Google

Rabu, 20 April 2011

Membaca Tanda GUSTI ALLAH

GUSTI ALLAH memiliki sifat Welas-Asih (Rohman-Rohim). Saking sayangnya terhadap semua makhluk ciptaannya, dicukupiNYA semua kebutuhan hidup makhluknya. DipeliharaNYA setiap makhluk yang ada di muka bumi dengan sifat Welas-Asih. Bahkan GUSTI ALLAH juga Maha memperingatkan setiap bencana yang bakal terjadi pada makhluknya lewat tanda-tanda yang diberikanNYA. Pertanyaannya, mau dan mampukah kita membaca tanda-tanda dari GUSTI ALLAH itu?

Orang Jawa sudah terlatih sejak dulu untuk membaca tanda-tanda alam yang diberikan oleh GUSTI ALLAH. Contohnya, jika akan terjadi pergantian kepemimpinan dengan cara perang, orang Jawa sudah tahu terlebih dulu setelah melihat adanya tanda 'Lintang Kemukus' (Bintang Kemukus). Bahkan dalam ramalan Sri Aji Joyoboyo juga pernah disebutkan tanda tersebut yang berbunyi "Lintang Kemukus dawa ngalu-alu ono sisih wetan" (Lintang kemukus bergerak panjang di sebelah Timur).

Pada saat adanya 'Lintang Kemukus' itu, orang Jawa sudah menebak bakal terjadi gonjang-ganjing di Indonesia. Dan tanda-tanda dari GUSTI ALLAH itu memang benar-benar terjadi, dimana pada tahun 1965 terjadi pembunuhan besar-besaran yang menelan korban jutaan manusia di Indonesia yang dipicu dengan G30S PKI. Intinya, setiap kejadian mesti ada tandanya terlebih dulu. Tidak mungkin ada kejadian tanpa ada tanda yang diberikan dari GUSTI ALLAH.

Orang bijak menyatakan,"tidak ada asap, maka tidak ada api" (tidak ada akibat jika tanpa sebab). Nah, kata sebab yang dimaksud di sini adalah tanda-tanda yang diberikan oleh GUSTI ALLAH pada makhluknya. Contoh yang lebih konkrit lagi adalah, sebelum gunung Merapi meletus, hewan-hewan dengan nalurinya yang cukup tinggi sudah turun gunung. Kalau kita manusia tidak membaca tanda turunnya hewan dari gunung itu, maka sudah pasti kita akan terkena bencana. Intinya, pandai-pandailah kita membaca tanda-tanda alam yang diberikan GUSTI ALLAH.

ULAT BULU

Kini di Indonesia digegerkan dengan fenomena tersebarnya ulat bulu di mana-mana. Orang yang berpikiran secara logika akan menyatakan,"Fenomena ulat bulu yang marak tersebut terjadi karena tidak adanya keseimbangan ekosistem. Lantaran hujan, makhluk pemangsa ulat banyak yang tidak bisa bertahan dan mati sehingga ulat tersebar di mana-mana."

Pemikiran logis seperti itu tidak salah. Tetapi kita harus adil dalam membaca tanda alam. Kalau kita membaca dengan pemikiran logis, maka kita juga harus membaca tanda alam itu dengan pemikiran bathin. Sebelum membaca tanda fenomena ulat bulu itu, pertanyaan yang muncul adalah: Apa yang ingin disampaikan GUSTI ALLAH lewat fenomena tersebarnya ulat bulu itu?

Seperti sudah dijelaskan di bagian lalu, ulat merupakan hewan yang dianggap sebagian orang menjijikkan. Kebanyakan orang enggan untuk mendekati apalagi memegang ulat. Dan ulat jika sudah waktunya akan 'bertapa' dalam kepompong untuk selanjutnya meniti pada fase berikutnya menjadi kupu-kupu yang indah.

Jika dibaca secara roso, seolah-olah GUSTI ALLAH mengatakan bahwa sudah waktunya manusia untuk berdiam diri secara khusyuk menghadap padaNYA (seperti kepompong), janganlah mengikuti perilaku kebanyakan orang yang hanya memburu harta dunia melulu (tersebarnya ulat yang dianggap menjijikkan). Jika hal itu dilakukan, maka manusia akan memiliki ketakwaaan dan keimanan terbaik di mata GUSTI ALLAH (berubah menjadi kupu-kupu yang indah). Bagaimana Anda sendiri membaca dan menyikapi tanda-tanda dari GUSTI ALLAH lewat fenomena ulat bulu itu?