menuju ketentraman hidup
Hidup bersama manusia lainnnya yang diciptakan GUSTI ALLAH.

Dalam Agama Islam, manusia juga diajarkan untuk mencari ketenteraman. Bagaimana caranya? Caranya dengan sering mengingat GUSTI ALLAH.

“....[yaitu] Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan dzikir hati menjadi tentram.” [Ar-Ra’d:28]

Wednesday, October 10, 2012

Membangun Kepribadian Bangsa Berbudaya Buceng Guyub

DALAM budaya hidup bermasyarakat di tanah Jawa, masyarakatnya sudah tidak asing dengan yang namanya buceng. Buceng juga dikenal dengan nama tumpeng. Dalam ajaran Kejawen senantiasa masyarakat Jawa diajari untuk membaca apa yang ada disekelilingnya. Misalnya, saat mengadakan acara selamatan dengan tumpeng, apa hikmah yang bisa diambil dari acara itu. Bukan malah mengungkapkan dengan komentar negatif tanpa bisa mengambil hikmah di balik sebuah peristiwa.

Membaca, ya...membaca itulah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hingga muncul kata-kata 'belajar moco urip' (belajar membaca hidup). Hal itu sesuai dengan tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu ayat pertama yaitu Iqra. Dalam ayat tersebut, kata-kata Iqra tadi dibaca hingga 3 kali. Iqra...Iqra...Iqra....(Bacalah...Bacalah...Bacalah). Pertanyaannya? Apa yang harus dibaca? Mengapa kita wajib untuk membaca?

Jawabannya, ternyata yang dibaca bukanlah buku yang sudah ada....tetapi 'buku' kehidupan ini. Kita wajib untuk membaca karena dengan membaca maka manusia akan semakin memahami kekuasaan GUSTI ALLAH. Nah, kali ini kita diajari membaca budaya bangsa lewat selamatan dengan tumpeng. Apa hakekat yang terkandung di dalam sebuah tumpeng tersebut?

Jika Anda berkunjung ke makam sang Proklamator Bung Karno, maka setelah memasuki gapura Anda akan melihat di sebelah kanan ada 'ajaran' untuk membaca sebuah tumpeng dan ternyata lewat tumpeng itulah Bung Karno membangun negara Indonesia ini. Bung Karno yang saat itu ingin memperkuat negara Indonesia mendapatkan ilham lewat buceng guyub (kesatuan tumpeng) bahwa angkatan laut, darat dan udara harus bersatu seperti bersatunya buceng guyub agar Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki angkatan perang yang kuat. 

HAMBANGUN KAPRIBADEN BANGSA KANTHI BUDHAYA BUCENG GUYUB
Oleh: Ki Amang Pramoe Soedirdja
1. Jumbuh kalyan dhawuh para Nabi,
para Wali lan para Bentuah,
Suhada' dalah Gurune
Kang nyebarake ngelmu
Pangerane kang Maha Suci
Meling mring para anak
Trusing putu buyut
Leluhur mulyane mulya
Dudu bandha donya ingkang anganteni
Sowan ngarsa Pangeran

1. Berhubungan dengan petuah para Nabi,
para Wali dan para orang suci,
Suhada'dan para gurunya
yang menyebarkan ilmu
Tuhan yang maha Suci
mengingatkan pada para anak
terus ke cucu dan cicit
dan para leluhur yang dimulyakan
bukan harta dunia yang menanti
menghadap pada Tuhan

2. Pra Leluhur sowan ngarsa Gusti
Luwih mulya nalika anulat
Uripe anak turunne
Kang tansah guyub rukun
Reruntungan tulus ing ati
Tan ana Cecongkrahan
Serta tindak dudu
Tulung - tinulung sapadha
Tinebihna saking niat srei drengki
Luputa ing panandhang

2. Para Leluhur yang menghadap Tuhan
Lebih mulia ketika berdoa
hidup anak keturunannya
agar senantiasa hidup rukun dan bersatu
Bersama-sama tulus dalam hati
Tidak ada yang bertengkar
Serta berperilaku tidak baik
Tolong - menolong sesama
Dijauhkan dari niat iri dan dengki
Dihindarkan dari cobaan

3. Buceng Guyub tansah mengku werdi
Tanda gegayuhanne wong tuwa
Nggayuh guyub nak turunne
Lelambang wohing tuwuh
Tetuwuhan lumahing Bumi
Ana pala kesempar
Uga pala gandul
Pala pendhem uga sarta
Rinakit wujud bebucengan sayekti
Nuwuhke kasantosan

3. Buceng Guyub Selalu memiliki makna
Tanda keinginan orang tua
Mencapai kerukunan anak keturunannya
Sebagai lambang buah yang tumbuh
Tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi
Ada buah yang muncul di atas tanah
Ada buah yang menggantung
Ada buah yang tertimbun tanah juga
Dirakit dalam wujud buceng yang sesungguhnya
Melahirkan kesentausaan
4. Ana maneh kudu di sarati
Mawa kurban sato belehan
Kewan darat wujutanne
Tambahan kewan banyu
Beriberan jo nganti kari
Srana ngedohke balak
Raharja jinangkung
Sumber pitu unjukannya
Mundhut saking sumur tangga kanan kering
Nggo rakete bebrayan

4. Ada lagi yang harus menjadi syarat
Dengan hewan kurban yang disembelih
Wujudnya hewan darat
Ditambah hewan air
Hewan yang terbang jangan sampai ketinggalan
Sebagai sarana menjauhkan malapetaka
Dianugerahi keselamatan
Minumannya diambil dari 7 sumber mata air
Diambil dari sumur tetangga kiri-kanan
Untuk mempererat hubungan

5. Panyuwunan kanthi muja - muji
Marang Gusti muga kasembadan
Kepenak urip burine
Upama sugih mbrewu
Dennya golek kudu nastiti
Aja mung angger nabrak
lali saru siku
Elinga marang piwulang
Sapa nandhur bakal ngundhuh tembe mburi
Kuwi lakonne kodrat

5. Permohonan dengan memuja - memuji
Kepada Tuhan agar dikabulkan
Tenteram hidup di belakang hari
Umpama hidupnya kaya
Hendaknya cara mencarinya harus hati-hati
Jangan hanya sekedar menabrak tatanan
Lupa terhadap perilaku yang tidak senonoh
Ingatlah pada ajaran
Siapa yang menanam bakal memetik di kemudian hari
Itu sudah jalannya kodrat

6. Mula tansah paring sembah Gusti
Gusti ingkang akarya jagad
Awujud bebucenganne
Kang aran buceng guyub
Kang kadamel kanggo mranani
Guyube kulawarga
Trusing anak putu
Tangga teparo diundang
Ndoga bareng saperlu melu ngamini
Guyube kasembadan

6. Maka hendaknya selalu menghaturkan sembah pada Tuhan
Tuhan yang menciptakan alam semesta
Dalam wujud bebucengane
Yang disebut buceng guyub
Yang dibuat sebagai pertanda
Guyubnya keluarga
Hingga anak cucu
Tetangga kiri-kanan diundang
Berdoa bersama agar ikut mengamini
Guyubnya dikabulkan.(*)

Tuesday, October 2, 2012

Memahami Tataran Panembah Ala Kejawen

Sama halnya tataran ilmu yang ada di agama Islam, Kejawen pun juga memiliki tataran panembah. Dalam agama Islam dikenal tataran ilmu seperti syariat, thoriqot, hakekat dan makrifat. Lha bagaimana tataran panembah dalam Kejawen?

Setidaknya kita bisa melihat dari bait-bait serat Wedhatama yang dikarang oleh Sri Mangkunegowo. Dari bait-bait itu, kita bisa belajar tataran syariat itu bisa menyehatkan badan. Dengan badan yang sehat maka dimaksudkan akan mendapatkan ketentraman dan ketenangan hati.

Panembah yang lebih tinggi lagi adalah sembah kalbu. Dengan melakukan sembah kalbu, maka kita akan diberi anugerah oleh GUSTI ALLAH untuk memahami siapa yang mengasuh diri kita mulai sedulur papat hingga guru sejati. 

Panembah kalbu itu tidak perlu berwudhu seperti halnya sembah syariat. Bersucinya adalah dengan hati yang tulus dan ikhlas tanpa 'itung-itungan' dengan GUSTI ALLAH. Artinya tidak lagi memperhitungkan berapa pahala yang akan kita dapatkan... 

* Lire sarengat iku
kena uga ingaran laku
dhingin ajeg kapindone ataberi
pakolehe putraningsun
Nyenyeger badan mrih kaot
Sesungguhnya syariat itu
dapat disebut lelaku, yang bersifat ajeg dan tekun
Anakku, hasil syariat adalah dapat menyegarkan badan
agar lebih baik

* Wong seger badanipun
Otot daging kulit balung sungsum
Tumrah ing rah memarah
Antenging ati
Antenging ati nunungku
Angruwat ruweding batos

Badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,
mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.
ketenangan hati membantu
membersihkan kekusutan batin.

*Mangkono mungguh ingsun
Ananging ta sarehne asnafun
Beda beda panduk mandhuming dumadi
Sayekti nora jumbuh
Tekad kang padha linakon

Begitulah menurutku!
Tetapi orang itu berbeda-beda,
Beda pula garis nasib dari Tuhan.
Sebenarnya tidak cocok
Tekad yang pada dijalankan itu

* Nanging ta paksa tutur
Rehne tuwa tuwase mung catur
Bok lumuntur lantaraning reh utami
Sing sapa temen tinemu
Nugraha geming kaprabon
Namun terpaksa memberi nasehat
Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah
Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama
Barang siapa bersungguh-sungguh
akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan

* Samengko sembah kalbu
Yen lumintu uga dadi laku
Laku agung kang kagungan Narapati
Patitis tetesing kawruh
Meruhi marang kang momong
Nantinya, sembah kalbu itu
jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual
Olah (spiritual tingkat tinggi yang dimiliki Raja.
Tujuan ajaran ilmu ini; untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)

* Sucine tanpa banyu
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu
Pambukane tata titi ngati-ati
Atetep telaten atul
Tuladan marang waspaos
Bersucinya tidak menggunakan air
Hanya menahan nafsu di hati
Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada)
Teguh, sabar dan tekun,
Semua menjadi watak dasar, Teladan bagi sikap waspada.

* Mring jatining pandulu
Panduk ing ndon dedalan satuhu
Lamun lugu legutaning reh maligi
Lageane tumalawung
Wenganing alam kinaot

Dalam penglihatan yang sejati,
Menggapai sasaran dengan tatacara yang benar
Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi
Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan
Itulah, terbukanya 'alam lain'

* Yen wus kambah kadyeku
Sarat sareh saniskareng laku
Kalakone saka eneng ening eling
Ilanging rasa tumlawung
Kono adiling Hyang Manon
Bila telah mencapai seperti itu,
Syaratnya sabar segala tingkah laku
Berhasilnya dengan cara
Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,
pusatkan pikiran kepada energi Tuhan
Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, disitulah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa memasuki alam ghaib rahasia Tuhan).

* Gagare ngunggar kayun
Tan kayungyun mring ayuning kayun
Bangsa anggit yen ginigit nora dadi
Marma den awas den emut
Mring pamurunging kalakon

Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)
Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati,
Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.
Maka awas dan ingatlah
Dengan yang membuat gagal tujuan.(*)

Thursday, August 30, 2012

Mengupas Filosofi Punakawan

Banyak hal yang bisa kita ambil dari filosofi wayang. Secara tersirat empat sosok Punakawan memiliki arti filosofis yang tinggi. Dalam berbagai cerita di wayang, Punakawan adalah merupakan empat sosok yang memiliki kesetiaan tinggi pada Bendaranya (tuannya). Mereka selalu mengawal kemana pun tuannya pergi.

Sebelum kita membahas mengenai sosok Punakawan, terlebih dulu kita kupas arti dari Punakawan. Kata Punakawan juga bisa disebut Panakawan. Panakawan terdiri dari kata Pana = Memahami; Kawan: Teman. Teman dalam hal ini yang dimaksud adalah teman hidup yang senantiasa mendampingi kita. Secara tersirat, keempat sosok Punakawan itu merupakan gambaran dari pemahaman Kawruh Kejawen, Sedulur Papat, Lima Pancer. 

Keempat sosok Punakawan tersebut sangat terkenal, mereka antara lain Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka digambarkan sangat setia mengawal kemana pun ksatria yang menjadi tuannya pergi. Tuan dari Panakawan yang sering dikawal adalah Arjuna. Umumnya, para Panakawan mengiringi kemana pun Arjuna pergi untuk melakukan tapa brata.

Pertanyaan yang muncul, jika Punakawan/Panakawan digambarkan sebagai Sedulur Papat, lalu siapa makna filosofis bagi ksatria (Arjuna) yang dikawal Punakawan itu? Simbolisasi ksatria adalah diri manusia itu sendiri yang juga disebut Pancer.

Posisi pancer berada di tengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia hidup diawali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah.

Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil. Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Seperti halnya pada agama Islam yang juga dinyatakan di Al Qur'an bahwa "Pada setiap manusia ada penjaga-penjaganya".

Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan. Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais yang mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir, Paraning Dumadi.

Dhandhanggula

1. Ana kidung akadang premati, among tuwuh ing kawastanira, nganakaken saciptane, kakang kawah puniku, kang rumeksa ing awak mami, anekakaken sedya, pan kuwasanipun, adhi ari-ari ika, kang mayungi ing laku kuwasaneki, ngenakaken pengarah.

2. Ponang getih ing rahina wengi, angrowangi Allah kang kuwasa andadekaken karsane, puser kuwasanipun, nguyu-uyu sembawa mami, nuruti ing panendha, kuwasanireku, jangkep kadangingsun papat, kalimane pancer wus sawiji, nunggul sawujud ingwang. 

3. Yeku kadangingsun kang umijil, saking margaina sareng samya sadina awor enggone, sekawan kadangingsun, dadiya makdumsarpin sira, wawayangan ing dat reke dadiya kanthi, saparan datan pisah.(*)

Wednesday, August 29, 2012

Letak 'Pandawa Lima' dan 'Kurawa' di Tubuh Manusia

AJARAN Kejawen sangat sarat dengan sanepo/sanepan/perumpamaan dan juga filosofi. Setidaknya orang Jawa mesti memahami beberapa cerita wayang baik wayang kulit maupun wayang purwa. Dari kata-kata wayang saja, orang Jawa seharusnya sudah memahaminya karena wayang bermakna "wewayangan" /"ayang-ayang" (bayang-bayang). Bayangan siapa? Ya bayangan kehidupan seluruh manusia di dunia ini.

Dalam wayang terdapat beberapa filosofi seperti Pandawa yang juga sering disebut Pandawa Lima karena jumlahnya lima orang yang terdiri dari 1. Yudhistira; 2. Bima/Sena/Werkudara; 3. Arjuna/Janaka; 4. Nakula dan 5. Sadewa (Nakula dan Sadewa) disebut merupakan saudara kembar. Pandawa lima merupakan sosok penjelmaan dewa.

Disamping sosok yang berjiwa ksatrian dan merupakan penjelmaan dewa, terdapat pula filosofi sosok yang melambangkan angkara murka yang digambarkan lewat 100 sosok Kurawa/Korawa. Ke 100 sosok Kurawa tersebut antara lain 1. Duryodana (Suyodana); 2.Dursasana (Duhsasana); 3. Abaswa; 4. Adityaketu; 5. Alobha; 6. Anadhresya (Hanyadresya); 7. Anudhara (Hanudhara); 8. Anuradha; 9. Anuwinda (Anuwenda); 10. Aparajita; 11. Aswaketu; 12. Bahwasi (Balaki); 13. Balawardana; 14. Bhagadatta (Bogadenta); 15.Bima; 16. Bimabala; 17. Bimadewa; 18.Bimarata (Bimaratha); 19. Carucitra; 20. Citradharma; 21. Citrakala; 22. Citraksa; 23. Citrakunda; 24. Citralaksya; 25. Citrangga; 26. Citrasanda; 27. Citrasraya; 28. Citrawarman; 29. Dharpasandha; 30. Dhreksetra; 31. Dirgaroma; 32. Dirghabahu; 33. Dirghacitra; 34. Dredhahasta; 35. Dredhawarman; 36. Dredhayuda; 37. Dretapara; 38. Duhpradharsana; 39. Duhsa; 40. Duhsah; 41. Durbalaki; 42. Durbharata; 43. Durdharsa; 44. Durmada; 45. Durmarsana; 46. Durmukha; 47. Durwimocana; 48. Duskarna; 49. Dusparajaya; 50. Duspramana; 51. Hayabahu; 52. Jalasandha; 53. Jarasanda; 54. Jayawikata; 55. Kanakadhwaja; 56. Kanakayu; 57.Karna; 58. Kawacin; 59. Krat; 60. Kundabhedi; 61. Kundadhara; 62. Mahabahu; 63. Mahacitra; 64. Nandaka; 65. Pandikunda; 66. Prabhata; 67; Pramathi; 68. Rodrakarma (Rudrakarman); 69. Sala; 70. Sama; 71. Satwa; 72. Satyasanda; 73. Senani; 74. Sokarti; 75. Subahu; 76; Sudatra; 77. Suddha (Korawa); 78. Sugrama; 79. Suhasta; 80. Sukasananda; 81. Sulokacitra; 82. Surasakti; 83. Tandasraya; 84. Ugra; 85. Ugrasena; 86. Ugrasrayi; 87. Ugrayudha; 88. Upacitra; 89. Upanandaka; 90. Urnanaba; 91. Wedha; 92. Wicitrihatana; 93.Wikala; 94. Wikatanana; 95. Winda; 96. Wirabahu; 97. Wirada; 98. Wisakti; 99. Wiwitsu (Yuyutsu); dan 100. Wyudoru (Wiyudarus).

Sejatinya, filosofi sosok Pandawa Lima dan Kurawa yang sangat berlawanan itu bukan hanya cerita semata. Semua itu ada dalam tubuh setiap manusia.

Filosofi Pandawa Lima dalam tubuh setiap manusia yakni

1. Yudhistira (Lokasi perumpamaan Yudhistira di tubuh manusia adalah di OTAK)
Yudhistira merupakan saudara Pandawa yang paling tua dan penjelmaan dewa Yama. Sifatnya sangat bijaksana, memiliki moral yang sangat tinggi, suka memaafkan dan mengampuni musuh yang sudah menyerah.

FILOSOFI: Jika manusia ingin mulia dalam hidupnya, maka pergunakanlah otak secara bijaksana dan tidak mengumbar ambisi untuk meraihnya, melainkan mengutamakan strategi untuk meraih kemuliaan hidup di dunia.

2. Bima/Sena/Werkudara (Lokasi perumpamaan Bima/Sena/Werkudara di tubuh manusia adalah pada MATA)

Bima merupakan putra kedua yang merupakan penjelmaan dari dewa Bayu sehingga sering dijuluki Bayusutha. Tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar diantara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Lantaran kekuatannya, Bima sangat ditakuti oleh sosok Kurawa dan musuh-musuhnya.

FILOSOFI: Satu hal yang membuat manusia ditakuti adalah matanya. Ketika manusia marah dan matanya melotot, maka orang lain pun akan sedikit gemetar melihat sorot matanya.

3. Arjuna/Janaka (Lokasi perumpamaan Arjuna/Janaka di tubuh manusia adalah pada HATI KECIL/HATI NURANI)

Arjuna merupakan penjelmaan dewa Indra yang juga dewa perang. Sifat utama dari Arjuna adalah sering bertapa, mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan tidak pernah berbohong.

FILOSOFI: Kegemarannya bertapa membuat Arjuna sangat dekat dengan SANG PENCIPTA. Manusia yang sering mendengarkan hati kecilnya (nurani) maka ia cenderung memiliki keinginan mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. 

4-5 Nakula dan Sadewa (Lokasi perumpaan Nakula dan Sadewa di tubuh manusia adalah pada BUAH PELER KEMALUAN yang kembar).

Baik Nakula dan Sadewa adalah penjelmaan dewa Aswin yang merupakan dewa pengobatan. Keduanya memiliki sifat bijaksana dan senang melayani.

FILOSOFI: Manusia hendaknya bijaksana dalam menggunakan alat kelaminnya (tidak gonta-ganti pasangan). Dan memiliki kesetiaan untuk melayani pasangan hidupnya. 

Itulah sanepan/perumpaan lokasi Pandawa Lima di tubuh anak Adam. Lha terus dimanakah sanepan atau perumpamaan untuk Kurawa di tubuh manusia?

Sanepan/perumpamaan dan filosofi seratus sosok Kurawa itu ternyata berlokasi di hati besar manusia. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, manusia itu memiliki 2 hati yaitu hati besar dan kecil (hati nurani). Kedua hati itu memiliki kecenderungan yang sangat bertolak belakang. Hati besar senantiasa dipenuhi dengan sifat buruk, iri, dengki, ambisi, nafsu berbuat kejahatan dll. Sementara hati nurani cenderung mengajak untuk berbuat kebajikan, suka perdamaian, manembah pada GUSTI ALLAH dan menolong sesama.

Setiap hari dalam kehidupan sehari-hari di tubuh manusia, hati besar dan hati kecil (nurani) senantiasa berperang. Hati besar (yang dikuasai 100 sosok Kurawa yang penuh hawa nafsu itu) berperang melawan hati nurani (yang hanya terdapat Arjuna saja). Pertanyaannya, Bagaimana seorang Arjuna dapat mengalahkan 100 sosok Kurawa? Hal itulah yang membuat manusia cenderung untuk lebih mendengarkan hati besarnya daripada hati kecil (nuraninya). Namun satu hal yang perlu dicatat, meskipun hanya seorang diri dimana Arjuna harus melawan 100 sosok Kurawa, namun Arjuna bisa meraih kemenangan. Caranya, semuanya tergantung manusia itu sendiri untuk lebih mendengarkan suara 'Arjuna' di hati kecil (nurani) dan mengabaikan suara hati besar.(*)

Sunday, July 29, 2012

Hukum Karma, Ngunduh Wohing Pakarti

Hidup di dunia ini sama juga dengan hidup bermasyarakat. Hidup bermasyarakat itu diatur oleh aturan-aturan yang sudah ditetapkan dan tertulis, maupun aturan yang tidak tertulis. Aturan yang ditetapkan itu contohnya seperti undang-undang yang tertulis. Begitu juga dengan agama merupakan aturan kehidupan bermasyarakat untuk menjadi lebih baik dan tenteram.

Dalam hidup di dunia ini banyak hukum yang kita kenal. Contohnya, hukum pidana, hukum perdata yang semuanya termasuk dalam hukum di pengadilan. Ada lagi hukum-hukum pernikahan, hukum adat, hukum tata negara dan lain-lainnya. Dengan kata lain, banyak hukum yang ada di sekeliling manusia. Semua hukum tersebut ditetapkan bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia.

Dari semua hukum yang kita kenal itu, rata-rata seluruhnya bisa kita 'akali'. Maksud dari kata 'akali' tersebut adalah bisa dirubah oleh manusia yang bersangkutan. Contoh, hukum pidana, ketika seseorang dihukum 10 tahun penjara karena berbuat pidana, maka dengan duit (sogokan) maka seseorang hanya bisa dihukum hanya menjadi 2 tahun saja. Demikian juga dengan hukum-hukum lainnya semuanya bisa dinegosiasi dan dibicarakan sehingga lebih ringan dan lebih mudah.

Tapi dari sekian banyak hukum yang ada itu, ada satu hukum yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan pasti berlaku bagi umat manusia di dunia. Hukum itu disebut hukum karma. Hukum karma tidak bisa disogok oleh duit seperti halnya hukum-hukum lainnya. Hukum Karma adalah hak prerogatif GUSTI ALLAH pada setiap manusia yang hidup di dunia.

Orang Jawa mengenal betul kata-kata "Ngunduh Wohing Pakarti". Kata-kata itu memiliki arti yang luas. Tetapi jika disempitkan, maka arti dari kata-kata itu adalah "setiap perbuatan manusia di dunia akan menuai hasilnya".

Ada seorang teman berkata,"Lho nanti semua pembalasan itu kan akan dilakukan GUSTI ALLAH ketika manusia itu sudah mati?" Oh....tidak! pembalasan GUSTI ALLAH itu tidak akan menunggu manusia mati, baru dibalas. Di dunia ini pun GUSTI ALLAH akan membalasnya.

Contoh, jika kita sering merasa iba pada orang yang tak punya dan sering memberi makan mereka, suatu saat ketika kita tidak punya, maka GUSTI ALLAH akan membalasnya dan tiba-tiba kita diberi makan orang. Tetapi sebaliknya, jika kita suka memukul orang, maka GUSTI ALLAH akan membalasnya langsung di dunia dan tiba-tiba kita dipukul orang.

Dari hukum karma itulah, GUSTI ALLAH ingin menunjukkan pada umat manusia di dunia ini bahwa GUSTI ALLAH memiliki hukum yang seadil-adilnya yang tidak dapat disogok oleh duit dan harta kekayaan yang ada.